Sick Building Syndrome

Oleh: dr. Raymos Parlindungan Hutapea, MKK

Sejak tahun 1970-an, pekerja kantor di seluruh dunia telah sering mengeluhkan iritasi membran mukosa, kelelahan, dan sakit kepala ketika bekerja di gedung-gedung spesifik, dengan gejala perbaikan dalam beberapa menit sampai satu jam setelah meninggalkan gedung.(1) Keadaan ini kemudian dikenal dengan nama Sick building syndrome (SBS). Kedokteran okupasi pada tahun 1980 memperkenalkan konsep SBS sebagai masalah kesehatan akibat lingkungan kerja yang berhubungan dengan polusi udara, indoor air quality (IAQ) dan buruknya ventilasi gedung perkantoran.

Sick building syndrome adalah suatu keadaan yang menyatakan bahwa gedung-gedung industri, perkantoran, perdagangan, dan rumah tinggal memberikan dampak penyakit dan merupakan kumpulan gejala yang dialami oleh pekerja dalam gedung perkantoran berhubungan dengan lamanya berada di dalam gedung serta kualitas udara.

Beberapa gejala yang tampak yang dapat dijadikan indikasi terdapat SBS adalah :

  1. Sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, kesulitan berkonsentrasi, kulit terasa kering serta batuk kering yang tidak kunjung sembuh.
  2. Penyebab keluhan tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti
  3. Setelah penghuni gedung meninggalkan gedung, keluhan tersebut biasanya tidak lagi dirasakan.

Beberapa gejala Sick Building Syndrome

Penyebab dari SBS antara lain, kualitas udara dalam ruangan yang tercemar oleh radikal bebas (bahan kimiawi) yang berasal dari dalam maupun dari luar ruangan. Misalnya, pencemaran oleh mikroba ataupun disebabkan karena ventilasi udara yg kurang baik. Penyebab lainnya adalah polutan yg biasa mencemari ruangan, misalnya asap rokok, ozon yg berasal dari mesin fotocopy dan printer; volatile organics compounds yg berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, debu, gas CO, dll.

Dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan oleh SBS adalah keluhan saluran pernapasan, seperti, pneumonia, penyakit pada paru-paru dan penyakit kronis lainnya seperti gagal ginjal, gangguan sistem reproduksi, sistem syaraf, dan jantung.

Penatalaksanaan terbaik adalah pencegahan dan atau menghilangkan sumber kontaminasi penyebab SBS. Pekerja dianjurkan menghindari gedung yang dapat menimbulkan keluhan meskipun sulit dilakukan. Menghilangkan sumber polutan, memperbaiki laju ventilasi dan distribusi udara, membuka jendela sebelum menggunakan pendingin, menjaga kebersihan udara dalam gedung, pendidikan dan komunikasi terhadap pekerja merupakan beberapa cara mengatasi SBS.

Berikut ini beberapa tips untuk mencegah timbulnya SBS :

  1. Keluar gedung saat istirahat untuk menghirup udara segar
  2. Tempatkan mesin fotokopi di ruangan dengan ventilasi yang baik
  3. Buat ruangan khusus untuk merokok dan buat jalur ventilasi untuk asap buangannya sedemikian sehingga tidak tercampur dengan sirkulasi udara lainnya.
  4. Bukalah jendela secara berkala untuk membantu proses pertukaran udara dalam dan udara luar .
  5. Menjaga suhu dan kelembaban ruangan dalam batas dimana kontaminan biologis sulit bertahan hidup. (suhu 70oF dan kelembaban 40%-60%)
  6. Laporkan bila ada gejala-gejala SBS.

Daftar Pustaka :

  1. Cullen,MR. Kreiss,K. Indoor Air Quality. In : Levy,BS et al. Occupational and Environmental Health. 6th edition. Oxford University. 2011. p.141-43.
  2. Wolkoff, P. The Dichotomy of relative humidity on indoor air quality. 2007. [cited 2013 Dec 26]
  3. Sumedha M. Joshi. The Sick Building Syndrome. Indian J Occup Environ Med. 2008 August; 12(2): 61-64. [cited 2013 Dec 26]