Bahaya Pelarut Organik pada Pekerja

Oleh : dr. Ferdianto

Pelarut organik adalah bahan kimia yang berbentuk cair pada suhu kamar, berfungsi sebagai pelarut bahan kimia lainnya. Pelarut organik sangat beragam dengan struktur kimia yang bermacam-macam: golongan hidrokarbon aromatik (benzena, toluena, xylena, dll), hidrokarbon alifatik, aldehida, alkohol, eter, keton, glikol, hidrokarbon terhalogenisasi, dan lain-lain. Kesamaannya adalah kemampuannya melarutkan dan mendispersikan lemak, minyak, cat, dan lain-lain.(1)

Penggunaan Pelarut organik di bidang industri bermacam-macam, contohnya benzena, toluena, xylena (BTX) di gunakan sebagai lem, pelarut, cat, dan lain-lain. Penggunaan toluena sebagai sebagai pelarut cat, thinner, tinta, lem, bahan tambahan produk kosmetik, industri pestisida, crude petroleum, disinfektan, industri plastik, dan serat sintetik.(2)

Rute masuk ke dalam tubuh dapat melalui tiga mekanisme, yaitu inhalasi (terhirup), ingesti (tertelan), dan kontak langsung melalui kulit. Pelarut organik seperti benzena, toluena, xylena (BTX) mudah menguap, seringkali uap BTX terhirup oleh pekerja yang tidak mengunakan alat pelindung diri. Pelarut organik ini berbahaya bagi kesehatan pekerja karena dapat menyebabkan (tergantung jenisnya):

  • Iritasi hidung, tenggorokan, dan saluran napas
  • Iritasi dan inflamasi pada paru
  • Gangguan susunan saraf pusat
  • Gangguan susunan saraf tepi
  • Gangguan neurologis: gangguan pendengaran contohnya toluena
  • Gangguan sistem reproduksi
  • Beberapa bersifat karsinogenik contohnya benzena
  • Gangguan organ seperti ginjal, hati, dll
  • Iritasi mata
  • Iritasi kulit (3,4,5)

Gangguan kesehatan akut pada pekerja yang terpajan benzena secara berlebihan (overexposed workers) berupa sakit kepala, vertigo, mual, muntah. Pajanan kronis benzena dapat menyebabkan gangguan darah seperti anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. Kontak dalam waktu yang lama dengan kulit menyebabkan kerusakan kulit mirip akibat terbakar. Studi epidemiologi terhadap para pekerja yang terpajan benzena dalam periode waktu yang lama menunjukkan bertambahnya pekerja yang menderita kanker, seperti kanker darah (leukemia). (6)

Mengingat bahaya kesehatan yang ditimbulkan pelarut organik, maka dokter perusahaan atau dokter kesehatan kerja (okupasi) perlu melakukan langkah-langkah pengendalian agar dapat memberikan perlindungan pada pekerja dan mendeteksi penyakit secara dini.

Langkah pengendalian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Peningkatan pengetahuan pekerja mengenai bahaya potensial yang ada dan kesadaran penggunaan alat pelindung diri yang sesuai.
  • Monitoring lingkungan kerja. Monitoring lingkungan kerja adalah metode untuk menilai pajanan bahaya potensial di area kerja dengan cara mengukur keberadaan pajanan tersebut di udara, air dan tanah.
  • Monitoring biologi (Biomonitoring). Biomonitoring adalah metode untuk menilai pajanan bahaya potensial tempat kerja dan atau efeknya pada tubuh pekerja dengan cara mengukur keberadaan pajanan (umumnya bahan kimia), metabolit atau produk reaksi yang terdapat dalam jaringan atau specimen tubuh seperti darah, urin atau rambut.
  • Pemeriksaan Medical Check Up (MCU) sebelum kerja, berkala/tahunan, dan pemeriksaan khusus

Daftar Pustaka

  1. Soemarko DS. Penyakit Akibat Pajanan Pelarut Organik. Pertemuan Ilmiah Tahunan PERDOKI 2013
  2. United States Department of Health and Human Services. Toxicological profile for toluene. Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). September 2000
  3. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Toluene Air Quality Guidelines. Second Edition. 2000
  4. Canada’s National Occupational Health and Safety Resource. Health Effects of Benzene. Canadian Centre for Occupational Health and Safety. Disitasi tanggal 10 juni 2013 dari http://www.ccohs.ca
  5. ACGIH. Threshold Limit Values and Biological Exposure Indices. Cincinnati: ACGIH; 2011
  6. Chen M, Chan A. “China’s Market economic in command”: Footwear worker’s health in jeopardy. International Journal of Health Services, Volume 29, Number 4, Pages 793–811, 1999