Healthy food semakin relevan menjelang festive season seperti Valentine, Imlek, dan Lebaran. Pada momen ini, permintaan hampers, suguhan, dan produk manis biasanya meningkat. Konsumen tetap ingin produk yang enak dan terasa spesial, tapi tubuh tetap nyaman setelah mengonsumsi. Karena itu, produsen perlu menyiapkan produk manis yang lebih terukur dari sisi formulasi, porsi, dan transparansi informasi gizi, tanpa mengorbankan kualitas hantaran yang premium. Dalam artikel ini, Prodia OHI akan membahas prinsip pengembangan sweet healthy food product serta aspek regulasi dan kepatuhan yang perlu dipastikan sebelum produk masuk produksi dan distribusi.
Daftar isi
- Mengapa Healthy Food Semakin Menjadi Tren?
- Rekomendasi Pengembangan Sweet Healthy Food Product
- Tetapkan Ambang Batas Gizi Sejak Awal
- Kendalikan Gula
- Perkuat Kualitas Karbohidrat dan Tingkatkan Serat
- Turunkan Lemak Jenuh, Hindari Lemak Trans Industri
- Kelola Garam atau Natrium, Termasuk pada Produk Manis
- Terapkan Manajemen Porsi
- Kemasan yang Mendukung Porsi Sajian
- Utamakan Label Gizi yang Akurat
- Selaraskan Inovasi Produk dengan Potensi Pembelian Berulang
- Regulasi dan Kepatuhan yang Perlu Dipastikan Produsen
- Kesimpulan
Mengapa Healthy Food Semakin Menjadi Tren?
Healthy food semakin menjadi tren karena pola makan sehat menjadi fondasi untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup. Pola makan seimbang juga membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Karena itu, banyak orang mulai lebih selektif memilih makanan yang tetap enak, namun juga lebih aman dan bermanfaat untuk jangka panjang.
Dari sisi komposisi, berbagai bukti mendukung pola makan yang lebih banyak biji-bijian utuh, sayur, buah, dan kacang-kacangan. Pada saat yang sama, pola makan sehat juga menekankan pembatasan garam, gula, lemak jenuh, serta lemak trans. Kebiasaan ini juga berkaitan dengan performa belajar, produktivitas, dan kesehatan jangka panjang.
Perspektif sustainability juga ikut mendorong tren ini karena pola makan sehat cenderung memberi dampak lingkungan yang lebih rendah. Namun, akses makanan sehat masih menjadi tantangan di banyak tempat, termasuk negara berpendapatan rendah dan menengah. Di sisi lain, Ultra-Processed Food (UPF) semakin mudah ditemukan karena dukungan pemasaran yang agresif. Meski definisi makanan sehat bisa berbeda antar individu dan budaya, prinsip dasarnya tetap sama, yaitu mendorong pilihan yang lebih bernutrisi, lebih aman, dan lebih seimbang.
Rekomendasi Pengembangan Sweet Healthy Food Product
Anda tetap bisa membuat produk manis lebih sehat tanpa mengorbankan rasa. Kuncinya, tetapkan ambang batas nutrisi sejak formulasi dan jaga transparansi informasi gizi di label. Berikut prinsip yang bisa Anda pakai untuk mengembangkan sweet healthy food product.
Tetapkan Ambang Batas Gizi Sejak Awal
Tentukan target internal per sajian untuk gula, total kalori, garam atau natrium, lemak jenuh, dan lemak trans. Jadikan target ini sebagai batas keputusan tim R&D sejak awal. Selaraskan target tersebut dengan arah rekomendasi kesehatan populasi yang mendorong pembatasan gula, garam, serta lemak jenuh dan lemak trans dalam pola makan.
Kendalikan Gula
Kurangi gula secara bertahap agar konsumen lebih mudah menerima perubahan rasa. Lalu, perkuat profil rasa lewat rempah, citrus, aroma panggang, atau buah sebagai komponen rasa, bukan sekadar pemanis. Arah akhirnya tetap sama, yaitu mendukung pola konsumsi yang wajar dan tidak mendorong kebiasaan makan manis harian.
Perkuat Kualitas Karbohidrat dan Tingkatkan Serat
Arahkan sumber karbohidrat ke bahan yang lebih utuh dan alami, misalnya biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan buah. Tingkatkan serat agar profil gizi lebih seimbang, tidak hanya tinggi energi. Prinsip ini sejalan dengan arahan kesehatan global yang mendorong konsumsi sumber karbohidrat berkualitas dan kaya serat.
Turunkan Lemak Jenuh, Hindari Lemak Trans Industri
Ganti sumber lemak jenuh tinggi ke lemak tak jenuh yang lebih baik, misalnya dari minyak nabati, kacang, atau biji-bijian. Hindari lemak trans industri karena risikonya tinggi dan WHO menargetkan eliminasi lemak trans industri dari rantai pangan. Perhatikan juga proses pengolahan agar tidak memicu peningkatan lemak trans tambahan.
Kelola Garam atau Natrium, Termasuk pada Produk Manis
Prroduk manis tetap bisa menyumbang natrium dari garam, bahan pengembang, isian, atau topping. Karena itu, masukkan kontrol natrium ke checklist formulasi, bukan hanya untuk produk gurih. Fokusnya bukan sekadar menghindari makanan asin, tapi menjaga total asupan garam harian dari seluruh makanan.
Terapkan Manajemen Porsi
Rancang ukuran sajian yang realistis dan mudah dipatuhi, misalnya porsi tunggal, kemasan mini, atau potongan yang sudah diporsikan. Langkah ini membantu konsumen mengontrol asupan dalam satu waktu. Pada produk manis, risiko sering muncul karena frekuensi dan total asupan, bukan hanya dari satu komponen.
Kemasan yang Mendukung Porsi Sajian
Gunakan kemasan yang membantu konsumen patuh pada porsi per sajian, bukan hanya membuat produk terlihat premium. Format seperti porsi tunggal, mini size, atau multi-pack memudahkan kontrol konsumsi. Dengan begitu, produsen bisa mendorong pembelian berulang tanpa mendorong makan berlebihan.
Utamakan Label Gizi yang Akurat
Sajikan label gizi secara jelas dan konsisten per 100 g atau 100 ml. Jika Anda menetapkan porsi, tambahkan juga informasi per sajian dengan definisi porsi yang jelas. Pastikan label membantu konsumen mengambil keputusan dan tidak menyesatkan, jadi Anda perlu memverifikasi angka dan mengelola klaim dengan rapi.
Selaraskan Inovasi Produk dengan Potensi Pembelian Berulang
Saat Anda mengembangkan sweet healthy product, masukkan kompromi rasa, tekstur, daya simpan, dan harga ke strategi portofolio. Jangan memperlakukannya sebagai eksperimen satu produk. Dengan cara ini, reformulasi bisa berjalan konsisten dan tetap relevan untuk momentum musiman seperti Valentine, Imlek, dan Lebaran.
Regulasi dan Kepatuhan yang Perlu Dipastikan Produsen
Posisikan kepatuhan regulasi sebagai kontrol risiko, bukan sekadar kelengkapan administrasi. Kepatuhan berdampak langsung pada konsistensi mutu, keamanan, dan kepercayaan konsumen, terutama saat produk dipakai sebagai hadiah atau suguhan.
Di Indonesia, PP Nomor 1 Tahun 2026 memperkuat tata kelola keamanan pangan sebagai perubahan atas PP Nomor 86 Tahun 2019. Regulasi ini mencakup aspek seperti sanitasi pangan, pengawasan BTP, PRG, iradiasi pangan, kemasan pangan, hingga jaminan keamanan dan mutu pangan. Berikut beberapa aspek yang perlu Anda cek sebelum produksi dan distribusi.
BPOM dan Label Dasar yang Wajib
Pastikan kategori produk dan kanal distribusi selaras dengan skema perizinan yang relevan. Langkah ini mencegah benturan antara status registrasi, spesifikasi produk, dan ruang lingkup peredaran saat masuk ritel, marketplace, atau kanal B2B. Lalu, pastikan label memuat informasi wajib dan konsisten dengan dokumen resmi produk, karena label sering menjadi rujukan saat pemeriksaan.
Informasi Nilai Gizi (ING) yang Akurat
Anggap Informasi Nilai Gizi (ING) sebagai bagian dari kontrol kualitas berbasis data. ING merepresentasikan komposisi aktual per sajian, jadi produsen perlu memastikan angka gizi berasal dari metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Anda bisa memakai perhitungan berbasis formulasi yang tervalidasi atau uji laboratorium. Setelah itu, simpan bukti pendukungnya untuk kebutuhan audit dan pembuktian.
Batas Anjuran Konsumsi per Porsi
Pastikan angka per porsi tidak mendorong konsumsi harian menjadi berlebihan. Dengan begitu, produk tetap lebih aman untuk pola makan yang realistis dan mudah dipahami lewat acuan AKG yang berlaku. Dari sisi formulasi, fokuskan kontrol pada gula, garam atau natrium, lemak jenuh, dan lemak trans, karena komponen ini paling berpengaruh jika porsinya tidak dijaga.
Klaim Sehat dan Klaim Rendah
Jika Anda memakai klaim seperti rendah gula, tinggi serat, atau tanpa gula tambahan, pastikan klaim memenuhi kriteria dan definisi yang diakui. Selaraskan klaim dengan komposisi produk, ING, dan bukti teknisnya. Hindari penulisan yang menyesatkan karena klaim pada label dan materi promosi memiliki standar pengawasan tersendiri dan idealnya selalu berbasis data.
Kesimpulan
Sweet healthy product untuk festive season tetap bisa dibuat lebih sehat dan lebih dipercaya konsumen jika Anda menetapkan ambang batas gizi sejak awal, mengelola porsi lewat desain kemasan, serta memastikan label gizi akurat. Pada saat yang sama, produsen perlu menjaga kepatuhan BPOM dan tata kelola klaim secara tertib. Pendekatan ini membantu produsen menjaga kualitas produk, menurunkan risiko regulasi dan reputasi, serta membangun positioning yang realistis dan berkelanjutan.
Jika Anda ingin mengembangkan atau memvalidasi sweet healthy food product, Prodia OHI dapat membantu melalui layanan pengujian dan analisis di Prodia Food Health Laboratory, termasuk verifikasi informasi nilai gizi dan dukungan data untuk klaim produk sesuai kebutuhan. Pastikan nilai gizi healthy food Anda agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Prodia Food Health Laboratory melalui (0361) 4491 897 atau WhatsApp.


