Biomarker Asam Mandelat (MA) dan Fenilglioksilat (PGA) pada Pajanan Etilbenzen di Lingkungan Kerja

Styrene

Penulis: Muhammad Fadhil Fathiah, S.Si

(Research and Product Development Prodia OHI)

Pendahuluan

Etilbenzen merupakan senyawa kimia cair tidak berwarna yang secara alami terdapat dalam minyak bumi. Senyawa ini banyak digunakan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan bakar, pelarut, maupun bahan baku untuk produksi stirena. Karena sifatnya yang mudah menguap, etilbenzen dapat dengan cepat berpindah dari air dan tanah ke udara. Emisi etilbenzen ke atmosfer umumnya berasal dari pembakaran bahan bakar, gas, dan batu bara dalam proses industri. Senyawa ini dapat bertahan di udara hingga tiga hari sebelum terurai secara alami oleh sinar matahari.

Lingkungan kerja seperti industri minyak dan gas hampir dapat dipastikan memiliki kadar etilbenzen udara yang cukup tinggi. Selain itu, profesi seperti tukang pernis, pekerja pengecatan, dan pekerja pembuatan lem juga berpotensi tinggi terpajan etilbenzen. Produk seperti bensin, cat, lem karpet, produk otomotif, serta rokok diketahui mengandung etilbenzen dalam kadar tinggi. Pajanan dari berbagai sumber ini dapat menghasilkan efek kesehatan yang bervariasi tergantung pada durasi dan intensitas pajanan(ATSDR 2010).

Pajanan jangka pendek etilbenzen dalam kadar tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mata dan tenggorokan, serta menimbulkan gejala seperti pusing dan vertigo. Sementara itu, pajanan jangka panjang dalam konsentrasi rendah yang terjadi secara berulang berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada telinga bagian dalam yang berdampak pada gangguan pendengaran. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), pajanan etilbenzen jangka panjang di udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.

Baca Juga:  Spesial Bulan K3, Keringanan Biaya Hingga 15% Khusus Pemeriksaan di Prodia OHB Morowali (Klinik Sehat Berkah)!

Di Indonesia, pengawasan terhadap pajanan senyawa volatil seperti etilbenzen masih terbatas, khususnya di sektor informal dan industri kecil. Banyak pekerja yang tidak menyadari bahwa aktivitas harian seperti pengecatan, perekatan, atau pembakaran bahan bakar fosil dapat menyebabkan pajanan senyawa ini. Kurangnya pemeriksaan biomonitoring dan pemeriksaan kesehatan rutin menjadikan risiko ini tidak terdeteksi sejak dini.

Jalur Masuk dan Metabolisme Etilbenzen

Pajanan etilbenzen pada manusia terutama terjadi melalui inhalasi. Senyawa ini cepat diserap oleh paru-paru, dengan retensi mencapai sekitar 60%. Penyerapan dapat meningkat pada kondisi aktivitas fisik seperti berolahraga. Setelah diserap, etilbenzen dimetabolisme dalam tubuh, di mana sekitar 70% diubah menjadi asam mandelat (Mandelic Acid, MA) dan 20% menjadi asam fenilglioksilat (Phenylglyoxylic Acid, PGA). Kedua metabolit ini menjadi biomarker utama dalam biomonitoring pajanan etilbenzen. Karena ekskresi metabolit ini mencapai puncaknya pada akhir hari kerja, pengambilan sampel urin sebaiknya dilakukan pada akhir shift dan di akhir minggu kerja untuk mendapatkan data yang paling representatif. Deteksi MA dan PGA dapat dilakukan dengan metode analitik seperti High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), yang memberikan sensitivitas dan spesifisitas tinggi.

Baca Juga:  Promo Panel Hepatitis

Efek Toksik dan Biomarker Biologis

Sebagai senyawa organik volatil (Volatile Organic Compounds/VOC), etilbenzen diketahui memiliki efek toksik terhadap sistem saraf pusat dan organ hati. Paparan jangka pendek dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, serta menimbulkan gejala neurologis ringan seperti pusing dan vertigo. Sebaliknya, paparan jangka panjang pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen akibat kerusakan telinga bagian dalam.

Kadar MA dan PGA yang melebihi nilai ambang batas menunjukkan adanya paparan berlebih yang berpotensi menimbukan efek toksik kronis. Berdasarkan Permenkes RI No. 5 Tahun 2018 serta rekomendasi ACGIH tahun 2023, nilai ambang batas MA adalah 150 mg/g kreatinin dan PGA sebesar 40 mg/g kreatinin. Nilai ini dijadikan acuan dalam evaluasi risiko di lingkungan kerja dan wajib diperhatikan oleh industri yang berisiko tinggi terhadap paparan etilbenzen.

Jalur Metabolisme Etilbenzen

Metabolisme etilbenzen dipengaruhi oleh faktor spesies, jenis kelamin, dan status nutrisi. Penelitian yang dilakukan oleh Engström et al. (1984) menunjukkan bahwa manusia pajanan etilbenzen melalui inhalasi menghasilkan metabolit utama MA (64–71%) dan PGA (19–25%). Studi tersebut juga membandingkan hasil antar manusia, hewan uji laboratorium, dan model in vitro. Sementara itu, penelitian terkait metabolisme melalui jalur oral maupun dermal masih sangat terbatas. Jalur metabolisme etilbenzen dalam tubuh melibatkan reaksi hidroksilasi dan konjugasi. Secara khusus, etilbenzen mengalami reaksi hidroksilasi menjadi 1-feniletanol, yang dikatalisis oleh isoenzim sitokrom P450 terutama CYP2E1 dan CYP2B6. Metabolit tersebut kemudian diekskresikan melalui urin dalam bentuk MA dan PGA. Visualisasi skematik (Gambar 1) dari jalur metabolisme ini dapat menggambarkan bagaimana senyawa ini dimetabolisme dan dikeluarkan dari tubuh, serta memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk strategi biomonitoring dan proteksi kesehatan pekerja.

Baca Juga:  Pentingnya Biomonitoring bagi Industri Anda
Gambar 1. Skema Metabolisme Etilbenzen dalam Tubuh Manusia
Gambar 1. Skema Metabolisme Etilbenzen dalam Tubuh Manusia

Mengapa Hal ini Penting

Pemahaman terhadap jalur metabolisme dan identifikasi biomarker etilbenzen sangat penting dalam sistem kesehatan kerja. Deteksi dini melalui biomarker urin dapat menjadi langkah pencegahan untuk menghindari kerusakan organ jangka panjang. Dengan meningkatnya aktivitas industri di Indonesia dan belum optimalnya sistem pengawasan terhadap senyawa toksik dari lingkungan, pengembangan, dan implementasi pemantauan biomarker seperti MA dan PGA perlu menjadi prioritas dalam perlindungan pekerja serta masyarakat sekitar lokasi industri.

DAFTAR PUSTAKA

[ATSDR] Agency for Toxic Substances and Disease Registry. 2010. Toxicological profile for ethylbenzene. US: Department of Health and Human Services.

Engström, K., V. Riihimäki, and A. Laine. “Urinary disposition of ethylbenzene and m-xylene in man following separate and combined exposure.” International archives of occupational and environmental health 54.4 (1984): 355-363.

Engström, Kerstin M. “Metabolism of inhaled ethylbenzene in rats.” Scandinavian Journal of Work, Environment & Health (1984): 83-87.

Safe Work Australia. 2020. Health monitoring for ethyl benzene. Australia (AU): Safe Work Australia.