Self-Care di Tempat Kerja: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tuntutan Pekerjaan

International Self-Care Day yang diperingati setiap 24 Juli mengangkat tema “Your Mental Health Matters” pada tahun 2026. Tanggal ini dipilih sebagai simbol bahwa self-care perlu dilakukan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bukan hanya saat tubuh mulai memberi sinyal. 

Bagi pekerja, tema ini terasa semakin relevan di tengah beban kerja yang tinggi, deadline yang singkat dan berulang, serta batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang semakin tidak jelas. Kesehatan mental yang terabaikan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keselamatan, kualitas keputusan, dan produktivitas organisasi secara keseluruhan.

Memahami Self-Care Lebih dari Sekadar Me-Time

Self-care sering diartikan secara sempit sebagai kegiatan bersantai seperti liburan atau me-time. Padahal, cakupannya jauh lebih luas. WHO mendefinisikan self-care sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, serta menghadapi penyakit dan disabilitas, baik dengan maupun tanpa dukungan tenaga kesehatan.

Definisi ini menunjukkan bahwa self-care bersifat aktif dan preventif. Cakupannya mencakup promosi kesehatan, pencegahan dan pengendalian penyakit, hingga keputusan untuk mencari bantuan tenaga kesehatan ketika dibutuhkan. 

Dalam konteks kesehatan mental di tempat kerja, self-care berarti mengenali kondisi diri, mengelola tekanan kerja secara sehat, serta mengambil langkah konkret ketika muncul tanda-tanda yang perlu ditindaklanjuti.

Baca Juga:  Pentingnya Mengkampanyekan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Melaksanakannya

Kesehatan Mental Pekerja dan Dampaknya bagi Produktivitas

Kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan jiwa. WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan hidup, menyadari kemampuannya, belajar dengan baik, bekerja dengan baik, serta berkontribusi bagi komunitasnya.

Skala persoalannya cukup besar. WHO memperkirakan sekitar 15% orang dewasa usia kerja mengalami gangguan mental pada satu waktu tertentu. Secara global, sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun akibat depresi dan kecemasan, dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai satu triliun dolar AS per tahun yang sebagian besar berasal dari penurunan produktivitas.

Dampak kesehatan mental yang buruk tidak berhenti pada aspek emosional. WHO mencatat bahwa kondisi ini dapat memengaruhi fungsi kognitif, perilaku, kesehatan fisik, serta kemampuan seseorang untuk bekerja secara aman. 

Bagi pekerja di lingkungan berisiko tinggi, penurunan konsentrasi dan kemampuan menilai situasi dapat berimplikasi langsung pada keselamatan kerja.

Praktik Self-Care yang Dapat Diterapkan Pekerja

Self-care di tempat kerja tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Beberapa kebiasaan sederhana berikut dapat membantu menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas kerja.

  • Kenali sinyal tubuh dan pikiran. 

Kelelahan yang tidak membaik meski sudah beristirahat, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau kehilangan motivasi terhadap pekerjaan yang sebelumnya dinikmati dapat menjadi tanda bahwa kondisi mental perlu diperhatikan.

  • Tetapkan batas yang realistis. 

Menjaga batas antara jam kerja dan waktu pribadi membantu tubuh dan pikiran memiliki ruang untuk pulih. Kebiasaan memeriksa pesan pekerjaan di luar jam kerja secara terus-menerus dapat memperpanjang kondisi siaga yang melelahkan.

  • Jaga kebutuhan dasar. 
Baca Juga:  Pentingnya Mengelola Stres Kerja untuk Kesehatan dan Produktivitas

Tidur yang cukup, pola makan teratur, dan aktivitas fisik ringan merupakan fondasi kesehatan mental yang sering diabaikan saat beban kerja meningkat.

  • Bangun koneksi sosial. 

Berbicara dengan rekan kerja, atasan, atau orang terdekat mengenai tekanan yang dirasakan dapat mengurangi beban psikologis sekaligus membuka peluang mendapatkan dukungan.

  • Jangan tunda mencari bantuan. 

Mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari self-care yang bertanggung jawab.

Peran Perusahaan dalam Mendukung Self-Care Pekerja

Self-care individu akan sulit berjalan jika lingkungan kerjanya tidak mendukung. Oleh sebab itu, perusahaan memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan pekerja menjaga kesehatan mentalnya.

Langkah yang dapat ditempuh perusahaan mencakup pengelolaan beban kerja yang realistis, kejelasan peran dan ekspektasi, serta pengaturan jam kerja yang wajar. 

WHO dalam pedomannya mengenai kesehatan mental di tempat kerja menekankan pentingnya intervensi organisasi untuk mempromosikan kesehatan mental, mencegah gangguan kesehatan mental, serta memungkinkan pekerja dengan kondisi kesehatan mental tertentu untuk tetap berpartisipasi dan berkembang dalam pekerjaannya.

Selain itu, perusahaan perlu membangun budaya kerja yang mengurangi stigma. Ketika pekerja merasa aman untuk menyampaikan kondisinya tanpa takut dinilai, permasalahan dapat ditangani lebih awal sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius. Penyediaan akses terhadap layanan kesehatan mental, termasuk skrining berkala, menjadi bentuk dukungan yang konkret dan terukur.

Mengapa Skrining Kesehatan Mental Menjadi Bagian dari Self-Care

Banyak perusahaan telah rutin melakukan pemeriksaan kesehatan fisik melalui Medical Check Up, tetapi belum semua menyertakan aspek kesehatan mental di dalamnya. Padahal, gangguan kesehatan mental sering berkembang secara perlahan dan tidak selalu disadari oleh pekerja sendiri.

Baca Juga:  Tips Menentukan Kriteria Karyawan yang Dapat Divaksin

Skrining kesehatan mental berfungsi sebagai alat deteksi dini yang memberikan gambaran objektif mengenai kondisi psikologis pekerja. Hasil skrining dapat membantu mengidentifikasi kelompok pekerja yang membutuhkan dukungan lebih lanjut, sekaligus menjadi dasar bagi perusahaan untuk merancang program kesehatan mental yang tepat sasaran.

Bagi pekerja, skrining ini merupakan bentuk self-care yang paling konkret. Sama seperti memeriksa kadar kolesterol atau gula darah, mengetahui kondisi kesehatan mental secara objektif memungkinkan langkah perbaikan diambil lebih awal, sebelum keluhan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Self-Care sebagai Tanggung Jawab Bersama

Peringatan International Self-Care Day yang tahun ini mengusung tema “Your Mental Health Matters” menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. 

Bagi pekerja, self-care berarti mengenali kondisi diri dan mengambil langkah nyata untuk menjaganya. Sedangkan bagi perusahaan, self-care pekerja hanya dapat berjalan optimal jika didukung oleh lingkungan kerja yang sehat dan akses terhadap layanan yang memadai.

Menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas bukan hanya soal kesejahteraan individu, tetapi juga investasi bagi keselamatan, kualitas kerja, dan keberlanjutan organisasi. Perhatikan kesehatan mental Anda dan tim di tempat kerja agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama.

Jadikan kesehatan mental sebagai bagian dari program kesehatan kerja di perusahaan Anda agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama.