Kesuburan pria adalah bagian penting dari kesehatan reproduksi yang sering baru diperhatikan ketika mulai merencanakan kehamilan. Padahal, kualitas sperma dan kemampuan sistem reproduksi pria sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, kondisi kesehatan umum, serta faktor lingkungan kerja. Dengan memahami apa saja yang memengaruhi kesuburan dan kapan harus waspada, Anda dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini. Dalam artikel ini, Prodia OHI akan membahas kesuburan pria, faktor risikonya, serta berbagai cara yang dapat Anda lakukan untuk menjaganya.
Daftar isi
Apa Itu Kesuburan Pria?
Kesuburan pria pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan pasangan untuk hamil dalam jangka waktu tertentu. Secara sederhana, kesuburan pria dipengaruhi oleh jumlah, kualitas, dan pergerakan sperma, serta apakah sperma tersebut dapat mencapai dan membuahi sel telur melalui hubungan seksual yang teratur tanpa kontrasepsi. Jika salah satu bagian dari sistem reproduksi pria terganggu, peluang pasangan untuk hamil dapat menurun.
Infertilitas adalah penyakit pada sistem reproduksi pria atau wanita yang didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Infertilitas dapat terjadi karena faktor dari pihak laki-laki, perempuan, maupun penyebab yang tidak jelas. Beberapa penyebab infertilitas sebenarnya dapat dicegah. Penanganan infertilitas sering kali melibatkan prosedur in-vitro fertilization (IVF) dan jenis reproduksi berbantu medis lainnya.
Tanda-Tanda Kesuburan Pria Mungkin Terganggu
Kesuburan pria sering kali baru dicurigai bermasalah ketika pasangan sulit hamil, meskipun dari luar Anda merasa baik-baik saja. Berikut beberapa tanda dan gejala yang dapat Anda perhatikan.
- Sulit memiliki keturunan meski sudah berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi selama 12 bulan.
- Masalah fungsi seksual seperti kesulitan ejakulasi, volume cairan ejakulasi yang sangat sedikit, penurunan gairah seksual, atau kesulitan mempertahankan ereksi.
- Nyeri, bengkak, atau muncul benjolan di area testis dapat menandakan adanya pembuluh darah yang melebar, infeksi, atau kondisi lain yang memengaruhi produksi dan aliran sperma.
- Infeksi saluran napas, seperti batuk pilek berat atau infeksi paru tanpa sebab jelas yang berulang dapat berkaitan dengan kelainan bawaan tertentu.
- Ketidakmampuan membedakan atau mencium bau (anosmia) dapat mengarah pada gangguan hormonal atau kelainan bawaan.
- Pembesaran payudara pada pria atau ginekomastia dapat menjadi tanda ketidakseimbangan hormon, misalnya peningkatan hormon estrogen atau penurunan testosteron.
- Berkurangnya rambut wajah dan tubuh atau tanda lain gangguan kromosom dan hormon dapat mengindikasikan produksi hormon pria yang tidak optimal.
- Jumlah sperma yang lebih rendah dari normal, misalnya kurang dari 15 juta per mililiter atau total kurang dari 39 juta per ejakulasi.
Tips Gaya Hidup untuk Meningkatkan Kesuburan Pria
Menjaga kesuburan pria tidak hanya bergantung pada pemeriksaan medis, tetapi juga pada kebiasaan sehari-hari yang Anda jalani. Berikut beberapa perubahan gaya hidup yang dapat Anda lakukan untuk membantu mendukung kualitas sperma dan peluang kehamilan.
Jaga Berat Badan Tetap Ideal
Upayakan berat badan tetap ideal dengan mengatur pola makan dan rutin bergerak. Penurunan berat badan yang bertahap pada pria dengan obesitas dapat membantu menyeimbangkan hormon dan memperbaiki kualitas sperma.
Berhenti Merokok
Hindari rokok maupun vape karena zat beracun di dalamnya dapat menurunkan jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma yang sehat. Berhenti merokok memang proses, tetapi setiap pengurangan yang konsisten sudah menjadi langkah positif bagi kesuburan dan kesehatan jantung Anda.
Batasi Konsumsi Alkohol
Batasi konsumsi alkohol sesuai anjuran atau, bila memungkinkan, kurangi lebih jauh frekuensi dan jumlahnya. Pola minum yang lebih terkontrol membantu menjaga kadar testosteron lebih stabil dan menurunkan risiko gangguan kesuburan.
Perbaiki Pola Makan Harian
Perbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta lemak sehat dari ikan, alpukat, dan kacang-kacangan. Di saat yang sama, kurangi makanan ultra-proses, gorengan, dan lemak jenuh tinggi yang berkaitan dengan penurunan kualitas sperma.
Lakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur
Usahakan berolahraga setidaknya 150 menit per minggu dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang. Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan, kesehatan pembuluh darah, dan mendukung produksi hormon pria.
Kelola Stres dan Jaga Kualitas Tidur
Cari cara yang sehat untuk mengelola stres, misalnya melalui teknik relaksasi, olahraga ringan, hobi, atau berbicara dengan orang yang Anda percaya. Usahakan tidur cukup dan teratur karena kurang tidur kronis dapat mengganggu regulasi hormon dan menurunkan kualitas sperma.
Lindungi Area Testis dari Panas Berlebih
Hindari kebiasaan menaruh laptop di pangkuan, sering berendam air panas, atau memakai celana yang sangat ketat sepanjang hari. Pilih pakaian yang lebih longgar dan beri jeda bila Anda bekerja di lingkungan bersuhu tinggi agar suhu di sekitar testis tetap optimal.
Kurangi Pajanan Polusi dan Bahan Kimia Berbahaya
Jika memungkinkan, gunakan masker di area dengan polusi tinggi dan biasakan mencuci tangan sebelum makan setelah terpajan debu atau bahan kimia. Di rumah, kurangi penggunaan plastik untuk makanan panas dan pilih wadah yang lebih aman untuk menyimpan makanan.
Lingkungan Kerja dan Kesuburan Pria
Selain faktor pribadi, kesuburan pria juga dapat dipengaruhi oleh kondisi dan risiko di lingkungan kerja sehari-hari. Berikut beberapa aspek lingkungan kerja yang sebaiknya Anda dan perusahaan perhatikan.
Pajanan Panas di Tempat Kerja
Bekerja di area bersuhu tinggi seperti dapur produksi, pabrik, ruang boiler, atau sering menggunakan seragam tebal dapat meningkatkan suhu di area skrotum dan mengganggu proses pembentukan sperma. Penting untuk memastikan ventilasi yang baik, istirahat berkala di area yang lebih sejuk, serta penggunaan pakaian kerja yang tidak terlalu menjerat.
Pajanan Bahan Kimia dan Polutan
Bahan kimia tertentu seperti pelarut, pestisida, logam berat, dan uap industri dapat memengaruhi hormon dan kualitas sperma jika terpajan terus-menerus. Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai, ventilasi memadai, serta kepatuhan terhadap SOP keselamatan kerja menjadi kunci untuk mengurangi risiko ini.
Posisi Duduk Lama dan Kurang Bergerak Saat Kerja
Pekerjaan yang mengharuskan Anda duduk lama, seperti kerja kantoran atau mengemudi jarak jauh, dapat memperburuk sirkulasi darah dan meningkatkan suhu lokal di area panggul. Usahakan untuk berdiri, melakukan peregangan ringan, atau berjalan sebentar setiap beberapa jam agar sirkulasi darah tetap baik.
Stres Kerja yang Tinggi dan Berkepanjangan
Tekanan target, jam kerja panjang, dan konflik di tempat kerja dapat memicu stres kronis yang mengganggu regulasi hormon reproduksi. Upaya seperti manajemen beban kerja, komunikasi yang lebih sehat di tim, dan akses ke konseling atau employee assistance program dapat membantu mengurangi dampaknya pada kesehatan reproduksi.
Kurangnya Edukasi Kesehatan Reproduksi di Tempat Kerja
Banyak pekerja pria tidak menyadari bahwa kebiasaan kerja tertentu dapat berdampak pada kesuburan, sehingga perubahan perilaku sering terlambat dilakukan. Program edukasi kesehatan kerja yang menyentuh topik kesuburan pria, gaya hidup sehat, dan risiko pajanan di tempat kerja dapat membantu pekerja mengambil keputusan yang lebih bijak.
Minimnya Akses Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Tanpa medical check up rutin, penurunan kesuburan atau gangguan hormon sering baru terdeteksi saat keluhan sudah cukup berat atau ketika pasangan mulai kesulitan hamil. Fasilitas pemeriksaan kesehatan berkala, dan bila perlu tambahan analisa sperma yang mudah diakses melalui program perusahaan, dapat membantu deteksi dini dan penanganan lebih cepat bila ada masalah pada kesuburan pria.
Kesimpulan
Kesuburan pria tidak hanya dipengaruhi genetik. Kebiasaan harian juga berperan, seperti pola makan, olahraga, rokok dan alkohol, tidur, serta pajanan panas dan bahan kimia di tempat kerja. Perubahan kecil yang konsisten dapat membantu, misalnya menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan mengelola stres. Anda juga perlu lebih waspada terhadap risiko pajanan di lingkungan kerja. Jika Anda mengenali tanda awal gangguan kesuburan dan segera berkonsultasi, peluang mendapat penanganan tepat waktu akan lebih besar.
Jika Anda dan pasangan sedang merencanakan kehamilan atau memiliki kekhawatiran terkait kesuburan pria, jangan menunda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi, termasuk evaluasi hormon dan analisa sperma bila diperlukan. Lakukan pemeriksaan kesuburan pria dengan analisa sperma agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi (021) 579 573 51/53 (Prodia OHC Jakarta) dan (021) 898 405 84/86 (Prodia OHC Cikarang) atau melalui WA OHC Jakarta dan WA OHC Jababeka.


