Prodia Dorong Perusahaan Kelola Risiko Psikososial untuk Mewujudkan Tempat Kerja yang Lebih Sehat dan Berkelanjutan

Seminar Risiko Psikososial

Perubahan lingkungan kerja, tuntutan produktivitas, beban kerja, serta dinamika organisasi menjadikan kesehatan mental pekerja bagian penting dalam pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Perusahaan perlu mengenali risiko psikososial dan mengelolanya melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik pekerjaan serta kebutuhan pekerja.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Prodia Occupational Health Indonesia (Prodia OHI) dan Prodia Widyahusada, yang merupakan sister company dalam Prodia Group, bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) menyelenggarakan seminar pada 30 September 2026 di Jakarta. Seminar bertajuk “Memilih dan Menggunakan Kuesioner Psikososial secara Bertanggung Jawab: Perspektif Validitas, Reliabilitas, dan Implementasi di Tempat Kerja” ini menekankan pentingnya pemilihan instrumen, interpretasi hasil, serta tindak lanjut yang tepat dalam pengelolaan kesehatan pekerja.

Risiko Psikososial sebagai Bagian dari Kesehatan Kerja

Faktor psikososial berkaitan dengan bagaimana pekerjaan dirancang, diorganisasikan, dan dikelola, serta hubungan sosial yang terbentuk di tempat kerja. Faktor tersebut dapat mencakup beban kerja, tuntutan pekerjaan, dukungan atasan, hubungan antarpekerja, hingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Menurut World Health Organization (WHO), risiko terhadap kesehatan mental di tempat kerja dapat berkaitan dengan beban kerja berlebihan, jam kerja panjang atau tidak fleksibel, ketidakjelasan peran, serta terbatasnya dukungan dari rekan kerja dan atasan. Oleh karena itu, pengelolaannya perlu memperhatikan kondisi organisasi yang memengaruhi keseharian pekerja.

Pemahaman ini menjadi landasan pembahasan seminar. Kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari kesehatan kerja, sehingga upaya pencegahan dan penanganannya dapat berjalan bersama perlindungan kesehatan fisik.

Baca Juga:  Pentingnya Biomonitoring bagi Industri Anda

Mempertemukan Perspektif Akademisi dan Praktisi

Seminar diselenggarakan secara luring dan daring dengan melibatkan praktisi dan akademisi kesehatan kerja, dokter perusahaan, profesional Human Resources (HR), serta perwakilan perusahaan.

Dr. dr. Pribadi Wiranda Busro, Sp.BTKV., Subsp. JPK(K) dari FKUI membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya menjembatani keilmuan dan praktik sehari-hari dalam kesehatan kerja. Beliau menyampaikan bahwa perhatian terhadap kesehatan pekerja perlu mencakup aspek mental yang selama ini kerap kurang mendapat perhatian dibandingkan aspek fisik.

Dr. Bertha Pangaribuan, M.Si. dari Prodia OHI turut menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan pilar yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kebutuhan untuk meningkatkan perhatian terhadap deteksi dini kesehatan mental pekerja menjadi salah satu alasan penyelenggaraan seminar ini.

Indriyanti Rafi Sukmawati, Commercial & Partnership Director PT Prodia Widyahusada, menyampaikan bahwa kesehatan fisik dan mental pekerja berperan dalam mendukung produktivitas. Produktivitas yang terjaga kemudian dapat mendukung keberlanjutan perusahaan.

Kuesioner Psikososial Perlu Digunakan secara Bertanggung Jawab

Salah satu pembahasan utama seminar adalah penggunaan instrumen kuesioner untuk skrining psikososial pada populasi pekerja. Kuesioner perlu dipilih berdasarkan tujuan pemeriksaan dan bukti kualitas pengukurannya.

Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K) membawakan materi mengenai implementasi dan validasi skrining psikososial pada populasi pekerja menggunakan instrumen kuesioner. Beliau menekankan pentingnya memperhatikan validitas, reliabilitas, serta kesesuaian instrumen dengan karakteristik penggunanya.

Memperhatikan Validitas dan Reliabilitas

Secara sederhana, validitas berkaitan dengan dukungan bukti bahwa instrumen dapat digunakan untuk menilai aspek yang ingin diukur. Sementara itu, reliabilitas berkaitan dengan konsistensi pengukurannya.

Keduanya perlu diperhatikan agar hasil kuesioner dapat ditafsirkan sesuai tujuan penggunaannya. Penelitian mengenai pengembangan kuesioner faktor psikososial yang tersedia melalui CDC/NIOSH juga menunjukkan pentingnya penilaian isi oleh ahli, pemahaman responden terhadap pertanyaan, dan pengujian konsistensi instrumen.

Baca Juga:  Strategi Adaptasi Perusahaan Terhadap Cuaca Panas untuk Menjaga Produktivitas dan Kesehatan Pekerja

Menyesuaikan Instrumen dengan Karakteristik Pekerja

Prof. Dewi menjelaskan bahwa skrining pada pekerja memiliki konteks berbeda dari masyarakat umum karena sumber stres atau stressor yang dihadapi dapat berbeda. Karakteristik tugas, pola kerja, dan lingkungan pekerjaan perlu dipertimbangkan saat memilih instrumen.

Perusahaan juga perlu memahami apakah tujuan penilaian adalah mengenali faktor psikososial dalam pekerjaan atau menilai gejala kesehatan mental pekerja. Tujuan yang jelas membantu menentukan instrumen dan tindak lanjut yang sesuai.

Menggabungkan Hasil dengan Informasi Lain

Kuesioner tidak dapat berdiri sendiri. Hasilnya perlu dipahami bersama informasi mengenai pekerja dan kondisi pekerjaan.

Health and Safety Executive (HSE) menjelaskan bahwa survei merupakan salah satu sumber informasi dalam penilaian risiko stres kerja. Hasil survei menjadi titik awal untuk pembahasan lebih lanjut dan perlu digunakan bersama sumber informasi lain.

Hasil Skrining Tidak Sama dengan Diagnosis

  1. Royanul Arief, MM (K3L) dari SKK Migas menegaskan bahwa hasil skrining psikososial tidak sama dengan diagnosis. Hasil tersebut perlu diikuti asesmen lebih lanjut untuk menentukan apakah terdapat kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan.

Perbedaan ini penting dalam penggunaan hasil pemeriksaan di perusahaan. Hasil skrining saja belum dapat dijadikan dasar untuk menetapkan diagnosis maupun menentukan kelaikan kerja seseorang. Skrining perlu dipahami sebagai bagian awal dari proses penilaian. 

Temuan yang memerlukan perhatian harus ditindaklanjuti melalui evaluasi profesional dengan mempertimbangkan kondisi pekerja dan tuntutan pekerjaannya. Pendekatan yang bertanggung jawab membantu perusahaan menghindari kesimpulan yang terlalu cepat sekaligus memastikan pekerja memperoleh arahan penanganan yang sesuai.

Relevansi Risiko Psikososial terhadap Keselamatan Kerja

Pembahasan dr. Royanul juga menyoroti hubungan kesehatan mental dengan keselamatan, khususnya dalam industri minyak dan gas bumi.

Beliau menjelaskan bahwa kelelahan mental yang tidak dicegah dan ditangani dapat berdampak pada pekerja, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Oleh karena itu, perhatian terhadap kondisi mental menjadi bagian penting dalam menjaga kesiapan pekerja menjalankan tugas.

Baca Juga:  Fokus Puasa Intermittent - Waktu Makan atau Apa yang Dimakan?

Konteks ini relevan bagi pekerjaan dengan tuntutan tinggi, sistem kerja shift, lokasi terpencil, dan pajanan terhadap risiko operasional. Pengelolaan kesehatan pekerja perlu mempertimbangkan karakteristik tersebut agar program yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Kolaborasi untuk Mendorong Tindak Lanjut yang Berkelanjutan

Sesi diskusi dipandu oleh dr. Adhi Pasha Dwitama, MKK sebagai moderator. Selain Prof. Dewi dan dr. Royanul, seminar menghadirkan Dwiva Yulia, M.Psi., Psikolog yang memberikan perspektif psikologi industri, serta dr. Iwan Sugiarta, Sp.Ok yang membahas analisis data kesehatan.

Keterlibatan berbagai bidang menunjukkan bahwa pengelolaan risiko psikososial membutuhkan kolaborasi. Manajemen, HR, dokter perusahaan, tenaga kesehatan kerja, dan pekerja memiliki peran dalam mengenali kebutuhan serta menjalankan perbaikan.

Tindak lanjut juga perlu mencakup kondisi pekerjaan. WHO merekomendasikan intervensi organisasi yang secara langsung menilai dan mengurangi risiko terhadap kesehatan mental dalam lingkungan kerja, disertai keterlibatan pekerja.

Melalui seminar ini, Prodia mendorong perusahaan mengembangkan perhatian terhadap kesehatan mental menjadi strategi kesehatan kerja yang terintegrasi. Prosesnya mencakup pengenalan risiko, pemilihan instrumen, penilaian hasil, dan tindak lanjut secara berkesinambungan.

Kesimpulan

Seminar Prodia menegaskan bahwa pengelolaan risiko psikososial membutuhkan instrumen yang sesuai, penggunaan yang bertanggung jawab, serta tindak lanjut yang tepat. Validitas dan reliabilitas kuesioner perlu diperhatikan, sementara hasil skrining harus dibedakan dari diagnosis dan penilaian kelaikan kerja.

Kolaborasi antara perusahaan, tenaga kesehatan, dan pekerja menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Prodia OHI mendukung kebutuhan kesehatan pekerja melalui layanan Mental Health Screening dalam Specific Occupational Program. Kenali kebutuhan kesehatan mental pekerja dan rencanakan tindak lanjut yang sesuai agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan kesehatan kerja, hubungi Prodia OHI melalui (021) 3192 4388 atau halaman layanan pelanggan.