Bukan Cuma Jernih, Ini Cara Mengetahui Kualitas Air Sebenarnya!

Ini Cara Mengetahui Kualitas Air Sebenarnya

Kualitas air sering orang salahpahami hanya dari tampilan yang jernih. Padahal, keamanan air bergantung pada parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi yang tidak selalu terlihat. Air yang tampak bersih tetap bisa membawa mikroorganisme, zat terlarut, atau kontaminan lain. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan, aktivitas harian, sampai keamanan proses produksi, terutama di industri makanan dan minuman. Maka, Anda perlu memahami konteks sumber air, jalur distribusi, dan tanda awal penurunan mutu sebelum memilih uji laboratorium. Prodia OHI akan membahas cara menilai kualitas air secara lebih akurat, mulai dari checklist awal hingga parameter uji kualitas air yang umum digunakan.

Pengertian Kualitas Air

Kualitas air adalah ukuran kemampuan suatu sumber air untuk memenuhi persyaratan fisik, kimia, dan biologis sesuai kebutuhan pemakaiannya. Anda menilai kualitas air dengan ambang batas yang sesuai tujuan penggunaannya. Misalnya untuk air minum, kebutuhan rumah tangga dan gedung, atau proses produksi di industri makanan dan minuman.

Air yang terlihat jernih belum tentu aman. Dalam beberapa kasus, air tampak baik secara visual, tetapi tetap mengandung mikroorganisme atau senyawa tertentu yang berisiko. Ketika zat atau mikroorganisme berbahaya masuk ke air tanah atau badan air, mutu air akan menurun. Akibatnya, air menjadi tidak aman untuk digunakan dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Checklist Awal Penilaian Kualitas Air

Sebelum uji laboratorium, Anda sebaiknya memetakan risiko lebih dulu agar penilaian lebih terarah. Pemeriksaan awal ini membantu Anda menentukan titik yang patut dicurigai. Dari sini, Anda juga bisa memilih parameter uji yang paling relevan.

Baca Juga:  Uji Pangan, Ke Prodia FHL Aja! Sudah terakreditasi KAN ISO 17025

Memetakan Sumber Air dan Jalur Distribusi

Mulailah dengan mencatat sumber air yang Anda gunakan. Apakah Anda memakai PDAM, sumur bor, tangki, galon, atau Water Treatment Plant (WTP). Setelah itu, telusuri jalur distribusi sampai ke titik pakai. Kualitas air bisa berubah selama proses penyaluran.

Mengidentifikasi Titik Rawan pada Sistem Distribusi Internal

Perhatikan titik yang sering memicu penurunan mutu. Misalnya tandon, filter, pipa yang sudah tua, sambungan pipa, dan keran di titik akhir. Pada titik-titik ini, kontaminasi sering muncul tanpa tanda visual yang jelas.

Mengecek Indikator Perubahan Fisik yang Patut Dicurigai

Amati perubahan bau dan rasa. Perhatikan juga perubahan warna, endapan, kerak, atau sensasi licin pada air. Tanda ini sering menjadi sinyal awal penurunan kualitas. Namun, Anda tetap perlu konfirmasi melalui uji kualitas air.

Menganalisis Pola Keluhan dan Lokasi Kejadian

Jika muncul keluhan seperti diare atau mual, amati polanya. Apakah keluhan terjadi pada beberapa orang secara bergantian. Apakah keluhan muncul setelah konsumsi air dari titik tertentu. Pola ini dapat membantu Anda menelusuri lokasi berisiko.

Parameter Kualitas Air yang Umum Diuji

Jika pengecekan awal menunjukkan titik rawan atau gejala mencurigakan, Anda dapat melanjutkan dengan uji parameter. Secara umum, parameter kualitas air terbagi menjadi tiga kelompok. Pembagian ini membantu Anda menyesuaikan uji dengan peruntukannya.

Parameter Mikrobiologi

Parameter mikrobiologi membantu Anda menilai risiko kontaminasi kuman. Pemeriksaan biasanya memakai kuman indikator seperti Total Coliform dan Escherichia coli. Jika indikator terdeteksi, air berisiko membawa kontaminasi dari lingkungan atau jalur distribusi. Kondisi ini dapat memicu gangguan kesehatan. Pemeriksaan mikrobiologi penting untuk air minum, sumber air baru, kondisi pascabanjir, gangguan distribusi, atau keluhan kesehatan yang berulang di titik tertentu.

Baca Juga:  Parameter Kimia yang Perlu Diperhatikan Sebagai Persyaratan Mutu Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)

Parameter Kimia

Parameter kimia menilai kandungan unsur atau senyawa kimia dalam air yang dapat berdampak pada kesehatan maupun proses produksi. Contohnya pH, nitrat/nitrit, besi, mangan, hingga logam tertentu seperti kromium atau arsenik, tergantung konteks sumber air dan lingkungan sekitarnya. Pengujian kimia relevan ketika ada risiko dari pipa dan instalasi (misalnya pipa tua dan korosi), pengaruh area sekitar (industri, pertanian, atau limbah), atau saat air berasal dari sumur bor dan tandon yang kualitasnya dapat berubah. Uji kimia membantu memastikan air tidak hanya terlihat bersih, tetapi juga tidak membawa paparan kimia yang tidak disadari.

Parameter Fisik

Parameter fisik berkaitan dengan karakter yang mudah Anda rasakan dan amati. Contohnya suhu, Total Dissolved Solids (TDS), kekeruhan, warna, dan bau. Perubahan pada parameter fisik sering memberi sinyal awal masalah pada sumber atau distribusi. Misalnya endapan, biofilm, atau material dari pipa dan tandon. Dari sisi operasional, parameter fisik juga memengaruhi penerimaan pengguna. Air yang keruh, berbau, atau berubah warna sering menimbulkan penolakan dan perlu tindak lanjut.

Hal yang Harus Dilakukan Jika Kualitas Air Buruk

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kualitas air buruk, industri F&B perlu mengambil langkah cepat agar risiko ke konsumen dan proses produksi tetap terkendali.

  1. Hentikan sementara penggunaan air tersebut untuk minum, membuat es, mencuci bahan, dan proses yang kontak langsung dengan produk, karena air yang terkontaminasi dapat memicu kontaminasi silang dan keluhan kesehatan.
  2. Gunakan sumber air alternatif yang terverifikasi atau suplai air sementara untuk aktivitas kritikal, supaya operasional tetap berjalan tanpa memindahkan risiko ke produk dan pelanggan.
  3. Lakukan isolasi titik masalah dengan memeriksa sumber, tandon, filter, dan jalur pipa per area, karena kualitas air sering memburuk di titik tertentu sehingga perbaikan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
  4. Perbaiki sistem pengolahan dan sanitasi air, seperti penggantian media filter, flushing pipa, pembersihan tandon, serta desinfeksi terukur, karena perbaikan di akar sistem lebih efektif dibanding sekadar menutup gejala di ujung pemakaian.
  5. Amankan bukti dan lakukan investigasi internal berbasis data, seperti mencatat hasil uji, lokasi sampling, waktu kejadian, serta log sanitasi dan suhu penyimpanan, karena dokumentasi ini penting untuk penelusuran sumber dan keputusan korektif yang dapat dipertanggungjawabkan.
  6. Tingkatkan monitoring dan verifikasi pascaperbaikan, termasuk uji ulang pada titik kritikal sebelum dipakai kembali, karena kualitas air yang sudah dibersihkan tetap perlu dibuktikan stabil agar tidak menimbulkan kejadian berulang.
Baca Juga:  Yuk, Uji Listeria Monocytogenes pada Produk Pangan Anda di Prodia FHL!

Kesimpulan

Memastikan kualitas air bukan sekadar soal jernih, tetapi tentang pembuktian bahwa air memenuhi standar sesuai peruntukan dan tetap stabil di sepanjang sistem distribusi. Dengan melakukan penilaian awal yang terarah, memilih parameter uji yang relevan, serta mengambil tindakan korektif saat hasil menunjukkan masalah, risiko gangguan kesehatan dan kontaminasi proses dapat ditekan sejak awal. Langkah ini membantu rumah tangga, gedung, maupun pelaku usaha menjaga kepercayaan pengguna, melindungi kualitas produk, dan mendukung operasional yang lebih aman serta berkelanjutan.

Jika Anda perlu memastikan kualitas air minum, air bersih, atau air untuk kebutuhan operasional dan produksi, Prodia OHI siap membantu melalui layanan pengujian yang sesuai kebutuhan Anda. Lakukan uji kualitas air agar kita dapat #KerjaBersamaSehatBersama. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Prodia Food Health Laboratory melalui (0361) 4491 897 atau WhatsApp untuk informasi lebih lanjut tentang layanan kami.