Kanker Serviks

Oleh : dr. Ferdianto

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling sering diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua dari segi jumlah penderita kanker pada perempuan namun sebagai penyebab kematian masih menempati peringkat pertama.1,2 Berdasarkan data WHO (World Health Organization) pada tahun 2008 diperkirakan setiap harinya ada 38 kasus baru kanker serviks dan 21 orang perempuan yang meninggal karena kanker serviks di Indonesia.

Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia dipicu oleh beberapa hal seperti, faktor geografis Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau, tidak ada program screening,kurangnya fasilitas sitologi dan terapi, kurangnya kepatuhan pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin, sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV atau virus papiloma manusia). Jenis HPV yang onkogenik (berpotensi menyebabkan kanker serviks) adalah tipe 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58, 35, 59, 56, 51, 39, 68, 73, dan 82. 3 Di antara tipe-tipe tersebut, Sekitar 70% kejadian kanker serviks merupakan akibat dari HPV 16 dan HPV 18. 4 Infeksi HPV umumnya tidak menimbulkan gejala apapun pada penderitanya, bahkan ketika infeksi tersebut sudah menyebabkan lesi prakanker, yaitu perubahan sel pada lapisan epitel serviks yang berpotensi untuk berlanjut menjadi kanker serviks. Lesi prakanker sudah sejak lama dapat dideteksi melalui pemeriksaan tes Pap (papsmear).

Vaksin HPV dapat mencegah kanker serviks dengan cara mencegah terjadinya infeksi HPV pada epitel serviks, sehingga lebih lanjut dapat mencegah terjadinya lesi prakanker. Sebagai vaksin pencegahan terhadap kanker serviks, vaksin yang ada saat ini baru ditujukan untuk mencegah infeksi HPV onkogenik tipe 16 dan 18. Karena HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% penderita kanker serviks, maka diharapkan pemberian vaksinasi yang dapat mencegah infeksi kedua tipe HPV tersebut akan dapat menurunkan angka kejadian lesi prakanker dan kanker serviks hingga 70%-nya. 5-7

Pencegahan sekunder dengan tes Pap masih dibutuhkan karena kebanyakan vaksin HPV belum dapat mencegah lesi prakanker dan kanker yang disebabkan oleh HPV onkogenik selain tipe 16 dan 18. Ada pula vaksin HPV yang dapat digunakan untuk mencegah HPV tipe 6 dan 11 selain tipe 16 dan 18 (vaksin kuadrivalen).

Dari penelitian yang ada, populasi yang menjadi sasaran utama pemberian vaksin HPV adalah perempuan usia antara 9 hingga 26 tahun yang belum pernah melakukan kontak seksual. 8,9 Pemberian vaksin pada kelompok ini akan menurunkan secara bermakna angka kejadian kanker serviks.

Meski demikian vaksin HPV masih dapat diberikan dan memberikan hasil yang cukup baik pada kelompok yang sudah melakukan kontak seksual hingga usia 50 tahun, dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6.

Screening rutin yang dapat dilakukan berupa pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) untuk deteksi kanker serviks secara dini.

Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10-20 tahun. 10 Proses ini seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala.

Awalnya sel kanker berkembang dari serviks / mulut rahim yang letaknya berada di bawah rahim dan di atas vagina. Oleh sebab itu kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim. Di mulut rahim ada dua jenis sel, yaitu sel kolumnar dan sel skuamosa. Sel skuamus ini sangat berperan dalam perkembangan kanker serviks. Lihat gambar di bawah untuk mendapat gambaran tentang stadium kanker serviks:

Sebagian besar kasus yang ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Kanker serviks merupakan penyakit yang berjalan lambat (silent disease) sehingga pada stadium pra-kanker dan kanker stadium awal tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali.

Pertanda awal kanker serviks ditemukan adanya perdarahan pasca berhubungan intim tanpa atau disertai rasa sakit, keputihan berulang, berbau atau gatal dan tidak dapat sembuh dengan pengobatan biasa. Pada stadium lanjut, akan mengalami rasa sakit pada bagian paha atau salah satu paha mengalami pembengkakan, nafsu makan menjadi berkurang, berat badan tidak stabil (turun-naik), sulit buang air kecil, dan mengalami pendarahan spontan.

Kepastian diagnosa kanker serviks atau diagnosa pra-kanker memerlukan biopsi dari serviks. Biopsi umumnya dilakukan melalui colposcopy, inspeksi serviks melalui pencitraan yang diperbesar dengan melarutkan cairan asam untuk memperjelas sel-sel abnormal pada permukaan serviks.

Pengobatan kanker serviks tergantung stadiumnya, dapat berupa histerektomi (bedah pengangkatan rahim), terapi kemoterapi dan radioterapi.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, saran berikut dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus HPV :

  • Jalani pola hidup sehat dengan cara makan sayuran, buah dan sereal. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Konsumsi vitamin C, E, dan asam folat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Sebelum menggunakan toilet di tempat umum, selalu bersihkan bibir kloset, Jaga kebersihan genital.
  • Hindari hubungan seks di usia dini, berhubungan badan dengan banyak partner (berganti-ganti partner) karena virus HPV dapat menular melalui hubungan seksual.
  • Hindari merokok, karena dapat meningkatkan risiko kanker.

Daftar Pustaka

  1. Globocan 2008 Cancer Fact Street. Cervical cancer incidence and mortality world wide in 2008. Lion(France): IARC. C 2010
  2. WHO/ICO. Information centre on HPV and cervical cancer. Human papilloma virus and related cancers in world. Summary report update 2010, [cited: 2013 Dec 20]. Available from http://www.who.int/hpvcentre
  3. Howley P, Lowy D. Papillomaviruses and their replication. In: Knipe D, Howley P, editors. Fields Virology 4th ed. Philadelphia (PA): Lippincott-Raven; 2001. p. 2197–229.
  4. Muñoz N, Bosch F, S de Sanjosé. Epidemiologic classification of human papilloma virus types associated with cervical cancer. N Engl J Med. 2003;348:518–27.
  5. Shavit O, Raz R, Stein M, Chodick G, Schejter E, Ben-David Y, et al. Evaluating the epidemiology and morbidity burden associated with human papillomavirus in Israel: accounting for CIN1 and genital warts in addition to CIN2/3 and cervical cancer. App Health Econ Health Policy. 2012;10(2):87-97.
  6. Kasap B, Yetimalar H, Keklik A, Yildiz A, Cukurova K, Soylu F. Prevalence and risk factors for human papillomavirus DNA in cervical cytology. Eur J Obst Gynecol Reprod Biol.2011;159(1): 168-71.
  7. Protrka Z, Arsenijevic S, Dimitrijevic A, Mitrovic S, Stankovic V, Milosavljevic M, et al. Co-overexpression of bcl-2 and c-myc in uterine cervix carcinomas and premalignant lesions. Eur J Histochem. 2011;55(1):e8. Epub 2011/05/11.
  8. Hakim AA, Dinh TA. Worldwide impact of the human papillomavirus vaccine. Curr Treat Option Oncol. 2009;10(1-2):44-53. Epub 2009/04/24.
  9. Soldan VAP. Who is getting pap smears in urban Peru? Int J Epid. 2008(37):862-9.
  10. Canavan TP, Doshi NR. Cervical cancer. Am Fam Physician 2000;61:1369-76.