Hubungan antara depresi, kecemasan, dan stres dengan kualitas tidur pada masyarakat Indonesia selama pandemi COVID-19

COVID-19 telah satu tahun lebih menyerang seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Pada 11 Maret 2020, WHO telah mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi, begitu juga pemerintah Indonesia yang juga memberlakukan pembatasan sosial pada 13 Maret 2020. Tentunya dampak berupa infeksi bahkan kematian tercatat dengan baik oleh lembaga pemerintahan. Namun yang mungkin diabaikan adalah dampak pada kondisi psikologis.

Universitas Pelita Harapan melakukan riset untuk mengetahui hubungan antara depresi, kecemasan, dan stres dengan kualitas tidur pada masyarakat Indonesia selama pandemi COVID-19. Sebanyak 913 orang dari seluruh Indonesia berkontribusi dalam penelitian ini, di mana sebagian besar responden adalah siswa SMA (74,5%) yang tinggal di pulau Jawa (68,9%). Ada 60,9% perempuan, dengan usia rata-rata 18,70 tahun.

Dalam penelitian ini, ditunjukkan bahwa depresi, kecemasan, dan stres dikaitkan dengan kualitas tidur. Sebuah riset dari Italia juga mendukung hasil ini dengan mengatakan, “Mereka yang memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang tinggi memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami masalah tidur.” Dikarenakan pandemi membatasi interaksi dan mengharuskan orang untuk tinggal di rumah, maka emosi negatif timbul seperti ketakutan, kesepian, dan kegelisahan. 

Faktor sosiodemografis lain seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan juga berpengaruh pada kualitas tidur. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah konsumsi obat tidur selama pandemi yang justru berpengaruh besar pada kualitas tidur. Dalam riset ditemukan bahwa usia 15-24 tahun lebih berisiko memiliki kualitas tidur yang buruk, terlebih dengan jenis kelamin perempuan yang paling menderita dalam pandemi ini. 

Gangguan tidur mempengaruhi anak-anak, remaja, dan orang dewasa dalam konsekuensi kesehatan jangka pendek atau masalah psikologis seperti sakit kepala, nyeri, tekanan emosional, gangguan mood, kesehatan mental yang buruk, perilaku pengambilan risiko, dan mungkin berkontribusi terhadap depresi. Beberapa contoh penyakit yang mungkin terjadi pada orang dengan gangguan tidur adalah peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, masalah terkait berat badan, kanker, dan jika tingkat keparahannya telah mencapai puncak, gangguan tidur dapat meningkatkan angka kematian pada pria.

Setelah mengetahui apa pengaruh kualitas tidur yang buruk terhadap kesehatan, kita dapat menyimpulkan kualitas tidur yang baik berdampak pada risiko penyakit yang lebih rendah dalam jangka panjang. Bagi siswa, durasi tidur yang lebih lama dan kualitas tidur yang lebih baik dapat mempengaruhi kinerja di kelas dan capaian akademis (Okano, Kaczmarzyk, Dave, Gabrieli, & Grossman, 2019). Memiliki kualitas tidur yang baik, secara umum, memungkinkan kita untuk berpikir jernih, lebih waspada, mengurangi stres, dan juga meningkatkan suasana hati kita (U.S. Department of Health and Human Service, 2020).

Sumber: E-ISSN: 2477-1570 | P-ISSN: 2528-1542