Hepatitis B

Oleh : dr. Ferdianto, SpOk.

Hepatitis B adalah peradangan hati (liver) yang disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus ini termasuk family Hepadnaviridae. 1 Lebih dari 240 juta orang di dunia memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang) dan sekitar 600 000 orang meninggal setiap tahun karena konsekuensi akut atau kronis hepatitis B. 1,2  Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) positif > 6 bulan di dalam serum.

Manifestasi klinisnya dapat berupa hepatitis akut; berkembang menjadi kronis dan dapat berakibat menjadi hepatoselular karsinoma yang fatal. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki prevalensi HBsAg menengah, yaitu antara 3%-18,5%.3,4  Sebagian besar (40%-60%) infeksi HBV di Indonesia terjadi secara horizontal dan umumnya terjadi pada orang dewasa. Adapun infeksi vertikal (diturunkan) atau infeksi perinatal dari ibu ke bayi dapat juga terjadi, akan tetapi prevalensinya tidak terlalu tinggi diperkirakan sebesar  2,5%-20%. 4,5

Masa inkubasi dari virus hepatitis B adalah 75 hari rata-rata, tetapi dapat bervariasi dari 30 sampai 180 hari. Virus ini dapat dideteksi 30 sampai 60 hari setelah infeksi dan dapat menetap selama periode waktu tertentu.Hepatitis B akut pada orang dewasa umumnya sembuh (90%), sekitar 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. 2

Pencegahan infeksi virus Hepatitis B dapat dilakukan dengan pemberian  imunisasi Hepatitis B kepada bayi baru lahir. Vaksinasi juga dapat dilakukan pada anak-anak dan orang dewasa. Sebelum divaksinasi perlu dilakukan pemeriksaan darah HbsAg dan anti Hbs. Apabila seseorang telah divaksinasi seiring dengan waktu akan mengalami penurunan kekebalan antibodi terhadap hepatitis B, bila diperlukan dapat dilakukan booster vaksinasi (setelah 5-10 tahun tergantung status imun individunya). Konsultasikan dengan dokter mengenai hal tersebut.

Penularan secara horisontal, dapat terjadi melalui cairan tubuh, penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, tatto, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama dengan orang yang terinfeksi hepatitis (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut seperti sariawan, gusi berdarah,dll), lendir (berciuman) serta hubungan seksual dengan penderita.6

Sebagian besar kasus hepatitis B dialami tanpa gejala. Gejala kadang baru muncul jika sudah terjadi komplikasi seperti sirosis hati dan kanker hati. Gejala Hepatitis B dapat berupa:

  • Merasa lelah
  • Nyeri perut
  • Rasa tidak nyaman di perut kanan atas
  • Mual atau muntah
  • Demam
  • Nafsu makan hilang
  • Diare
  • Urin berwarna kuning gelap (seperti teh)
  • Mata dan kulit tampak kuning

Pemeriksaan laboratorium berguna untuk mengetahui penyebab hepatitis, memperkirakan perjalanan penyakit, atau untuk memantau pengobatan. Pemeriksaan laboratorium pada Hepatitis B diantaranya:

  • HBsAg (antigen hepatitis B surface)
  • HbeAg
  • Anti-HBs (antibodi terhadap HBsAg)
  • Anti-HBc (antibodi terhadap antigen core atau inti hepatitis B)
  • Anti-HBc IgM
  • Anti-Hbe
  • HBV-DNA

Pilihan pengobatan untuk Hepatitis B yang dapat konsultasikan dengan dokter:

  • Obat antiviral seperti lamivudine dan adenovir dan modulator sistem kekebalan seperti Interferon alfa.
  • Diajurkan untuk mengatur aktivitasnya agar tidak terlampau lelah
  • Batasi konsumsi alkohol
  • Makanan bergizi, sayuran dan buah yang kaya vitamin, bila diperlukan dilengkapi dengan vitamin untuk penguat hati.

Daftar Pustaka

  1. Drexler JF, Geipel A, Konig A, et al. Bats Carry Pathogenic Hepadnaviruses Antigenically Related to Hepatitis B Virus and Capable of Infecting Human Hepatocytes. PNAS Journal. 2013. [cited: 2013 Dec 20]. Available from http://www.pnas.org/content/early/2013 / 09/12/1308049110.full.pdf+html.
  2. WHO. Hepatitis B. July 2013. [cited: 2013 Dec 20].  available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs204/en/
  3. Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 1997.
  4. Ali S. Virus Hepatitis B, Sirosis Hati dan Karsinoma Hepatoseluler. CV Indomedika, Jakarta. 1990
  5. Suparyanto JB. Reseptor Polialbumun (PAR) sebagai Indikator Penularan VHB Vertical. Surabaya. 1993
  6. Soewignjo S. Hepatitis Virus B, Ed 2. Jakarta. EGC. 2007. Hal 20-1
  7. Lau GKK et al. Peginterferon Alfa-2a, Lamivudine, and the Combination for HBeAg-positive Chronic Hepatitis B. N Engl J Med. 2005;352 (26): 2682–95