Cegah Obesitas di Tempat Kerja dengan Pemenuhan Gizi Seimbang

Cegah Obesitas di Tempat Kerja dengan Pemenuhan Gizi Seimbang - Cegah Obesitas di Tempat Kerja dengan Pemenuhan Gizi Seimbang

Setiap 25 Januari Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional, sebagai pengingat pentingnya perbaikan gizi masyarakat. Menurut sejarah yang tertulis dalam sehatnegeriku.kemkes.go.id, awalnya Hari Gizi Nasional diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada tanggal 25 Januari 1951. Sejak saat itu pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Kemudian disepakati bahwa tanggal 25 Januari di peringati sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

Pada peringatan Hari Gizi Nasional 2022, Indonesia mengangkat tema ”Aksi Bersama Cegah Stunting & Obesitas”. Obesitas perlu menjadi sorotan penting bagi kita, di mana WHO dan UNICEF menilai bahwa jumlah orang dewasa di Indonesia yang mengalami obesitas telah naik berkali lipat selama dua dekade terakhir. Obesitas sendiri dapat dipahami sebagai “akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan”. Indeks Massa Tubuh (BMI) seseorang biasanya dilihat sebagai ukuran yang melaluinya kelebihan berat badan dan obesitas dapat diklasifikasikan, dengan kelebihan berat badan didefinisikan sebagai individu yang memiliki BMI 25-29,9 kg/m² dan obesitas didefinisikan sebagai BMI 30 kg/ m² ke atas. 

Obesitas terdiri dari tiga kelas standar (Yarborough et al., 2018), yaitu: 

  • Obesitas Kelas I (berisiko rendah) dengan IMT 30-34,9 kg/m²,
  • Obesitas Kelas II (risiko sedang) dengan IMT 35-39,9 kg/ m², dan 
  • Obesitas Kelas III (berisiko tinggi) dengan IMT 40 kg/m² ke atas. 

 

Konsekuensi obesitas bagi kesehatan dan ekonomi

Obesitas tentu berdampak pada individu yang mengalaminya. Namun beberapa peneliti juga melihat adanya dampak obesitas terhadap ekonomi dan kesehatan individu secara global. McKinsey Global Institute (2014) menyampaikan dampak dari obesitas sebagai berikut:

  1. Obesitas bertanggung jawab atas sekitar 5 persen dari semua kematian global;
  2. Obesitas memberikan dampak kerugian ekonomi global yang diperkirakan sekitar $2,0 triliun (2,8 persen dari PDB global).
  3. Obesitas adalah salah satu dari tiga beban sosial global terbesar yang ditimbulkan oleh manusia (merokok dan kekerasan bersenjata, perang dan terorisme adalah dua teratas).
  4. Pada negara maju, obesitas berdampak 2-7 persen dari semua pengeluaran perawatan kesehatan, (belum termasuk perhitungan biaya pengobatan penyakit). Jika dihitung dengan biaya pengobatan, maka obesitas berdampak pada biaya perawatan keseluruhan sebesar 20 persen.
Baca Juga:  Hepatitis Bagi Pekerja: Mengenal, Mengantisipasi, dan Bertindak

Dalam penelitian lainnya oleh Agha et al (2017), disampaikan bahwa obesitas memiliki implikasi bagi kesehatan masyarakat. Dijelaskan bahwa obesitas dapat berdampak pada harapan hidup (memiliki konsekuensi pada tren harapan hidup saat ini); di mana obesitas mengakibatkan kualitas hidup yang lebih buruk (sesak napas, sakit punggung, kesulitan psikologis dan mobilitas berkurang) dan dapat menyebabkan risiko kecacatan kognitif.

Penelitian lainnya juga melaporkan bahwa obesitas kerap berkaitan dengan berbagai kondisi komorbiditas yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan lebih lanjut dan biaya sosial lainnya. Sebagai contoh:

  1. Diabetes umumnya dikaitkan dengan obesitas. Orang dewasa yang mengalami obesitas rentanan mengalami diabetes 80 kali lebih besar daripada orang dewasa yang tidak obesitas). Konsekuensi bagi kesehatan individu yang terkait dengan diabetes meliputi: gagal ginjal, kebutaan, borok kaki dan penyakit jantung kongestif.
  2. Osteoarthritis yang berhubungan dengan obesitas dapat mempengaruhi lutut, pinggul, dan punggung bawah sebagai akibat dari tekanan ekstra yang diberikan pada lutut, pinggul, dan tulang rawan yang menipis secara bertahap. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam berjalan dan gerakan lainnya.
  3. Kerentanan Penyakit Jantung Koroner (PJK) meningkat 2-3 kali lipat pada individu obesitas, dan telah dihitung bahwa obesitas menyumbang 5 persen kematian PJK pada pria dan 6% pada wanita.
  4. Kanker semakin banyak terjadi pada individu yang obesitas, dengan orang dewasa yang obesitas 40 persen lebih mungkin meninggal karena kanker daripada non-obesitas. Baik pria maupun wanita obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kerongkongan, usus besar, rektum, ginjal, tiroid, kantong empedu dan pankreas.
  5. Masalah emosional dan psikologis akibat obesitas dapat terjadi melalui masalah yang berkaitan dengan harga diri yang lebih rendah, kecemasan, depresi dan dalam kasus yang ekstrim bunuh diri. Individu dengan obesitas 3-4 kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan dengan non-obesitas. Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagai akibat dari harga diri yang lebih rendah yang disebabkan oleh obesitas, individu dapat mengembangkan mekanisme koping yang tidak sehat lebih lanjut termasuk makan berlebihan dan isolasi sosial.
Baca Juga:  Obesitas dan Produktivitas: Bagaimana Obesitas Mempengaruhi Kinerja Pekerja

 

Karyawan dan obesitas

Karyawan memiliki risiko yang tinggi mengalami obesitas. Jam kerja karyawan yang relatif lama ditambah tekanan serta tuntutan pekerjaan dapat memengaruhi kebiasaan makan dan pola aktivitas mereka, yang dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas. Dalam beberapa kasus, risiko obesitas dan tempat kerja (misalnya, faktor organisasi dan paparan berbahaya) mungkin terkait, dan obesitas dapat mewakili faktor risiko tambahan untuk penyakit tertentu yang diakibatkan oleh paparan di tempat kerja. Obesitas muncul dari fenomena sosial dan biologis yang kompleks, tetapi sangat disayangkan obesitas masih sering dianggap sebagai hasil dari perilaku individu. Nyatanya, pencegahan penyakit dan cedera akibat kerja juga merupakan tanggung jawab perusahaan selaku pemberi kerja. 

Membuat program kesehatan di perusahaan Anda dengan berfokus pada aktivitas fisik merupakan langkah yang baik. tetapi Kolega Prodia juga perlu memperhatikan juga pemberian gizi yang tepat melalui makanan yang tersedia di lingkungan kerja. Menurut Institute for Health Metrics, gizi buruk memiliki dampak hampir tiga kali lipat dibandingkan kebugaran yang rendah. Oleh sebab itu ketersediaan makanan bergizi perlu menjadi perhatian dalam merencanakan program kesehatan di tempat kerja.

 

Pemenuhan gizi di tempat kerja

Mengkonsumsi makanan dengan baik di tempat kerja dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Makanan bergizi dapat meningkatkan konsentrasi dan fungsi kognitif, meningkatkan kinerja karyawan di tempat kerja. WHO juga menyampaikan bahwa nutrisi yang optimal dapat meningkatkan tingkat produktivitas nasional sebesar 20%. Karyawan yang sehat cenderung lebih bahagia, lebih tenang ketika menghadapi konflik, lebih aktif bersosialisasi, tidur lebih nyenyak, dan lebih jarang sakit.

Baca Juga:  Bahaya Pelarut Organik pada Pekerja

Melihat pentingnya gizi yang tepat bagi karyawan, maka Kolega Prodia perlu merencanakan program pemenuhan gizi di tempat kerja. Kolega Prodia dapat memilih katering atau memastikan kafetaria bagi karyawan dengan memilih menu makanan dan minuman yang memenuhi angka kecukupan gizi pada tubuh Anda. Akan lebih baik lagi jika makanan dan minuman yang akan diberikan kepada karyawan telah dihitung indeks nilai gizi dalam setiap porsinya.

Ketersediaan makanan bergizi perlu didukung juga dengan sosialisasi dan berbagai perencanaan pelengkap lainnya. Adakan program sosialisasi secara berkala bagi karyawan mengenai berbagai program kesehatan, termasuk di dalamnya mengenai pemenuhan gizi yang disediakan oleh perusahaan. Kolega Prodia pun juga dapat meminta evaluasi terkait makanan dan minuman yang disediakan bagi karyawan. Selain menjelaskan makanan sehat yang disediakan di lingkungan kerja, Kolega Prodia juga perlu menjelaskan makanan dan minuman lain yang perlu dikonsumsi oleh karyawan di luar lingkungan kerja, baik di tempat tinggal mereka maupun tempat mereka bersosialisasi agar pemahaman mereka akan kebutuhan gizi semakin lengkap.

Sebagai pelengkap dari pemenuhan gizi di tempat kerja, Kolega Prodia dapat menggunakan jasa Prodia Food Health Laboratory untuk melakukan pemeriksaan bahan pangan atau makanan yang disediakan oleh pihak katering maupun distrubutor makanan pada kafetaria perusahaan. Dengan melakukan pemeriksaan bersama Prodia Food Health Laboratory, Anda akan mendapatkan manfaat berupa:

  1. Deteksi Food Borne Illness (Penyakit yang disebabkan oleh makanan);
  2. Mengetahui kandungan bahan tambahan yang terdapat pada makanan apakah sudah memenuhi persyaratan;
  3. Memastikan kualitas pangan terhadap cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.

Mari Kolega Prodia, bersama-sama kita cegah obesitas di tempat kerja dengan pemenuhan gizi seimbang agar kita semua dapat #KerjaBersamaSehatBersama

Sumber: t.ly/FZO1 t.ly/FaS3 t.ly/qzAg t.ly/Re7N