Cegah Holiday Blues & Seasonal Depression Pada Buruh Pasca Liburan

Mungkin sebagian dari kita mengira bahwa liburan akan memberikan dampak produktif kepada BURUH, tetapi asumsi tersebut belum tentu benar. Menurut National Alliance on Mental Illness, 64% orang melaporkan terkena depresi liburan, dan paling sering dipicu oleh tekanan finansial, emosional, dan fisik pada musim liburan. Dan bagi sebagian orang yang telah merayakan kesenangan di momen liburan, mereka juga berpotensi mengalami “post-holiday blues”. 

Tentu Kolega Prodia tidak ingin gangguan psikis ini terjadi dalam waktu relatif lama bagi BURUH, di mana mereka Berkarya Untuk Raih Untaian Harapan dari tempat kerja mereka, keluarga mereka dan diri mereka. Maka semangat #KerjaBersamaSehatBersama perlu ditegakkan untuk merespons berbagai penyakit yang mungkin hadir di tempat kerja dan berpotensi menyerang BURUH.

Post-Holiday Blues” merupakan sindrom pasca-liburan, stres, atau depresi, yang terjadi setelah periode emosi dan stres yang intens. “Post-holiday blues” memiliki banyak gejala di mana BURUH mungkin mengalami insomnia, kurang berenergi, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, dan cemas. Tetapi tidak seperti depresi klinis, tekanannya relatif berlangsung lebih pendek. 

Sebagian ahli berpendapat bahwa “Post-Holiday Blues” disebabkan oleh adrenalin yang berubah secara drastis. Seorang psikolog klinis yang berbasis di Princeton, NJ Dr. Eileen Kennedy-Moore menyampaikan bahwa hormon stress yang berhenti secara tiba-tiba setelah suatu momen, dapat berdampak besar pada kesehatan biologis dan psikologis kita. Menurut Dr. Melissa Weinberg, konsultan penelitian dan psikolog yang berspesialisasi dalam psikologi kesejahteraan dan kinerja, “Post-Holiday Blues” tanda kondisi psikologis yang sehat. “Post-Holiday Blues” hanyalah salah satu dari rangkaian ilusi otak dengan memikirkan hal-hal buruk mungkin terjadi. 

Ilusi pada pikiran yang dijalani oleh BURUH selama liburan pun juga dapat menjadi beban. Pemikiran bahwa semua yang terjadi pada masa liburan harus terlaksana dengan baik dan semua harus senang, menjadi beban yang merupakan faktor dari terjadinya depresi pasca-liburan. Menurut psikiater dan penulis “Thriving as an Empath,” Dr. Judith Orloff, memasang wajah palsu dan berpura-pura bahagia, termasuk pada masa liburan justru menguras tenaga. Psikoterapis Dr. Richard O’Connor, menyampaikan bahwa seharusnya liburan digunakan untuk “mempersenjatai” diri sebagai coping mechanism, cara atau tindakan untuk mengelola stres dan emosi serta situasi yang sulit. Maka dari itu, tindakan berpura-pura bahagia, atau melakukan sesuatu secara berlebihan di masa liburan justru memperburuk kondisi psikis setelah pasca-liburan.

Selain memiliki coping mechanism, pengaturan pola makan adalah hal penting. Makanan atau minuman dengan kandungan gula yang dikonsumsi secara banyak dan terus menerus oleh BURUH saat liburan juga bisa menjadi penyebabnya. James E. Gangwisch, PhD, asisten profesor di Universitas Columbia di departemen psikiatri, melalui risetnya mengetahui bahwa makanan dengan indeks glikemik (GI) yang lebih tinggi — skala yang memeringkat makanan yang mengandung karbohidrat berdasarkan seberapa banyak makanan tersebut meningkatkan gula darah Anda— berkaitan dengan kemungkinan depresi yang lebih besar.

Kolega Prodia dapat menyampaikan kepada BURUH tentang pentingnya mengelola diri kembali ketika masuk kerja pasca-liburan. Mulai dari kualitas tidur yang teratur, olahraga teratur, dan diet padat nutrisi, di mana landasan gaya hidup sehat ini direkomendasikan oleh para ahli untuk meningkatkan suasana hati dan mengelola gejala depresi. 

Jadwalkan kegiatan untuk bersenang-senang adalah hal yang baik untuk mengelola depresi. Interaksi sosial adalah komponen penting dari peningkatan kesejahteraan. Mengagendakan aktivitas sosial yang menyenangkan bagi BURUH dapat membantu mencegah efek kontras pergantian kegiatan yang menyenangkan saat liburan dan kegiatan yang harus produktif pasca-liburan. Di agenda kegiatan sosial ini, Kolega Prodia dapat mengikuti protokol kesehatan yang berlangsung atau menggunakan fitur komunikasi jarak jauh dalam pelaksanaannya.

Jika gejala depresi pasca-liburan terus berlanjut pada BURUH, Kolega Prodia perlu mempertimbangkan untuk memberikan rujukan berkonsultasi dengan spesialis. Maka mari wujudkan #KerjaBersamaSehatBersama pasca-liburan dengan kondisi psikis yang baik.

 

Sumber: t.ly/zfka t.ly/JAxx t.ly/56VC