Bising di Tempat Kerja

Oleh : dr. Ferdianto

Kondisi lingkungan kerja yang nyaman, aman dan kondusif dapat meningkatkan produktivitas pekerja. Salah satu diantaranya adalah lingkungan kerja yang bebas dari kebisingan.

Beberapa ahli mendefinisikan bising secara subyektif sebagai bunyi yang tidak diinginkan, tidak disukai, dan mengganggu. Secara obyektif bising terdiri atas getaran bunyi kompleks yang terdiri atas berbagai frekuensi dan amplitudo, baik yang getarannya bersifat periodik maupun nonperiodik.1

Bising mempunyai satuan frekuensi atau jumlah getar per detik yang dituliskan dalam Hertz, dan satuan intensitas yang dinyatakan dalam desibel (dB). Berkaitan dengan pengaruhnya terhadap manusia, bising mempunyai satuan waktu atau lama pajanan yang dinyatakan dalam jam perhari atau jam per minggu.

Di lingkungan industri, bising dapat berupa:

  • Bising kontinu berspektrum luas dan menetap (steady wide band noise) dengan batas amplitudo kurang lebih 5 dB untuk periode waktu 0,5 detik. Contohnya suara mesin, suara kipas angin dll. Bising kontinu dapat juga berspektrum sempit dan menetap (steady narrow band noise) misalnya bunyi gergaji sirkuler, bunyi katup gas dan lain-lain.
  • Bising terputus-putus (intermitten noise) yaitu bising yang tidak berlangsung terus-menerus melainkan ada periode relatif berkurang, contohnya bunyi pesawat terbang dan bunyi kendaraan yang lalu lintas di jalan. Bising karena pukulan kurang dari 0,1 detik (impact noise) atau bunyi pukulan berulang (repeated impact noise).
  • Bising dapat juga berasal dari ledakan tunggal (explosive noise). Bising jenis itu memiliki perubahan tekanan bunyi melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Contoh bunyi ledakan, ialah tembakan senapan atau meriam. Jenis bising lain adalah ledakan berulang (repeated explosive noise), contohnya mesin tempa di perusahaan. Bising dapat terdengar datar atau berfluktuasi.2

Beberapa sumber bising yang menjadi penyebab polusi adalah bising mesin produksi pada pabrik, desing mesin jet, mesin turbin pada kapal laut, letusan senjata, bising dari alat bantu kerja seperti mesin pemotong rumput, bising alat pemecah beton atau aspal, bising alat penghisap debu elektrik sampai pada bising kendaraan alat angkutan atau transportasi.

Bising dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada pekerja, antara lain:

  1. Gangguan fisiologi dapat berupa peningkatan tekanan darah, percepatan denyut nadi, peningkatan ketegangan otot. Efek fisiologi tersebut disebabkan oleh peningkatan rangsang sistem saraf otonom yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap keadaan bahaya yang terjadi secara spontan.
  2. Gangguan psikologi dapat berupa stres tambahan apabila bunyi tersebut tidak diinginkan dan mengganggu. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan sulit tidur, emosional dan gangguan konsentrasi yang secara tidak langsung dapat membahayakan keselamatan tenaga kerja.
  3. Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terjadinya kesalahan, misalnya tidak dapat mendengar instruksi yang diberikan.
  4. Gangguan pendengaran.  Gangguan pendengaran akibat pajanan bising atau Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah penyakit akibat kerja yang sering dijumpai di banyak pekerja industry Gangguan pendengaran akibat bising dapat ringan sampai berat akibat pajanan bising yang berlangsung lama, yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut yang juga terjadi bertahap,

National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dan Indonesia menetapkan nilai ambang batas (NAB) bising di tempat kerja sebesar 85 dBA.3,4 Bila NAB ini dilampaui terus menerus dalam waktu lama maka dapat menimbulkan noise induced hearing loss (NHIL). Faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya NIHL adalah frekuensi dan intensitas bising, periode lama pajanan, lama kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lainnya.3,5

Pada Noise Induced Hearing Loss (NIHL) umumnya terjadi penurunan pendengaran sensorineural yang pada awalnya tidak disadari, karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi secara perlahan-lahan sehingga tidak disadari oleh para pekerja.

Menurut Davis IR dan Hamernik P R, bising di tempat kerja merupakan masalah utama dalam kesehatan kerja di berbagai negara. Diperkirakan sedikitnya 7 juta orang (35% dari total populasi) terpajan dengan bising >85 dBA.6

Pada lingkungan kerja yang bising diperlukan Program Konservasi Pendengaran (PKP). PKP merupakan program yang diterapkan di lingkungan tempat kerja untuk mencegah gangguan pendengaran akibat terpajan kebisingan pada pekerja. Pada PKP diantaranya dilakukan:

  • Identifikasi dan analisis sumber bising pada lingkungan dengan alat sound level meter (SLM) atau Noise dosimeter pada pekerja.
  • Kontrol kebisingan dan kontrol administrasi
  • Pemeriksaan audiometri berkala pada pekerja yang terpajan bising
  • Penggunaan alat pelindung diri
  • dll

Kontrol kebisingan yang dapat dilakukan :

  1. Pengendalian pada sumber

Beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Meredam bising yang ada
  • Mengurangi luas permukaan yang bergetar
  • Mengatur kembali tempat sumber
  • Mengatur waktu operasi mesin
  • Pengecilan atau pengurangan volume
  • Pembatasan jenis dan jumlah lalu lintas dan lainnya
  1. Pengendalian pada media bising

Langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan cara ini adalah sebagai berikut :

  • Memperbesar jarak sumber bising dengan pekerjaan
  • Memasang peredam suara pada dinding dan langit-langit
  • Membuat ruang kontrol agar dapat dipergunakan mengontrol pekerjaan dari ruang terpisah
  1. Pengendalian pada penerimaan

Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  • Memberi alat pelindung diri seperti ear plug, ear muff, dan helmet
  • Memberikan latihan dan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja, khususnya tentang kebisingan dan pengaruhnya.

Daftar Pustaka

  1. Program Konservasi Pendengaran. Petunjuk Praktis. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004.
  2. Bashiruddin J. Pengaruh bising dan getaran pada fungsi keseimbangan dan pendengaran. Disertasi. 2002
  3. Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia. No: KEP-51/MEN/1999. Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
  4. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Occupational noise. Exposure revised criteria 1998. Cincinnati, Ohio; 1998.
  5. Alberti PW. Occupational hearing loss, disease of the ear nose and throat in: Head neck surgery. 14th ed. Philadelphia, 1991. p. 1053-66.
  6. Davis I R, Hamernik P R. Noise and hearing Impairment In: Levy BS, Wegman DH, editors.Occupational health. 3rd ed. New York. USA: Little,Brown and Company; 1994. p. 321-5.