Bahaya Microsleep Saat Berkendara

Bahaya Microsleep Saat Berkendara 1 - Bahaya Microsleep Saat Berkendara

Berkendara dalam masa berlibur ataupun dinas pekerjaan tentunya membutuhkan fokus yang lebih. Baik Anda maupun pekerja Anda tidak terlepas dengan adanya ancaman microsleep yang dapat berakibat terjadinya kecelakaan, terlebih dengan adanya berbagai kasus kecelakaan karenanya. Oleh sebab itu kita akan memahaminya secara lebih agar Anda dan pekerja Anda dapat melakukan perjalanan dinas maupun liburan hingga mencapai tujuan dengan selamat.

 

Mengenal Microsleep

Istilah microsleep mengacu pada periode tidur yang sangat singkat yang dapat diukur dalam hitungan detik, bukan menit atau jam. Seseorang mungkin tertidur selama microsleep atau tetap membuka mata dan terus terlihat terjaga. Terlepas dari bagaimana seseorang berada dalam fase microsleep, otak mereka tidak memproses informasi eksternal yang diterima panca indera seperti biasanya.

Para peneliti umumnya mendefinisikan microsleep sebagai episode tidur yang berlangsung selama 15 detik atau kurang. Saat terjadinya microsleep, orang kehilangan kendali atas kinerja mereka. Para ilmuwan bekerja untuk lebih memahami apa yang terjadi di otak selama microsleep dengan mempelajari fenomena pada manusia dan hewan.

Microsleep kadang-kadang disebut sebagai behavioral microsleep karena ditandai dengan perubahan perilaku. Terjadinya microsleep dapat terlihat berbeda dari orang ke orang, tetapi sering kali diidentifikasi oleh seseorang yang memejamkan mata sebentar atau mengalami penurunan perhatian. Peneliti dapat mendeteksi microsleeps dengan mengukur aktivitas otak, dengan mengamati wajah dan tubuh seseorang, atau dengan menguji kinerja psikomotorik mereka.

Baca Juga:  Tips Menentukan Kriteria Karyawan yang Dapat Divaksin

Umumnya microsleeps terjadi setelah kurang tidur. Oleh sebab itu banyak orang dengan gangguan tidur, seperti gangguan kerja shift atau apnea tidur obstruktif, mengalami microsleep. Orang yang tidak memiliki gangguan tidur juga dapat mengalami microsleeps, bahkan setelah satu malam tidur terbatas atau tanpa kurang tidur sama sekali. Microsleep biasanya terjadi ketika orang melakukan tugas yang monoton, seperti mengemudi di jalan raya yang kosong.

Selama episode microsleep, gelombang otak yang diukur dengan electroencephalogram (EEG) terasa melambat. Pemindaian otak yang dilakukan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) menunjukkan bahwa selama microsleep, sebagian besar otak yang dinonaktifkan selama tidur tetap aktif, termasuk area otak yang didedikasikan untuk tetap terjaga.

Otak juga merespons suara secara berbeda selama microsleep dibandingkan saat terjaga atau tidur. Otak memiliki reaksi sebagai respons terhadap suara selama microsleep, tetapi pola reaksinya tidak sama dengan yang ditemukan saat seseorang terjaga. Misalnya, selama microsleep, otak tampaknya tidak membedakan antara suara dengan nada yang berbeda.

Baca Juga:  Tetap Waspada Merespons Berbagai Varian Baru Covid-19

 

Gejala Microsleep

Salah satu gejala paling umum dari microsleep adalah menutup sebagian atau seluruh mata Anda, meskipun microsleep juga dapat terjadi dengan mata terbuka. Gejala umum lainnya dari microsleep adalah kepala mengangguk. Anda mungkin berasumsi Anda akan tahu jika Anda mengalami episode microsleep, tetapi itu tidak selalu jelas. Orang yang mengalami microsleep tidak selalu menyadari bahwa mereka tertidur sebentar.

Tanpa menyadari bahwa Anda tertidur, Anda mungkin berpikir Anda sejenak berhenti memperhatikan apa pun yang ada di sekitar Anda. Saat terjadinya microsleep, orang menunjukkan respons yang berkurang terhadap rangsangan eksternal, seperti suara atau isyarat visual.

Para peneliti telah menemukan bahwa orang cenderung menggerakkan mata mereka lebih lambat pada saat-saat menjelang tidur mikro. Namun, Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda menggerakkan mata Anda lebih lambat, atau kelopak mata Anda terkulai. Dilatasi pupil adalah faktor lain yang dapat mengindikasikan microsleep.

Melalui alat pelacak mata dan video wajah, Artificial Intelligence mengidentifikasi perubahan yang mengindikasikan seseorang sedang atau akan mengalami microsleep. Karena microsleep sering terjadi saat orang mengantuk, sistem pemantauan pengemudi mungkin mencari kedipan, perubahan detak jantung, dan gerakan roda kemudi untuk mendeteksi kantuk pada pengemudi sebelum mereka sempat tertidur di belakang kemudi.

Baca Juga:  Tuberkulosis dalam Skala Global dan Indonesia

 

Mencegah Terjadinya Microsleep

Saat ini, secara umum, belum ada pengobatan yang direkomendasikan untuk microsleep. Karena microsleep terkait dengan kurang tidur dan kantuk, maka pencegahan utama adalah kualitas tidur yang cukup. Selain itu Anda juga dapat bergantian berkendara ataupun meminta kepada pekerja Anda untuk bergantian dengan co-driver atau dengan Anda saat berkendara jarak jauh.

Jika Anda atau pekerja Anda mengalami kesulitan untuk mendapatkan waktu tidur yang direkomendasikan, maka buatlah janji dengan dokter Anda atau dokter di klinik perusahaan Anda. Mereka dapat membantu Anda mengidentifikasi dan memberikan rekomendasi terkait gangguan tidur yang menyebabkan kualitas tidur terganggu.

Selamat menjalani aktivitas berkendara bagi Anda maupun setiap pekerja dengan semangat #KerjaBersamaSehatBersama . Kiranya dengan kualitas istirahat yang cukup maka kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan kerja Anda.

 

Sumber: t.ly/YIyh