Analisa Pajanan Toluene pada Tubuh Manusia dan Lingkungan Kerja

2 - Analisa Pajanan Toluene pada Tubuh Manusia dan Lingkungan Kerja

Oleh: Muhammad Fadhil Fathiah, S.Si
(Research and Product Development Departement Prodia OHI)

Pajanan Toluene

5 - Analisa Pajanan Toluene pada Tubuh Manusia dan Lingkungan KerjaToluene merupakan komponen aromatik yang berbentuk cair pada suhu ruang, tidak berwarna, dan tidak larut pada air dengan volatilitas tinggi. Karakteristik kimia toluene diantaranya bersifat lipofilik (mudah larut dalam jaringan lemak) dan mudah terbakar dengan tingkat eksplosif di udara sekitar 1,4 – 6,7% (Lima 2020). Toluene biasa digunakan sebagai material dasar dalam pembuatan produk kimia, selain digunakan sebagai bahan peledak dan pelarut (Fustinoni et al. 2005). Di industri kimia, toluene digunakan sebagai pelarut dan pelapis cat, serta tambahan bahan bakar untuk meningkatkan nilai oktan. Pajanan toluene secara terus menerus di tempat kerja dapat menimbulkan risiko kesehatan pada tubuh manusia. Salah satu sumber pajanan toluene di tempat kerja diantaranya dari bahan petroleum, destilasi tar, dan proses pembakaran pada tambang mineral. Selain dari lingkungan kerja, pajanan toluene juga dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari seperti dari asap rokok dan gas emisi kendaraan (Greim 1996).

Toluene dapat masuk kedalam tubuh melalui jalur inhalasi (saluran pernafasan) dan absorpsi (penyerapan melalui kulit). Pajanan toluene di lingkungan kerja dapat terhirup (inhalasi) melalui sistem pernafasan paru-paru hingga 40 – 50% dari total pajanan yang ada di udara tempat kerja. Pekerja yang terpajan toluene selama 15 – 30 menit diketahui memiliki konsentrasi toluene dalam serum darah dapat mencapai titik konsentrasi tertinggi. Sedangkan pajanan toluene melalui jalur penyerapan kulit dapat terjadi ketika toluene masih dalam fase cair, namun volatilitas yang tinggi menyebabkan penyerapan melalui jalur ini cukup rendah. Pajanan toluene pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat, terutama pada otak kecil (cerebellum). Gejala yang muncul seperti penurunan konsentrasi, penurunan memori verbal, degenerasi otak dan korteks merupakan efek pajanan toluene pada konsentrasi rendah (Lima 2020).

Baca Juga:  Amankah Makan Roti Sedikit Berjamur?

Ketika masuk kedalam tubuh manusia toluene mengalami biotransformasi. Toluene mengalami reaksi oksidasi di dalam tubuh sehingga berubah menjadi beberapa jenis metabolit. Metabolit hasil eliminasi toluene melalui urin yang dapat dijadikan sebagai biomarker pemeriksaan toluene diantaranya isomer ortho-cresol (o-C) dan Hippuric Acid (HA) (Fustinoni et al. 2005). Biomarker tersebut dapat dijadikan sebagai acuan (biological monitoring) tingkat pajanan toluene di tempat kerja. Selain itu, pengecekan kadar toluene udara di lingkungan kerja (environmental monitoring) juga penting untuk mengetahui tingkat risiko pajanan. Pengecekan kedua hal tersebut menjadi sangat penting dalam menjamin kesehatan pekerja.

Biotransformasi Toluene

Toluene yang telah masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi dan absorbsi kulit dapat dengan mudah masuk melalui membran sel. Zat ini umumnya terdistribusi pada jaringan adiposa dan jaringan dengan persebaran vasikular tinggi, seperti otak, sumsum tulang, hati, ginjal, dan saraf. Biotransormasi toluene terjadi melalui 2 jalur utama, yaitu toluene epoxide dan benzyl alcohol (Gambar 1). Toluene dioksidasi menjadi senyawa epoksida, menghasilkan isomer (orto, meta-, para-) cresol melalui hidroksilasi cincin benzena oleh enzim. Selain itu toluene juga dapat mengalami hidroksilasi gugus metil menjadi benzyl alcohol melalui reaksi enzim sistem sitokrom P450 (Lima 2020).

Sebagian besar toluene dieliminasi oleh tubuh melalui urin sebagai Hippuric Acid (HA) dengan tingkat 31-80% dalam rentang 20 jam setelah pajanan. Ekskresi toluene sebanyak 7-14% terjadi melalui exhalasi. Komponen metabolit fenolik dihasilkan dalam kadar rendah, yaitu sekitar 1% pada p-cresol dan 0.1% pada o-cresol yang dapat ditemukan dalam urin. Selain itu metabolit merkapturik, seperti S-benzylmercapturic dan S-p-toluylmercapturic acids juga ditemukan pada konsentrasi < 2% pada urin (Della Rosa et al. 1996).

Baca Juga:  NAPAK TILAS 13 TAHUN PRODIA OHI BERKARYA Sebuah Dialog Bersama Dr. Bertha Pangaribuan, M.Si Direktur PT. Prodia OHI International
Gambar 1.
Gambar 1.

Syarat Keberterimaan Uji Pajanan Toluene 

Regulasi international telah mengatur beberapa kebijakan terkait pajanan bahan kimia di lingkungan kerja. Lembaga dari American Conference of Govermental Industrial Hygienists (ACGIH) 2021 menetapkan Nilai Ambang Batas toluene adalah 20 ppm selama 8 jam kerja perhari, dengan total jam kerja 40 jam perminggu (Irmasari 2018). Nilai tersebut cukup berbeda dengan regulasi dalam negeri. Nilai Ambang Batas (NAB) toluene yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 70 tahun 2016 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Industri, yaitu sebesar 50 ppm (Permenkes No 70 tahun 2016).

Pada tahun 2007, ACGIH merekomendasikan jenis biomarker untuk mengukur pajanan toluene adalah pemeriksaan asam hipurat urin (HA), toluene darah, dan o-cresol urin. Saat ini, pemeriksaan asam hipurat urin (HA) tidak lagi menjadi biomarker pajanan toluene, dikarenakan asam hipurat dapat ditemukan dalam urin pada tingkat yang bervariasi dan sulit diprediksi karena dapat terpengaruh dari konsumsi makanan dan minuman yang mengandung asam benzoat atau prekursor asam benzoat (Tardif et al. 1998). Dibandingkan dengan asam hipurat urin (HA), o-cresol urin hanya dapat ditemui pada pekerja yang terpajan toluene dan hanya mendapat sedikit pengaruh dari konsumsi makanan (Lima 2022). Berdasarkan ACGIH 2023, standar batasan kadar o-cresol urin pekerja atau disebut juga Biological Exposure Indices (BEI) adalah sebesar 0,3 mg/g kreatinin, sedangkan untuk toluen urin 0,03 mg/L, dan pada toluene darah sebesar 0,02 mg/L.

 

Daftar Pustaka

  1. [ACGIH] American Conference of Govermental Industrial Hygienists. 2022. Documentation of the Threshold Limit Values (TLVs) and Biological Exposure Indices (BEIs) – Toluene. Ohio (US): ACGIH.
  2. Della Rosa HV, Siqueira EPB, Colacioppo S. 1996. Monitorizaçäo ambiental e biologica. In Oga Sm Camargo MMA, Batistuzzo JAO. 2014. Fundamentos de toxicologia 4th ed. São Paulo (BRA):251-254.
  3. Fustinoni S, Mercadante R, Campo L, Scibetta L, Valla C, Foà V. 2005. Determination of urinary ortho- and meta-cresol in humans by headspace SPME gas chromatography/mass spectrometry. J. Chromatogr. B (817): 309 – 317.
  4. Greim H. 1996. Toluene [MAK Value Documentation]. Occupational Toxicants. 7: 257 – 318.
  5. Irmasari F. 2018. Kadar toluen di udara lingkungan kerja berkorelasi terhadap kadar asam hipurat urine pada pekerja percetakan di rungkut surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 10 (3): 328 – 335.
  6. Lima, AR. 2022. Toluene: correlation between occupational exposure limits and biological exposure indices. Rev Bras Med Trab. 20 (4): 633-641.
  7. [NIOSH] National Institute for Occupational Safety and Health. 1978. Occupational Health Guideline for Toluene. Washington (US): NIOSH.
  8. [NMAM] NIOSH Manual of Analytical Methods Fourth Edition. 2003. Hydrocarbons, aromatics: 1501. NMAM. 3 (1): 1-7.
  9. [NMAM] NIOSH Manual of Analytical Methods Fifth Edition. 2016. o-Cresol in urine method 8321. 4 (1): 1-6.
  10. [PERMENKES] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 70 tahun 2016 tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri. Jakarta (ID): Kemenkes.
  11. Tardif R, Truchon G, Brodeur J. 1998. Comparison of hipurric acid and o-cresol in urine and unchanged toluene in alveolar air for the biological monitoring of exposure to toluene in human volunteers. Appl.Occup.Environ.Hyg. 13 (2): 127 – 132.