Profile CEO Prodia Group

Rabu, September 14th, 2016

Manusia Menjadi Kunci

Oleh Ferry Santoso

Saat berdiri pada 1973 di Solo, Jawa Tengah, Jasa layanan kesehatan laboratorium klinik Prodia hanya dilayani dua karyawan dengan sarana sangat terbatas. Kini industry jasa kesehatan laboratorium tersebut sudah berkembang pesat. Tentu banyak yang dilakukan karena mengembangkan bisnis laboratorium bukan hal mudah.

Artikel dimuat oleh Kompas Senin, 5 September 2016

Salah satu kunci dalam mengembangkan laboratorium klinik adalah sumber daya manusia. Berikut wawancara kompas dengan pendiri dan Chairman Prodia Group. Andi Wijaya (80) di Jakarta, Kamis (25/8).

Bagaimana awal prodia berdiri?

Waktu prodia berdiri, saya tinggal di Solo. Saya alumnus Institute Teknologi Bandung jurusan Farmasi, lulus 1963. Saya ditempatkan di Tawangmangu (Jakteng), bekerja di kebun obat. Waktu di Solo, saya diminta mengajar Kimia Klinik di Universitas Atmajaya. Semua Sarjana Farmasi disuruh mengajar, termasuk saya. Mengajar Kimia Klinik ini mengubah hidup saya yang sebentulnya bukan bidang saya. Selain itu, di suatu Rumah Sakit, saya pernah ngomong dengan salah seorang dokter, hati-hati kalau membutuhkan darah, karena pemeriksaan darah keliru. Dokternya bilang, mengapa kamu tidak bikin laboratorium. Saya bilang, saya tidak punya uang dan tidak mengerti laboratorium klinik. Namun, dokternya menganggap saya ahli karena mengajar Kimia Klinik. Akhirnya, saya dan teman-teman berpikir dan membuka laboratorium klinik. Tahun 1975, kami masing-masing berempat menyetor uang Rp. 45.000 untuk mengontrak ruangan di Pasar Nongko, Solo. Ruangannya kecil.

Berapa lama laboratorium kecil itu dikelola?

Setelah dikelola dua tahun, pada 1975, kami membuka cabang di Jakarta, di garasi Apotek Titi Murni di Salemba. Saat berdiri laboratorium Solo itu, omzet bulan pertama Rp. 37.500 dari enam pasien. Padahal untuk gaji dua orang membutuhkan biaya Rp.50.000. Jadi, tidak cukup. Setelah setahun mulai bagus. Tahun 1975, merambah ke Jakarta.

Sekarang sudah ada berapa cabang?

Setelah 43 tahun, ada 256 cabang di seluruh Indonesia, di seluruh provinsi, kecuali Bengkulu, Kalimantan Utara, dan Papua Barat. Jumlah pasien pada 2015 encapai 2,3 juta setahun. Omzetnya Rp.1,2 triliun. Karyawan 3.500 orang. Prodia termasuk terbesar keenam di dunia. Saingannya Amerika Serikat, Brasil, Mesir, India, dan Tiongkok.

Mengapa prodia berkembang pesat?

Banyak hal. Dengan perkembangan waktu, kelompok masyarakat kelas menengah bertambah. Konsumen kita banyak masyarakat kelas menengah, kebanyakan golongan muda. Mereka berpenghasilan cukup besar dengan pendidikan tinggi sehingga kesadaran terhadap kesehatan besar. Selain itu, gaya hidup, seperti makanan cepat saji, merokok, kurang sehat, Mereka sadar terhadap penyakit, apalagi membaca berbagai informasi dari internet.

Kami dari universitas. sampai sekarang, saya masih mengajar. Di Prodia, banyak orang disekolahkan. Ada 67 orang bergelar master di bidang biomedik. 35 doktor bidang biomedik. Tahun 2001-2011, saya menjadi Ketua Program Studi Kimia Klinik di Universitas Hasanuddin, Makasar. Saya suruh beberapa orang sekolah di sana. Kami bekerja sama dengan Universitas Padjajaran (Bandung) bikin program studi.

Bagaimana sumber daya manusia disiapkan untuk bekerja di laboratorium?

Ini menjadi kunci. Kami mengambil murid-murid dari sekolah analis medis untuk bekerja di laboratorium. Kedua, saya juga mengajar di Unpad. Jadi, untuk level S-1, S-2, dan S-3, Prodia mempunyai program kerja sama dengan 23 universitas di Indonesia. Kami juga mempunyai laboratorium penelitian dan penunjang penelitian. Sebagian laba kami sisihkan untuk Prodia Education Reseach Institute (PERI). PERI meberikan beasiswa bagi yang mau sekolah lebih tinggi dan membantu orang yang mau meneliti dalam menyelesaikan program S-2 dan S-3. Kami mempunyai perpustakaan dengan jurnal kedokteran sehingga dokter yang mau mencari literatur bisa datang.

Apa tantangan persaingan di ASEAN?

Kami fokus di Indonesia karena peluang masih besar, yaitu 250 juta orang. Masyarakat kelas menengah juga terus meningkat, mencapai 90 juta orang. Persaingan dari luar negeri justru mau masuk ke pasar Indonesia. Namun, tantangan untuk bisa masuk cukup besar. Dua laboratorium dari Australia mau masuk, tapi akhirnya tutup. Malaysia juga mencoba masuk dan membuka laboratorium di medan,, tetapi tidak laku. Jaringan kami sudah luas, pangsa pasar besar, citra bagus. Setiap tahun dapat penghargaan. Kedua, kami mempunyai jaringan dengan universitas. Kami tidak pernah kukurangan sumber daya manusia. Jumlah sarjana S-1 lebih dari 1.000 orang, S-2 lebih dari 200 orang. S-3 sekarang 35 orang. Jumlah mereka akan terus bertambah karena mereka masih sekolah.

Ada rencana ekspansi?

Tetap harus tambah. Di semua provinsi harus ada. Tahun depan, akan di buka di tiga provinsi. Dalam setahun, menurut rencana, menambah lima labooratorium. Kami juga membuat laboratorium khusus untuk anak karena anak memmbutuhkan perlakuan khusus. Jadi, dibentuk seperti tempat bermain, alatnya juga khusus. Tahun depan, ada rencana membuat di lima kota. Saat ini, kami mempunyai laboratorium rujukan terbesar secara nasional.

Mengapa biayanya mahal?

Karena dibutuhkan pereaksi atau reagent. Banyak pereaksi yang harus diimpor. Kami baru melayani 5 persen dari total kebutuhan. Kami juga mengimpor alat. Saya mempunyai cita-cita anak perusahaan Prodia Group yang sekarang mengimpor alat, suatu saat dapat merakit pembuatan alat.

Artikel dimuat oleh Kompas Senin, 5 September 2016

Trackback from your site.