Paket Medical Check Up Pekerja & Vaksinasi

Rabu, April 23rd, 2014

Flyer Promo OHC Cikarang-1

Nikmati keringanan biaya 20% untuk PAKET MEDICAL CHECK UP PEKERJA dan VAKSINASI di Prodia OHC Jakarta & Cikarang, hingga 30 Juni 2014.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Prodia OHC Jakarta & Cikarang.

GINGIVITIS ATAU PERIODONTITIS

Selasa, Maret 25th, 2014

Oleh drg. Diana Kusriyanti SKG

gingivitis

Gingivitis, juga umumnya disebut penyakit gusi atau penyakit periodontal, menggambarkan kejadian-kejadian yang mulai dengan pertumbuhan bakteri di dalam mulut anda dan mungkin berakhir – jika tidak dirawat dengan benar – dengan kehilangan gigi yang disebabkan oleh perusakan dari jaringan yang mengelilingi gigi-gigi anda. Sebenarnya, gingivitis dan periodontitis adalah dua stadium yang berbeda dari penyakit gusi.

Perbedaan Antara Gingivitis Dan Periodontitis
Gingivitis biasanya mendahului periodontitis. Bagaimanapun, penting untuk mengetahui bahwa tidak semua gingivitis berlanjut ke periodontitis. Pada keadaan awal dari gingivitis, bakteri-bakteri dalam plaque terbentuk, menyebabkan gusi-gusi meradang (merah dan bengkak) dan seringkali dengan mudah berdarah sewaktu menyikat gigi. Meskipun gusi-gusi mungkin teriritasi, gigi-gigi masih dengan kuat tertanam dalam rongga-rongga mereka. Tidak ada kerusakan tulang atau jaringan lain yang tidak dapat dikembalikan telah terjadi pada stadium ini.
Jika gingivitis dibiarkan tidak dirawat, ia dapat berlanjut ke periodontitis. Pada orang dengan periodontitis, lapisan bagian dalam dari gusi dan tulang menjauh dari gigi-gigi dan membentuk kantong-kantong (pockets). Ruang-ruang kecil ini antara gigi-gigi dan gusi-gusi mengumpulkan puing-puing (kotoran) dan dapat menjadi terinfeksi. Sistem imun tubuh melawan bakteri-bakteri ketika plaque menyebar dan tumbuh di bawah garis gusi.
Racun-racun – yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri dalam plaque serta enzim-enzim tubuh yang “baik” yang terlibat dalam memerangi infeksi-infeksi – mulai mengurai tulang dan jaringan penghubung yang memegang gigi-gigi pada tempatnya. Ketika penyakitnya berlanjut, kantong-kantong (pockets) mendalam dan lebih banyak jaringan gusi dan tulang yang dirusak. Ketika ini terjadi, gigi-gigi tidak lagi tertanam pada tempatnya, mereka menjadi lebih kendur, dan kehilangan gigi terjadi. Penyakit gusi, nyatanya, adalah penyebab utama yang memimpin terjadinya kehilangan gigi pada kaum dewasa.

Gejala yang tampak ketika melakukan pemeriksaan gigi akibat terjadinya gangguan periodontitis antara lain:

  1. Perdarahan gusi. Infeksi dan peradangan pada gusi bisa memicu terjadinya perdarahan pada gusi.
  2. Perubahan warna gusi. Perubahan warna gusi disebabkan oleh aktifitas bakteri anaerob dalam kantung gusi atau bisa juga disebabkan infeksi pada jaringan akar gigi.
  3. Bau mulut. Bau mulut atau halitosis disebabkan aktivitas kuman dan bakteri atau bisa juga dipicu oleh pembusukan sisa makanan pada kantong kuman.
  4. Pada pemeriksaan mulut dan gigi, gusi tampak bengkak dan berwarna merah keunguan.
  5. Akan tampak endapan plak atau karang di dasar gigi disertai kantong yang melebar pada gusi.

Pencegahan
Cara terbaik mencegah periodontitis adalah menjaga kebersihan mulut dengan baik secara konsisten seperti menyikat gigi secara teratur. Selain itu secara rutin periksakan kondisi gigi anda ke dokter gigi.

Pengobatan
a. Perawatan Non Bedah
Perawatan non bedah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi periodontitis, antara lain:

1. Scaling
Scaling merupakan tindakan untuk menghilangkan kalkulus dan bakteri dari permukaan gigi dan di bawah gusi. Hal tersebut dapat dilakukan oleh dokter gigi dengan menggunakan instrumen atau perangkat ultrasonik.

2. Root planing
Root planing merupakan tindakan menghaluskan permukaan akar, dan mengecilkan penumpukan kalkulus lebih lanjut.

3. Antibiotik
Dokter gigi atau dokter gigi spesialis periodonsia mungkin akan meresepkan penggunaan antibiotik topikal atau oral untuk membantu pengendalian infeksi bakteri. Antibiotik topikal umumnya menjadi pengobatan pilihan. Mereka dapat mencakup larutan kumur antibiotik atau penyisipan benang dan gel yang mengandung antibiotik dalam kantong di antara gigi dan gusi. Namun, antibiotik oral mungkin diperlukan untuk sepenuhnya menghilangkan bakteri penyebab infeksi.

b. Perawatan Bedah

Jika pasien memiliki periodontitis yang mungkin tidak merespon atau tidak membaik dengan perawatan non bedah dan kebersihan mulut yang baik. Pada kasus ini, pengobatan periodontitis mungkin memerlukan operasi gigi.

Sumber :

http://totalkesehatananda.com

http://artikelkesehatanwanita.com/periodontitis.html

http://health.detik.com/read/2011/11/10/071918/1764185/770/3/periodontitis-

peradangan-pada-jaringan-pendukung-gigi

Sick Building Syndrome

Rabu, Maret 19th, 2014

Oleh: dr. Raymos Parlindungan Hutapea, MKK

sickbuiling

Sejak tahun 1970-an, pekerja kantor di seluruh dunia telah sering mengeluhkan iritasi membran mukosa, kelelahan, dan sakit kepala ketika bekerja di gedung-gedung spesifik, dengan gejala perbaikan dalam beberapa menit sampai satu jam setelah meninggalkan gedung.(1) Keadaan ini kemudian dikenal dengan nama Sick building syndrome (SBS). Kedokteran okupasi pada tahun 1980 memperkenalkan konsep SBS sebagai masalah kesehatan akibat lingkungan kerja yang berhubungan dengan polusi udara, indoor air quality (IAQ) dan buruknya ventilasi gedung perkantoran.

Bahaya Pelarut Organik pada Pekerja

Selasa, Maret 18th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto

Pelarut organik adalah bahan kimia yang berbentuk cair pada suhu kamar, berfungsi sebagai pelarut bahan kimia lainnya. Pelarut organik sangat beragam dengan struktur kimia yang bermacam-macam: golongan hidrokarbon aromatik (benzena, toluena, xylena, dll), hidrokarbon alifatik, aldehida, alkohol, eter, keton, glikol, hidrokarbon terhalogenisasi, dan lain-lain. Kesamaannya adalah kemampuannya melarutkan dan mendispersikan lemak, minyak, cat, dan lain-lain.(1)

Penggunaan Pelarut organik di bidang industri bermacam-macam, contohnya benzena, toluena, xylena (BTX) di gunakan sebagai lem, pelarut, cat, dan lain-lain. Penggunaan toluena sebagai sebagai pelarut cat, thinner, tinta, lem, bahan tambahan produk kosmetik, industri pestisida, crude petroleum, disinfektan, industri plastik, dan serat sintetik.(2)

Rute masuk ke dalam tubuh dapat melalui tiga mekanisme, yaitu inhalasi (terhirup), ingesti (tertelan), dan kontak langsung melalui kulit. Pelarut organik seperti benzena, toluena, xylena (BTX) mudah menguap, seringkali uap BTX terhirup oleh pekerja yang tidak mengunakan alat pelindung diri. Pelarut organik ini berbahaya bagi kesehatan pekerja karena dapat menyebabkan (tergantung jenisnya):

Bising di Tempat Kerja

Selasa, Pebruari 11th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto

Kondisi lingkungan kerja yang nyaman, aman dan kondusif dapat meningkatkan produktivitas pekerja. Salah satu diantaranya adalah lingkungan kerja yang bebas dari kebisingan.

Beberapa ahli mendefinisikan bising secara subyektif sebagai bunyi yang tidak diinginkan, tidak disukai, dan mengganggu. Secara obyektif bising terdiri atas getaran bunyi kompleks yang terdiri atas berbagai frekuensi dan amplitudo, baik yang getarannya bersifat periodik maupun nonperiodik.1

Bising mempunyai satuan frekuensi atau jumlah getar per detik yang dituliskan dalam Hertz, dan satuan intensitas yang dinyatakan dalam desibel (dB). Berkaitan dengan pengaruhnya terhadap manusia, bising mempunyai satuan waktu atau lama pajanan yang dinyatakan dalam jam perhari atau jam per minggu.

Di lingkungan industri, bising dapat berupa:

  • Bising kontinu berspektrum luas dan menetap (steady wide band noise) dengan batas amplitudo kurang lebih 5 dB untuk periode waktu 0,5 detik. Contohnya suara mesin, suara kipas angin dll. Bising kontinu dapat juga berspektrum sempit dan menetap (steady narrow band noise) misalnya bunyi gergaji sirkuler, bunyi katup gas dan lain-lain.
  • Bising terputus-putus (intermitten noise) yaitu bising yang tidak berlangsung terus-menerus melainkan ada periode relatif berkurang, contohnya bunyi pesawat terbang dan bunyi kendaraan yang lalu lintas di jalan. Bising karena pukulan kurang dari 0,1 detik (impact noise) atau bunyi pukulan berulang (repeated impact noise).
  • Bising dapat juga berasal dari ledakan tunggal (explosive noise). Bising jenis itu memiliki perubahan tekanan bunyi melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Contoh bunyi ledakan, ialah tembakan senapan atau meriam. Jenis bising lain adalah ledakan berulang (repeated explosive noise), contohnya mesin tempa di perusahaan. Bising dapat terdengar datar atau berfluktuasi.2

Beberapa sumber bising yang menjadi penyebab polusi adalah bising mesin produksi pada pabrik, desing mesin jet, mesin turbin pada kapal laut, letusan senjata, bising dari alat bantu kerja seperti mesin pemotong rumput, bising alat pemecah beton atau aspal, bising alat penghisap debu elektrik sampai pada bising kendaraan alat angkutan atau transportasi.

Bising dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada pekerja, antara lain:

  1. Gangguan fisiologi dapat berupa peningkatan tekanan darah, percepatan denyut nadi, peningkatan ketegangan otot. Efek fisiologi tersebut disebabkan oleh peningkatan rangsang sistem saraf otonom yang merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap keadaan bahaya yang terjadi secara spontan.
  2. Gangguan psikologi dapat berupa stres tambahan apabila bunyi tersebut tidak diinginkan dan mengganggu. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan sulit tidur, emosional dan gangguan konsentrasi yang secara tidak langsung dapat membahayakan keselamatan tenaga kerja.
  3. Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terjadinya kesalahan, misalnya tidak dapat mendengar instruksi yang diberikan.
  4. Gangguan pendengaran.  Gangguan pendengaran akibat pajanan bising atau Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah penyakit akibat kerja yang sering dijumpai di banyak pekerja industry Gangguan pendengaran akibat bising dapat ringan sampai berat akibat pajanan bising yang berlangsung lama, yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut yang juga terjadi bertahap,

National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dan Indonesia menetapkan nilai ambang batas (NAB) bising di tempat kerja sebesar 85 dBA.3,4 Bila NAB ini dilampaui terus menerus dalam waktu lama maka dapat menimbulkan noise induced hearing loss (NHIL). Faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya NIHL adalah frekuensi dan intensitas bising, periode lama pajanan, lama kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lainnya.3,5

Pada Noise Induced Hearing Loss (NIHL) umumnya terjadi penurunan pendengaran sensorineural yang pada awalnya tidak disadari, karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi secara perlahan-lahan sehingga tidak disadari oleh para pekerja.

Menurut Davis IR dan Hamernik P R, bising di tempat kerja merupakan masalah utama dalam kesehatan kerja di berbagai negara. Diperkirakan sedikitnya 7 juta orang (35% dari total populasi) terpajan dengan bising >85 dBA.6

Pada lingkungan kerja yang bising diperlukan Program Konservasi Pendengaran (PKP). PKP merupakan program yang diterapkan di lingkungan tempat kerja untuk mencegah gangguan pendengaran akibat terpajan kebisingan pada pekerja. Pada PKP diantaranya dilakukan:

  • Identifikasi dan analisis sumber bising pada lingkungan dengan alat sound level meter (SLM) atau Noise dosimeter pada pekerja.
  • Kontrol kebisingan dan kontrol administrasi
  • Pemeriksaan audiometri berkala pada pekerja yang terpajan bising
  • Penggunaan alat pelindung diri
  • dll

Kontrol kebisingan yang dapat dilakukan :

  1. Pengendalian pada sumber

Beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Meredam bising yang ada
  • Mengurangi luas permukaan yang bergetar
  • Mengatur kembali tempat sumber
  • Mengatur waktu operasi mesin
  • Pengecilan atau pengurangan volume
  • Pembatasan jenis dan jumlah lalu lintas dan lainnya
  1. Pengendalian pada media bising

Langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan cara ini adalah sebagai berikut :

  • Memperbesar jarak sumber bising dengan pekerjaan
  • Memasang peredam suara pada dinding dan langit-langit
  • Membuat ruang kontrol agar dapat dipergunakan mengontrol pekerjaan dari ruang terpisah
  1. Pengendalian pada penerimaan

Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  • Memberi alat pelindung diri seperti ear plug, ear muff, dan helmet
  • Memberikan latihan dan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja, khususnya tentang kebisingan dan pengaruhnya.

Daftar Pustaka

  1. Program Konservasi Pendengaran. Petunjuk Praktis. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004.
  2. Bashiruddin J. Pengaruh bising dan getaran pada fungsi keseimbangan dan pendengaran. Disertasi. 2002
  3. Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia. No: KEP-51/MEN/1999. Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
  4. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Occupational noise. Exposure revised criteria 1998. Cincinnati, Ohio; 1998.
  5. Alberti PW. Occupational hearing loss, disease of the ear nose and throat in: Head neck surgery. 14th ed. Philadelphia, 1991. p. 1053-66.
  6. Davis I R, Hamernik P R. Noise and hearing Impairment In: Levy BS, Wegman DH, editors.Occupational health. 3rd ed. New York. USA: Little,Brown and Company; 1994. p. 321-5.

Kelelahan Berat

Selasa, Pebruari 11th, 2014

Oleh: dr. Raymos Parlindungan Hutapea, MKK

Anda seorang yang pekerja keras? Tidak memiliki waktu berlibur? Tidak naik pangkat ataupun gaji? Dan merasa sangat lelah? Mungkin anda mengalami Burn out.

Burn Out adalah keadaan kelelahan berat yang prosesnya bertahap dimana seseorang, dalam responnya terhadap stress dan ketegangan fisik, mental dan emosional yang berkepanjangan, melepaskan diri dari pekerjaan dan hubungan bermakna lainnya.  Dampaknya produktivitas menurun, sinisme, kebingungan, perasaan terkuras, merasa tidak memiliki sesuatu lagi untuk memberi.

Penyebab utama kelelahan biasanya berasal dari pekerjaan.  Tapi siapa pun yang merasa terlalu banyak bekerja dan tidak dihargai, berisiko mengalami burn out, misalnya pekerja kantor, pekerja keras yang tidak mendapat liburan atau kenaikan pangkat dan gaji dalam lima tahun.  Faktor lain yang berkontribusi terhadap kelelahan, termasuk gaya hidup, ciri kepribadian tertentu, apa yang pekerja tersebut lakukan dalam waktu senggangnya, dan bagaimana pekerja melihat dunia ini apakah menyenangkan, membosankan atau bahkan menakutkan.

Stress Akibat Kerja

Selasa, Pebruari 11th, 2014

oleh : dr.Endriana Svieta Lubis, MKK

BERATNYA beban kerja ternyata bukan sebab utama stres pada kebanyakan pekerja. Kelelahan psikologis saat kerja bukan pula semata-mata karena olok-olok antara pekerja atau karyawan.

Penyebab stres kerja, menurut penelitian baru-baru ini seperti dilansir MedicalDaily, lebih dikarenakan ketidakadilan di tempat kerja, lingkungan kerja, dan atasan atau pimpinan  yang terus-menerus tidak puas

Stress akibat kerja atau stress kerja adalah respon fisik dan emosional yang berbahaya yang timbul bila tuntutan pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan atau kebutuhan pekerja (NIOSH)(1)

Definisi lain menyatakan bahwa stress merupakan respon fisiologik, psikologik dan perilaku dari seseorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan internal dan eksternal(2)..