Kanker Serviks

Rabu, September 17th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto

 

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling sering diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua dari segi jumlah penderita kanker pada perempuan namun sebagai penyebab kematian masih menempati peringkat pertama.1,2 Berdasarkan data WHO (World Health Organization) pada tahun 2008 diperkirakan setiap harinya ada 38 kasus baru kanker serviks dan 21 orang perempuan yang meninggal karena kanker serviks di Indonesia.

Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia dipicu oleh beberapa hal seperti, faktor geografis Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau, tidak ada program screening,kurangnya fasilitas sitologi dan terapi, kurangnya kepatuhan pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin, sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV atau virus papiloma manusia). Jenis HPV yang onkogenik (berpotensi menyebabkan kanker serviks) adalah tipe 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58, 35, 59, 56, 51, 39, 68, 73, dan 82. 3 Di antara tipe-tipe tersebut, Sekitar 70% kejadian kanker serviks merupakan akibat dari HPV 16 dan HPV 18. 4 Infeksi HPV umumnya tidak menimbulkan gejala apapun pada penderitanya, bahkan ketika infeksi tersebut sudah menyebabkan lesi prakanker, yaitu perubahan sel pada lapisan epitel serviks yang berpotensi untuk berlanjut menjadi kanker serviks. Lesi prakanker sudah sejak lama dapat dideteksi melalui pemeriksaan tes Pap (papsmear).

Vaksin HPV dapat mencegah kanker serviks dengan cara mencegah terjadinya infeksi HPV pada epitel serviks, sehingga lebih lanjut dapat mencegah terjadinya lesi prakanker. Sebagai vaksin pencegahan terhadap kanker serviks, vaksin yang ada saat ini baru ditujukan untuk mencegah infeksi HPV onkogenik tipe 16 dan 18. Karena HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% penderita kanker serviks, maka diharapkan pemberian vaksinasi yang dapat mencegah infeksi kedua tipe HPV tersebut akan dapat menurunkan angka kejadian lesi prakanker dan kanker serviks hingga 70%-nya. 5-7

Pencegahan sekunder dengan tes Pap masih dibutuhkan karena kebanyakan vaksin HPV belum dapat mencegah lesi prakanker dan kanker yang disebabkan oleh HPV onkogenik selain tipe 16 dan 18. Ada pula vaksin HPV yang dapat digunakan untuk mencegah HPV tipe 6 dan 11 selain tipe 16 dan 18 (vaksin kuadrivalen).

Dari penelitian yang ada, populasi yang menjadi sasaran utama pemberian vaksin HPV adalah perempuan usia antara 9 hingga 26 tahun yang belum pernah melakukan kontak seksual. 8,9 Pemberian vaksin pada kelompok ini akan menurunkan secara bermakna angka kejadian kanker serviks.

Meski demikian vaksin HPV masih dapat diberikan dan memberikan hasil yang cukup baik pada kelompok yang sudah melakukan kontak seksual hingga usia 50 tahun, dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6.

Screening rutin yang dapat dilakukan berupa pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) untuk deteksi kanker serviks secara dini.

Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10-20 tahun. 10 Proses ini seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala.

Awalnya sel kanker berkembang dari serviks / mulut rahim yang letaknya berada di bawah rahim dan di atas vagina. Oleh sebab itu kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim. Di mulut rahim ada dua jenis sel, yaitu sel kolumnar dan sel skuamosa. Sel skuamus ini sangat berperan dalam perkembangan kanker serviks. Lihat gambar di bawah untuk mendapat gambaran tentang stadium kanker serviks:

Sebagian besar kasus yang ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Kanker serviks merupakan penyakit yang berjalan lambat (silent disease) sehingga pada stadium pra-kanker dan kanker stadium awal tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali.

Pertanda awal kanker serviks ditemukan adanya perdarahan pasca berhubungan intim tanpa atau disertai rasa sakit, keputihan berulang, berbau atau gatal dan tidak dapat sembuh dengan pengobatan biasa. Pada stadium lanjut, akan mengalami rasa sakit pada bagian paha atau salah satu paha mengalami pembengkakan, nafsu makan menjadi berkurang, berat badan tidak stabil (turun-naik), sulit buang air kecil, dan mengalami pendarahan spontan.

Kepastian diagnosa kanker serviks atau diagnosa pra-kanker memerlukan biopsi dari serviks. Biopsi umumnya dilakukan melalui colposcopy, inspeksi serviks melalui pencitraan yang diperbesar dengan melarutkan cairan asam untuk memperjelas sel-sel abnormal pada permukaan serviks.

Pengobatan kanker serviks tergantung stadiumnya, dapat berupa histerektomi (bedah pengangkatan rahim), terapi kemoterapi dan radioterapi.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, saran berikut dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus HPV :

  • Jalani pola hidup sehat dengan cara makan sayuran, buah dan sereal. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Konsumsi vitamin C, E, dan asam folat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Sebelum menggunakan toilet di tempat umum, selalu bersihkan bibir kloset, Jaga kebersihan genital.
  • Hindari hubungan seks di usia dini, berhubungan badan dengan banyak partner (berganti-ganti partner) karena virus HPV dapat menular melalui hubungan seksual.
  • Hindari merokok, karena dapat meningkatkan risiko kanker.

Daftar Pustaka

  1. Globocan 2008 Cancer Fact Street. Cervical cancer incidence and mortality world wide in 2008. Lion(France): IARC. C 2010
  2. WHO/ICO. Information centre on HPV and cervical cancer. Human papilloma virus and related cancers in world. Summary report update 2010, [cited: 2013 Dec 20]. Available from http://www.who.int/hpvcentre
  3. Howley P, Lowy D. Papillomaviruses and their replication. In: Knipe D, Howley P, editors. Fields Virology 4th ed. Philadelphia (PA): Lippincott-Raven; 2001. p. 2197–229.
  4. Muñoz N, Bosch F, S de Sanjosé. Epidemiologic classification of human papilloma virus types associated with cervical cancer. N Engl J Med. 2003;348:518–27.
  5. Shavit O, Raz R, Stein M, Chodick G, Schejter E, Ben-David Y, et al. Evaluating the epidemiology and morbidity burden associated with human papillomavirus in Israel: accounting for CIN1 and genital warts in addition to CIN2/3 and cervical cancer. App Health Econ Health Policy. 2012;10(2):87-97.
  6. Kasap B, Yetimalar H, Keklik A, Yildiz A, Cukurova K, Soylu F. Prevalence and risk factors for human papillomavirus DNA in cervical cytology. Eur J Obst Gynecol Reprod Biol.2011;159(1): 168-71.
  7. Protrka Z, Arsenijevic S, Dimitrijevic A, Mitrovic S, Stankovic V, Milosavljevic M, et al. Co-overexpression of bcl-2 and c-myc in uterine cervix carcinomas and premalignant lesions. Eur J Histochem. 2011;55(1):e8. Epub 2011/05/11.
  8. Hakim AA, Dinh TA. Worldwide impact of the human papillomavirus vaccine. Curr Treat Option Oncol. 2009;10(1-2):44-53. Epub 2009/04/24.
  9. Soldan VAP. Who is getting pap smears in urban Peru? Int J Epid. 2008(37):862-9.
  10. Canavan TP, Doshi NR. Cervical cancer. Am Fam Physician 2000;61:1369-76.

ERGONOMI

Selasa, Agustus 19th, 2014

dr. Puti Dwi Ginanti

Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.

Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :

  • Tehnik
  • Fisik
  • Pengalaman psikis
  • Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
  • Anthropometri
  • Sosiologi
  • Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot.
  • Desain, dll

Hepatitis B

Selasa, Agustus 19th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto, SpOk.

Hepatitis B adalah peradangan hati (liver) yang disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus ini termasuk family Hepadnaviridae. 1 Lebih dari 240 juta orang di dunia memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang) dan sekitar 600 000 orang meninggal setiap tahun karena konsekuensi akut atau kronis hepatitis B. 1,2  Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) positif > 6 bulan di dalam serum.

Manifestasi klinisnya dapat berupa hepatitis akut; berkembang menjadi kronis dan dapat berakibat menjadi hepatoselular karsinoma yang fatal. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki prevalensi HBsAg menengah, yaitu antara 3%-18,5%.3,4  Sebagian besar (40%-60%) infeksi HBV di Indonesia terjadi secara horizontal dan umumnya terjadi pada orang dewasa. Adapun infeksi vertikal (diturunkan) atau infeksi perinatal dari ibu ke bayi dapat juga terjadi, akan tetapi prevalensinya tidak terlalu tinggi diperkirakan sebesar  2,5%-20%. 4,5

Vaksinasi Influenza- Amankah untuk ibu Hamil?

Senin, Juli 21st, 2014

ibu hamilRekomendasi pemberian vaksin pada wanita hamil sangat sedikit dilakukan oleh banyak dokter. Kondisi ini disebabkan karena masih minimnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengaruh vaksinasi terhadap wanita hamil dan janinnya. Sejak tahun 2012 World Health Organization (WHO) telah mengindentifikasi bahwa wanita hamil merupakan kelompok prioritas tertinggi untuk menerima vaksinasi influenza. Hal yang serupa juga direkomendasikan oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). WHO merekomendasikan vaksinasi influenza (Trivalent Inactivated Vaccines) kepada wanita hamil yang berisiko dan dapat dilakukan pada usia kehamilan berapa pun. (IS)

Informasi lengkap dapat diunduh pada web-link berikut ini:

ROKOK

Senin, Juli 7th, 2014

oleh dr.Astri Mulyantini & dr.Puspita Sampekalo

MASALAH ROKOK

Mengapa berhenti dan tetap berhenti sulit bagi begitu banyak orang? Jawabannya adalah nikotin. Nikotin adalah obat yang ditemukan secara alami dalam tembakau. Bersifat adiktif seperti heroin atau kokain.  Sejalan dengan waktu, seseorang menjadi tergantung pada fisik dan emosional akibat kecanduan nikotin. Ketergantungan fisik menyebabkan gejala penarikan yang tidak menyenangkan ketika Anda mencoba untuk berhenti. Ketergantungan emosional dan mental membuat sulit untuk menjauh dari nikotin setelah berhenti.

Penelitian retrospektif di Indonesia menunjukkan hubungan antara perilaku merokok dan risiko mengarah ke penyakit kardiovaskuler (termasuk stroke), penyakit pernapasan dan kanker. Pada tahun 2007 mengungkapkan bahwa stroke adalah penyebab utama kematian (15,4% dari total kematian), diikuti oleh neoplasma (5,7%) dan penyakit jantung koroner (5.1%). Tak hanya berisiko menyebabkan penyakit berbahaya, rokok juga merupakan pintu menuju penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Penelitian yang pernah dilakukan BNN (Badan Narkotik Nasional) menemukan bahwa 90% orang yang kecanduan narkoba berawal dari kebiasaan merokok.

Aktivitas Fisik

Senin, Juli 7th, 2014

Oleh : dr. Astri Mulyantini

Mengenal Olahraga Sederhana Untuk Rutinitas Sehari-hari

Olahraga bukan saja sudah menjadi kebutuhan khusus bagi masyarakat, melainkan sudah menjadi gaya hidup atau trend masa kini. Hal ini merupakan hal yang positif, berarti tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan sudah jauh meningkat. Mudah-mudahan hal ini bukan hanya bersifat sesaat atau euforia semata. Namun olahraga seperti apakah yang dikatakan baik? Atau olahraga seperti apakah yang disarankan sesuai kebutuhan individu?

Pengertian olahraga

Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Sementara bugar adalah kegiatan kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang berlebihan.

SINDROM METABOLIK

Senin, Juli 7th, 2014

oleh dr.Puspita Sampekalo

Konsep dari Sindrom Metabolik telah ada sejak ±80 tahun yang lalu, pada tahun 1920, Kylin, seorang dokter Swedia, merupakan orang pertama yang menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan risiko penyakit kardiovaskuler aterosklerosis yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout.

Sindrom metabolik adalah kumpulan gejala dari berbagai faktor risiko kardiometabolik antara lain obesitas sentral, resistensi insulin, intoleransi glukosa, dislipidemia, non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), yang terjadi bersamaan, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan diabetes.

Menurut World Health Organization (WHO) di beberapa negara prevalensi overweight dan obesitas adalah diatas 1,7 milliar dan 310 juta. Di Indonesia prevalensi overweight dan obesitas adalah 8,8-10,3% (Riskesdas, 2007) dan di Medan dari data survei di Puskesmas adalah 51,0% (Survei Penyakit Degeneratif, 2006). Peningkatan prevalensi obesitas yang dramatis ini merupakan masalah serius karena dapat menyebabkan peningkatan penyakit lain yang berhubungan dengan obesitas.

APA ITU INFLUENZA

Jumat, Mei 2nd, 2014

OLEH :  dr. Endriana Svieta Lubis, MKK

influenza-a

Penyakit flu atau yang terkadang disebut sebagai penyakit influenza pasti sudah tidak asing bagi kita semua. Penyakit flu ini termasuk jenis penyakit yang sering menyerang masyarakat terlebih pada saat musim hujan dan musim pancaroba (pergantian musim). Sehingga bisa dibilang bahwa penyakit flu merupakan penyakit musiman di Indonesia.  Flu merupakan penyakit infeksi saluran nafas yang menyerang manusia tanpa mengenal umur, jenis kelamin, dll. Umumnya penyakit flu bisa sembuh dengan sendirinya dengan masa inkubasi rata- rata selama 2 – 4 hari.

Nyeri Punggung Bawah

Jumat, Mei 2nd, 2014

Oleh : dr. Ferdianto, SpOk

Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan kondisi yang sering dialami oleh banyak orang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hampir 50% orang dewasa pernah mengalami kondisi ini. Data ini semakin besar dengan bertambahnya usia penderita. Data di Amerika tahun 2009 menunjukkan bahwa dari 154 pensiunan tentara Amerika sebanyak 64% mengalami nyeri punggung bawah sedang sampai berat dalam 18 bulan setelah pensiun.1 Pasien LBP menempati urutan kedua setelah ISPA di Washington, Amerika Serikat (Richard et.al, 2001). Keluhan LBP umumnya berada dalam lima besar penyakit di klinik-klinik neurologi di Indonesia.