DETEKSI DINI DISLIPIDEMIA

Rabu, April 8th, 2015

Oleh : dr. Permata Novita Rina

Dislipidemia yaitu kelainan metabolisme lipid (=lemak) yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan/atau penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Prevalensi dislipidemia di Indonesia tahun 2004, didapatkan 16,2 % pada wanita dan 14 % pada pria.

Batasan kadar lipid dalam darah

Komponen Lipid

Batasan (mg/dl)

Klasifikasi

 Kolesterol Total

< 200

 Yang diinginkan

200 – 239

 Batas tinggi

> 240

 Tinggi

 Kolesterol LDL

< 100

 Optimal

100 – 129

 Mendekati optimal

130 – 159

 Batas tinggi

160 – 189

 Tinggi

> 190

 Sangat tinggi

 Kolesterol HDL

< 40

 Rendah

> 60

 Tinggi

 Trigliserida

< 150

 Normal

150 – 199

 Batas tinggi

200 – 499

 Tinggi

> 500

 Sangat tinggi

 

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya dislipidemia. Bisa disebabkan oleh faktor genetik atau juga bisa disebabkan faktor sekunder akibat dari penyakit lain seperti diabetes mellitus, sindroma nefrotik serta faktor kebiasaan diet lemak jenuh (saturated fat), kegemukan dan kurang olahraga.

Bagaimana mendiagnosis Dislipidemia ?

Penggunaan Back Support untuk Pencegahan Low Back Pain pada Pekerja

Rabu, Maret 11th, 2015

Oleh :

Raymos P Hutapea, Indah S Widyahening

 

ABSTRAK

 

Latar belakang: Penggunaan back support untuk pencegahan low back pain pada pekerja manual handling banyak dianjurkan, walaupun belum dapat dibuktikan efektivitasnya.

Tujuan: Memperoleh bukti apakah back support dapat digunakan untuk pencegahan low back pain pada pekerja.

Metode : Pencarian artikel dengan mempergunakan PubMed dan Google scholar serta kriteria inklusi  dan eksklusi yang telah ditentukan sebelumnya.  Artikel yang ditemukan kemudian dilakukan telaah dengan mempergunakan kriteria penilaian validitas, besarnya manfaat dan kemampu-terapan.

Hasil : Hasil pencarian didapatkan sebanyak 16 artikel dari PubMed dan 10 artikel dari Google scholar.  Hanya 1 artikel “systematic review” yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.  Artikel ini selanjutnya dilakukan telaah artikel berdasarkan tinjauan sistematis dengan hasil baik dan dapat dipercaya.

Kesimpulan : Belum diketemukannya bukti yang cukup tentang efektivitas penggunaan back support dalam pencegahan low back pain pada pekerja. Penggunaan back support untuk pencegahan low Back Pain pada pekerja dengan manual handling, masih belum bisa dibuktikan efektivitasnya.

Anjuran Bacaan Lanjutan:

  1. Back Belt, Do They Prevent Injury? http://www.cdc.gov/niosh/docs/94-127/
  2. Summary of NIOSH Back Belt Studies: Ergonomics and Musculoskeletal Disorder http://www.cdc.gov/niosh/topics/ergonomics/beltsumm.html

KANKER AKIBAT KERJA

Rabu, Pebruari 11th, 2015

http://us.images.detik.com/content/2013/03/15/763/173252_kankerts.jpg

Oleh: dr. Hayati Darmawi

Kanker merupakan sebuah penyakit tumor ganas yang dapat menyerang organ ataupun jaringan tubuh. Kanker dapat terjadi di berbagai bagian tubuh seperti paru, pankreas, mata, otak, kulit, syaraf, darah dan sebagainya. Meskipun kanker tidak memiliki gejala secara spesifik namun biasanya para penderita kanker akan mengeluhkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas
  2. Demam yang berkepanjangan
  3. Merasakan lelah berkepanjangan
  4. Rasa nyeri
  5. Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap, atau lebih kuning atau lebih merah.
  6. Diare atau sulit BAB yang berkepanjangan.
  7. dan gejala-gejala lainnya.

Sebagaian besar penderita kanker adalah usia dewasa dengan berbagai macam faktor penyebab. Banyak orang mengganggap penyakit kanker merupakan sebuah penyakit yang memilik risiko dari keturunan atau genetik, faktor kebiasaan dan gaya hidup dan faktor yang tidak diketahui penyebabnya. Namun pada kenyataannya hampir 20% penyakit kanker disebabkan oleh bahan karsinogenik seperti zat-zat kimia yang banyak digunakan oleh para pekerja dalam sebuah proses produksi.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Jumat, Januari 30th, 2015

Oleh : dr. Endang

http://4.bp.blogspot.com/-jlg1N2mQtrI/VLvP7kPVXwI/AAAAAAAACM0/U1bLux_oxk0/s1600/index.jpg

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata ‘safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Keselamatan kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, BAB I pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.

Kerja Shift Dapat Mengganggu Kemampuan Kognitif

Rabu, Desember 31st, 2014

shift-work

Kerja shift diketahui dapat menyebabkan gangguan circadian rhythms (jam biologis sirkadian), kehidupan sosial, serta peningkatan risiko gangguan kesehatan dan kewaspadaan terhadap kecelakaan kerja. Penelitian prospective cohort hingga tahun 1996 terhadap 3232 pekerja menunjukan data bahwa bekerja shift selama 10 tahun atau lebih memiliki hubungan yang kuat dengan terjadinya penurunan kemampuan kognitif. Penurunan kemampuan kognitif terjadi hingga 6,5 tahun lebih besar dibandingkan terhadap penurunan kemampuan kognitif pada rerata populasi umum. Penurunan kemampuan kognitif bisa mengalami perbaikan (recovery) dalam waktu 5 tahun setelah berhenti bekerja shift.

APAKAH HIV DAN AIDS ITU?

Senin, Desember 1st, 2014

Oleh: dr. Juliana Luwiharto

us-statistics-3

Apakah HIV?

HIV adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menurunkan kekebalan tubuh manusia dan termasuk golongan retrovirus yang terutama ditemukan di dalam cairan tubuh.

Apakah AIDS?

AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh.

AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh timbul berbagai penyakit oportunistik seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak, dan kanker.

Apa Perbedaan Antara Pengidap HIV Positif Dengan Penderita AIDS?

Kelelahan Kerja

Jumat, November 7th, 2014

fatiguedwoman

Kelelahan kerja tak jarang ditemui pada berbagai situasi kerja.  Kelelahan kerja dapat mengakibatkan gangguan ringan sampai berat. Pekerja menjadi mudah lelah, pusing, mual-mual, pegal-pegal, terganggu konsentrasi bekerja, mudah mengalami kecelakaan kerja, dan adanya kecenderungan peningkatan angka absensi.

Kelelahan kerja berarti berkurang atau hilangnya kesiagaan dan kemampuan untuk menampilkan keselamatan/keamanan yang tinggi di dalam bekerja.

Rekomendasi Latihan Fisik dan Kebugaran Bagi Pasien Pasca Stroke

Selasa, Oktober 28th, 2014

exerciseKaryawan pasca stroke sering mengalami kekhawatiran terhadap kemampuan dan keamanan dirinya saat kembali bekerja di tempat semula. American Heart Association/American Stroke Association merekomendasikan teknik pemulihan berupa  Mobilisasi Dini (dalam waktu 24 jam setelah stroke, dan secara berkala sesudahnya) yang dapat menghasilkan kemampuan berjalan dan meningkatkan pemulihan fungsional lebih dini. Setelah pasien stabil secara medis, tujuan berikutnya adalah untuk memulai program latihan aktivitas fisik yang dirancang untuk mendapatkan kembali atau melebihi tingkat sebelum terkena stroke.

Implementasi program memerlukan perencanaan yang matang dan multidisiplin. Pencapaian yang optimal dan aman guna mendukung produktivitas karyawan dan perushaan memerlukan dukungan dari bagian manajemen, operasional/produksi, dan K3 perusahaan serta konsultasi yang komprehensif dengan dokter spesialis jantung-pembuluh darah, spesialis rehabilitasi medis dan spesialis okupasi. (IS)

Sumber:

American Heart Association/American Stroke Association. Physical Activity and Exercise Recommendations for Stroke Survivors. Stroke, May 20, 2014. Cited from: http://stroke.ahajournals.org/content/early/2014/05/20/STR.0000000000000022

Diabetes Melitus

Sabtu, Oktober 4th, 2014

dr. Juliana Luwiharto, dr. Puti Dwi Ginanti

Definisi

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.

Klasifikasi

  • Diabetes Melitus tipe 1 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat destruksi (kerusakan) sel beta pancreas karena suatu sebab tertentu yang menyebabkan produksi insulin tidak ada sama sekali sehingga penderita sangat memerlukan tambahan insulin dari luar.
  • Diabetes Melitus tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau fungsi insulin (resistensi insulin)
  • Diabetes Melitus tipe lain adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetic lain yang berkaitan dengan DM
  • Diabetes Melitus tipe Gestasional adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah yang terjadi pada wanita hamil, biasanya terjadi pada usia 24 minggu masa kehamilan, dan setelah melahirkan gula darah kembali normal.

Konseling Grup Bagi Karyawan Penderita Diabetes Melitus

Jumat, Oktober 3rd, 2014

counseling group

Jumlah pasti pekerja yang menderita Diabetes Melitus (DM) di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Namun jumlahnya diperkirakan cukup banyak seiring dengan data nasional mengenai penderita Diabetes melitus. WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Program kesehatan kerja dalam sebuah perusahaan terhadap karyawannya yang menderita DM masih banyak dilakukan secara pendekatan individual. Penelitian yang dilakukan oleh Hwee* menunjukan bahwa konseling secara grup/kelompok memberikan manfaat perbaikan yang lebih bermakna dibanding konseling individual. Dibandingkan pada kelompok dengan pendekatan konseling individual, maka kelompok dengan pendekatan konseling grup/kelompok lebih sedikit mengalami perawatan di unit gawat darurat karena kejadian gula darah yang sangat menurun atau meningkat (OR 0.54, 95%, CI: 0.42–0.68),  menjalani rawat inap (OR 0.49, CI: 0.32–0.75) atau mengalami luka diabetika (OR 0.64, CI: 0.50–0.81). Selain itu, konseling secara grup/kelompok memiliki hasil yang lebih baik pada pemeriksaan HbA1c (OR 1.10, CI: 1.05–1.15), dan profil kolesterol (OR 1.25, CI: 1.19–1.32).

Untuk itu, dokter perusahaan sangat disarankan agar menyiapkan waktu secara berkala untuk edukasi, konseling, pengaturan kebutuhan kalori, cara merawat luka hingga penilaian kelaikan kerja terhadap karyawan yang menderita DM. Pendekatan secara grup/kelompok akan lebih memberikan manfaat peningkatan pemahaman tentang Diabetes melitus serta memupuk semangat karyawan untuk memperbaiki kualitas hidup dan produktivitasnya. (IS)

Sumber:

J. Hwee, K. Cauch-Dudek, J.C Victor, Ryan Ng, BR. Shah. Diabetes education through group classes leads to better care and outcomes than individual counselling in adults: A population-based cohort study. Can J Public Health. 2014;105: e192-e197.