PERI Research (Prodia Education and Research Intitute)

Kamis, Juli 6th, 2017

PERI’s Research Grant Tahun 2017 ini adalah hibah riset yang diberikan oleh Prodia Education and Research Institute kepada pemohon yang berasal dari lembaga penelitian mandiri, universitas, ataupun jenjang pendidikan tinggi lainnya. PERI’s Research Grant ini mencakup semua biaya untuk pekerjaan laboratorium dan publikasi dengan jumlah maksimal sebesar Rp. 100.000.000. Topik riset yang akan dilakukan harus dalam ruang lingkup laboratorium klinik, kesehatan okupasi, sel punca, ataupun ilmu biomedik.

Penggunaan Back Support untuk Pencegahan Low Back Pain pada Pekerja

Rabu, Maret 11th, 2015

Oleh :

Raymos P Hutapea, Indah S Widyahening

 

ABSTRAK

 

Latar belakang: Penggunaan back support untuk pencegahan low back pain pada pekerja manual handling banyak dianjurkan, walaupun belum dapat dibuktikan efektivitasnya.

Tujuan: Memperoleh bukti apakah back support dapat digunakan untuk pencegahan low back pain pada pekerja.

Metode : Pencarian artikel dengan mempergunakan PubMed dan Google scholar serta kriteria inklusi  dan eksklusi yang telah ditentukan sebelumnya.  Artikel yang ditemukan kemudian dilakukan telaah dengan mempergunakan kriteria penilaian validitas, besarnya manfaat dan kemampu-terapan.

Hasil : Hasil pencarian didapatkan sebanyak 16 artikel dari PubMed dan 10 artikel dari Google scholar.  Hanya 1 artikel “systematic review” yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.  Artikel ini selanjutnya dilakukan telaah artikel berdasarkan tinjauan sistematis dengan hasil baik dan dapat dipercaya.

Kesimpulan : Belum diketemukannya bukti yang cukup tentang efektivitas penggunaan back support dalam pencegahan low back pain pada pekerja. Penggunaan back support untuk pencegahan low Back Pain pada pekerja dengan manual handling, masih belum bisa dibuktikan efektivitasnya.

Anjuran Bacaan Lanjutan:

  1. Back Belt, Do They Prevent Injury? http://www.cdc.gov/niosh/docs/94-127/
  2. Summary of NIOSH Back Belt Studies: Ergonomics and Musculoskeletal Disorder http://www.cdc.gov/niosh/topics/ergonomics/beltsumm.html

Kerja Shift Dapat Mengganggu Kemampuan Kognitif

Rabu, Desember 31st, 2014

shift-work

Kerja shift diketahui dapat menyebabkan gangguan circadian rhythms (jam biologis sirkadian), kehidupan sosial, serta peningkatan risiko gangguan kesehatan dan kewaspadaan terhadap kecelakaan kerja. Penelitian prospective cohort hingga tahun 1996 terhadap 3232 pekerja menunjukan data bahwa bekerja shift selama 10 tahun atau lebih memiliki hubungan yang kuat dengan terjadinya penurunan kemampuan kognitif. Penurunan kemampuan kognitif terjadi hingga 6,5 tahun lebih besar dibandingkan terhadap penurunan kemampuan kognitif pada rerata populasi umum. Penurunan kemampuan kognitif bisa mengalami perbaikan (recovery) dalam waktu 5 tahun setelah berhenti bekerja shift.

Rekomendasi Latihan Fisik dan Kebugaran Bagi Pasien Pasca Stroke

Selasa, Oktober 28th, 2014

exerciseKaryawan pasca stroke sering mengalami kekhawatiran terhadap kemampuan dan keamanan dirinya saat kembali bekerja di tempat semula. American Heart Association/American Stroke Association merekomendasikan teknik pemulihan berupa  Mobilisasi Dini (dalam waktu 24 jam setelah stroke, dan secara berkala sesudahnya) yang dapat menghasilkan kemampuan berjalan dan meningkatkan pemulihan fungsional lebih dini. Setelah pasien stabil secara medis, tujuan berikutnya adalah untuk memulai program latihan aktivitas fisik yang dirancang untuk mendapatkan kembali atau melebihi tingkat sebelum terkena stroke.

Implementasi program memerlukan perencanaan yang matang dan multidisiplin. Pencapaian yang optimal dan aman guna mendukung produktivitas karyawan dan perushaan memerlukan dukungan dari bagian manajemen, operasional/produksi, dan K3 perusahaan serta konsultasi yang komprehensif dengan dokter spesialis jantung-pembuluh darah, spesialis rehabilitasi medis dan spesialis okupasi. (IS)

Sumber:

American Heart Association/American Stroke Association. Physical Activity and Exercise Recommendations for Stroke Survivors. Stroke, May 20, 2014. Cited from: http://stroke.ahajournals.org/content/early/2014/05/20/STR.0000000000000022

Konseling Grup Bagi Karyawan Penderita Diabetes Melitus

Jumat, Oktober 3rd, 2014

counseling group

Jumlah pasti pekerja yang menderita Diabetes Melitus (DM) di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Namun jumlahnya diperkirakan cukup banyak seiring dengan data nasional mengenai penderita Diabetes melitus. WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Program kesehatan kerja dalam sebuah perusahaan terhadap karyawannya yang menderita DM masih banyak dilakukan secara pendekatan individual. Penelitian yang dilakukan oleh Hwee* menunjukan bahwa konseling secara grup/kelompok memberikan manfaat perbaikan yang lebih bermakna dibanding konseling individual. Dibandingkan pada kelompok dengan pendekatan konseling individual, maka kelompok dengan pendekatan konseling grup/kelompok lebih sedikit mengalami perawatan di unit gawat darurat karena kejadian gula darah yang sangat menurun atau meningkat (OR 0.54, 95%, CI: 0.42–0.68),  menjalani rawat inap (OR 0.49, CI: 0.32–0.75) atau mengalami luka diabetika (OR 0.64, CI: 0.50–0.81). Selain itu, konseling secara grup/kelompok memiliki hasil yang lebih baik pada pemeriksaan HbA1c (OR 1.10, CI: 1.05–1.15), dan profil kolesterol (OR 1.25, CI: 1.19–1.32).

Untuk itu, dokter perusahaan sangat disarankan agar menyiapkan waktu secara berkala untuk edukasi, konseling, pengaturan kebutuhan kalori, cara merawat luka hingga penilaian kelaikan kerja terhadap karyawan yang menderita DM. Pendekatan secara grup/kelompok akan lebih memberikan manfaat peningkatan pemahaman tentang Diabetes melitus serta memupuk semangat karyawan untuk memperbaiki kualitas hidup dan produktivitasnya. (IS)

Sumber:

J. Hwee, K. Cauch-Dudek, J.C Victor, Ryan Ng, BR. Shah. Diabetes education through group classes leads to better care and outcomes than individual counselling in adults: A population-based cohort study. Can J Public Health. 2014;105: e192-e197.

Vaksinasi Influenza- Amankah untuk ibu Hamil?

Senin, Juli 21st, 2014

ibu hamilRekomendasi pemberian vaksin pada wanita hamil sangat sedikit dilakukan oleh banyak dokter. Kondisi ini disebabkan karena masih minimnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengaruh vaksinasi terhadap wanita hamil dan janinnya. Sejak tahun 2012 World Health Organization (WHO) telah mengindentifikasi bahwa wanita hamil merupakan kelompok prioritas tertinggi untuk menerima vaksinasi influenza. Hal yang serupa juga direkomendasikan oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). WHO merekomendasikan vaksinasi influenza (Trivalent Inactivated Vaccines) kepada wanita hamil yang berisiko dan dapat dilakukan pada usia kehamilan berapa pun. (IS)

Informasi lengkap dapat diunduh pada web-link berikut ini: