KANKER AKIBAT KERJA

Rabu, Pebruari 11th, 2015

http://us.images.detik.com/content/2013/03/15/763/173252_kankerts.jpg

Oleh: dr. Hayati Darmawi

Kanker merupakan sebuah penyakit tumor ganas yang dapat menyerang organ ataupun jaringan tubuh. Kanker dapat terjadi di berbagai bagian tubuh seperti paru, pankreas, mata, otak, kulit, syaraf, darah dan sebagainya. Meskipun kanker tidak memiliki gejala secara spesifik namun biasanya para penderita kanker akan mengeluhkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas
  2. Demam yang berkepanjangan
  3. Merasakan lelah berkepanjangan
  4. Rasa nyeri
  5. Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap, atau lebih kuning atau lebih merah.
  6. Diare atau sulit BAB yang berkepanjangan.
  7. dan gejala-gejala lainnya.

Sebagaian besar penderita kanker adalah usia dewasa dengan berbagai macam faktor penyebab. Banyak orang mengganggap penyakit kanker merupakan sebuah penyakit yang memilik risiko dari keturunan atau genetik, faktor kebiasaan dan gaya hidup dan faktor yang tidak diketahui penyebabnya. Namun pada kenyataannya hampir 20% penyakit kanker disebabkan oleh bahan karsinogenik seperti zat-zat kimia yang banyak digunakan oleh para pekerja dalam sebuah proses produksi.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Jumat, Januari 30th, 2015

Oleh : dr. Endang

http://4.bp.blogspot.com/-jlg1N2mQtrI/VLvP7kPVXwI/AAAAAAAACM0/U1bLux_oxk0/s1600/index.jpg

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata ‘safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Keselamatan kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, BAB I pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.

APAKAH HIV DAN AIDS ITU?

Senin, Desember 1st, 2014

Oleh: dr. Juliana Luwiharto

us-statistics-3

Apakah HIV?

HIV adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menurunkan kekebalan tubuh manusia dan termasuk golongan retrovirus yang terutama ditemukan di dalam cairan tubuh.

Apakah AIDS?

AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh.

AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh timbul berbagai penyakit oportunistik seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak, dan kanker.

Apa Perbedaan Antara Pengidap HIV Positif Dengan Penderita AIDS?

Kelelahan Kerja

Jumat, November 7th, 2014

fatiguedwoman

Kelelahan kerja tak jarang ditemui pada berbagai situasi kerja.  Kelelahan kerja dapat mengakibatkan gangguan ringan sampai berat. Pekerja menjadi mudah lelah, pusing, mual-mual, pegal-pegal, terganggu konsentrasi bekerja, mudah mengalami kecelakaan kerja, dan adanya kecenderungan peningkatan angka absensi.

Kelelahan kerja berarti berkurang atau hilangnya kesiagaan dan kemampuan untuk menampilkan keselamatan/keamanan yang tinggi di dalam bekerja.

Diabetes Melitus

Sabtu, Oktober 4th, 2014

dr. Juliana Luwiharto, dr. Puti Dwi Ginanti

Definisi

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.

Klasifikasi

  • Diabetes Melitus tipe 1 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat destruksi (kerusakan) sel beta pancreas karena suatu sebab tertentu yang menyebabkan produksi insulin tidak ada sama sekali sehingga penderita sangat memerlukan tambahan insulin dari luar.
  • Diabetes Melitus tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau fungsi insulin (resistensi insulin)
  • Diabetes Melitus tipe lain adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetic lain yang berkaitan dengan DM
  • Diabetes Melitus tipe Gestasional adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah yang terjadi pada wanita hamil, biasanya terjadi pada usia 24 minggu masa kehamilan, dan setelah melahirkan gula darah kembali normal.

Kanker Serviks

Rabu, September 17th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto

 

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling sering diderita oleh perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua dari segi jumlah penderita kanker pada perempuan namun sebagai penyebab kematian masih menempati peringkat pertama.1,2 Berdasarkan data WHO (World Health Organization) pada tahun 2008 diperkirakan setiap harinya ada 38 kasus baru kanker serviks dan 21 orang perempuan yang meninggal karena kanker serviks di Indonesia.

Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia dipicu oleh beberapa hal seperti, faktor geografis Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau, tidak ada program screening,kurangnya fasilitas sitologi dan terapi, kurangnya kepatuhan pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin, sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV atau virus papiloma manusia). Jenis HPV yang onkogenik (berpotensi menyebabkan kanker serviks) adalah tipe 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58, 35, 59, 56, 51, 39, 68, 73, dan 82. 3 Di antara tipe-tipe tersebut, Sekitar 70% kejadian kanker serviks merupakan akibat dari HPV 16 dan HPV 18. 4 Infeksi HPV umumnya tidak menimbulkan gejala apapun pada penderitanya, bahkan ketika infeksi tersebut sudah menyebabkan lesi prakanker, yaitu perubahan sel pada lapisan epitel serviks yang berpotensi untuk berlanjut menjadi kanker serviks. Lesi prakanker sudah sejak lama dapat dideteksi melalui pemeriksaan tes Pap (papsmear).

Vaksin HPV dapat mencegah kanker serviks dengan cara mencegah terjadinya infeksi HPV pada epitel serviks, sehingga lebih lanjut dapat mencegah terjadinya lesi prakanker. Sebagai vaksin pencegahan terhadap kanker serviks, vaksin yang ada saat ini baru ditujukan untuk mencegah infeksi HPV onkogenik tipe 16 dan 18. Karena HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% penderita kanker serviks, maka diharapkan pemberian vaksinasi yang dapat mencegah infeksi kedua tipe HPV tersebut akan dapat menurunkan angka kejadian lesi prakanker dan kanker serviks hingga 70%-nya. 5-7

Pencegahan sekunder dengan tes Pap masih dibutuhkan karena kebanyakan vaksin HPV belum dapat mencegah lesi prakanker dan kanker yang disebabkan oleh HPV onkogenik selain tipe 16 dan 18. Ada pula vaksin HPV yang dapat digunakan untuk mencegah HPV tipe 6 dan 11 selain tipe 16 dan 18 (vaksin kuadrivalen).

Dari penelitian yang ada, populasi yang menjadi sasaran utama pemberian vaksin HPV adalah perempuan usia antara 9 hingga 26 tahun yang belum pernah melakukan kontak seksual. 8,9 Pemberian vaksin pada kelompok ini akan menurunkan secara bermakna angka kejadian kanker serviks.

Meski demikian vaksin HPV masih dapat diberikan dan memberikan hasil yang cukup baik pada kelompok yang sudah melakukan kontak seksual hingga usia 50 tahun, dengan jadwal suntikan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan 0, 1 dan 6.

Screening rutin yang dapat dilakukan berupa pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) untuk deteksi kanker serviks secara dini.

Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10-20 tahun. 10 Proses ini seringkali tidak disadari hingga kemudian sampai pada tahap pra-kanker tanpa gejala.

Awalnya sel kanker berkembang dari serviks / mulut rahim yang letaknya berada di bawah rahim dan di atas vagina. Oleh sebab itu kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim. Di mulut rahim ada dua jenis sel, yaitu sel kolumnar dan sel skuamosa. Sel skuamus ini sangat berperan dalam perkembangan kanker serviks. Lihat gambar di bawah untuk mendapat gambaran tentang stadium kanker serviks:

Sebagian besar kasus yang ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Kanker serviks merupakan penyakit yang berjalan lambat (silent disease) sehingga pada stadium pra-kanker dan kanker stadium awal tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali.

Pertanda awal kanker serviks ditemukan adanya perdarahan pasca berhubungan intim tanpa atau disertai rasa sakit, keputihan berulang, berbau atau gatal dan tidak dapat sembuh dengan pengobatan biasa. Pada stadium lanjut, akan mengalami rasa sakit pada bagian paha atau salah satu paha mengalami pembengkakan, nafsu makan menjadi berkurang, berat badan tidak stabil (turun-naik), sulit buang air kecil, dan mengalami pendarahan spontan.

Kepastian diagnosa kanker serviks atau diagnosa pra-kanker memerlukan biopsi dari serviks. Biopsi umumnya dilakukan melalui colposcopy, inspeksi serviks melalui pencitraan yang diperbesar dengan melarutkan cairan asam untuk memperjelas sel-sel abnormal pada permukaan serviks.

Pengobatan kanker serviks tergantung stadiumnya, dapat berupa histerektomi (bedah pengangkatan rahim), terapi kemoterapi dan radioterapi.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, saran berikut dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus HPV :

  • Jalani pola hidup sehat dengan cara makan sayuran, buah dan sereal. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Konsumsi vitamin C, E, dan asam folat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Sebelum menggunakan toilet di tempat umum, selalu bersihkan bibir kloset, Jaga kebersihan genital.
  • Hindari hubungan seks di usia dini, berhubungan badan dengan banyak partner (berganti-ganti partner) karena virus HPV dapat menular melalui hubungan seksual.
  • Hindari merokok, karena dapat meningkatkan risiko kanker.

Daftar Pustaka

  1. Globocan 2008 Cancer Fact Street. Cervical cancer incidence and mortality world wide in 2008. Lion(France): IARC. C 2010
  2. WHO/ICO. Information centre on HPV and cervical cancer. Human papilloma virus and related cancers in world. Summary report update 2010, [cited: 2013 Dec 20]. Available from http://www.who.int/hpvcentre
  3. Howley P, Lowy D. Papillomaviruses and their replication. In: Knipe D, Howley P, editors. Fields Virology 4th ed. Philadelphia (PA): Lippincott-Raven; 2001. p. 2197–229.
  4. Muñoz N, Bosch F, S de Sanjosé. Epidemiologic classification of human papilloma virus types associated with cervical cancer. N Engl J Med. 2003;348:518–27.
  5. Shavit O, Raz R, Stein M, Chodick G, Schejter E, Ben-David Y, et al. Evaluating the epidemiology and morbidity burden associated with human papillomavirus in Israel: accounting for CIN1 and genital warts in addition to CIN2/3 and cervical cancer. App Health Econ Health Policy. 2012;10(2):87-97.
  6. Kasap B, Yetimalar H, Keklik A, Yildiz A, Cukurova K, Soylu F. Prevalence and risk factors for human papillomavirus DNA in cervical cytology. Eur J Obst Gynecol Reprod Biol.2011;159(1): 168-71.
  7. Protrka Z, Arsenijevic S, Dimitrijevic A, Mitrovic S, Stankovic V, Milosavljevic M, et al. Co-overexpression of bcl-2 and c-myc in uterine cervix carcinomas and premalignant lesions. Eur J Histochem. 2011;55(1):e8. Epub 2011/05/11.
  8. Hakim AA, Dinh TA. Worldwide impact of the human papillomavirus vaccine. Curr Treat Option Oncol. 2009;10(1-2):44-53. Epub 2009/04/24.
  9. Soldan VAP. Who is getting pap smears in urban Peru? Int J Epid. 2008(37):862-9.
  10. Canavan TP, Doshi NR. Cervical cancer. Am Fam Physician 2000;61:1369-76.

ERGONOMI

Selasa, Agustus 19th, 2014

dr. Puti Dwi Ginanti

Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.

Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :

  • Tehnik
  • Fisik
  • Pengalaman psikis
  • Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
  • Anthropometri
  • Sosiologi
  • Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot.
  • Desain, dll

Hepatitis B

Selasa, Agustus 19th, 2014

Oleh : dr. Ferdianto, SpOk.

Hepatitis B adalah peradangan hati (liver) yang disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus ini termasuk family Hepadnaviridae. 1 Lebih dari 240 juta orang di dunia memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang) dan sekitar 600 000 orang meninggal setiap tahun karena konsekuensi akut atau kronis hepatitis B. 1,2  Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) positif > 6 bulan di dalam serum.

Manifestasi klinisnya dapat berupa hepatitis akut; berkembang menjadi kronis dan dapat berakibat menjadi hepatoselular karsinoma yang fatal. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki prevalensi HBsAg menengah, yaitu antara 3%-18,5%.3,4  Sebagian besar (40%-60%) infeksi HBV di Indonesia terjadi secara horizontal dan umumnya terjadi pada orang dewasa. Adapun infeksi vertikal (diturunkan) atau infeksi perinatal dari ibu ke bayi dapat juga terjadi, akan tetapi prevalensinya tidak terlalu tinggi diperkirakan sebesar  2,5%-20%. 4,5

ROKOK

Senin, Juli 7th, 2014

oleh dr.Astri Mulyantini & dr.Puspita Sampekalo

MASALAH ROKOK

Mengapa berhenti dan tetap berhenti sulit bagi begitu banyak orang? Jawabannya adalah nikotin. Nikotin adalah obat yang ditemukan secara alami dalam tembakau. Bersifat adiktif seperti heroin atau kokain.  Sejalan dengan waktu, seseorang menjadi tergantung pada fisik dan emosional akibat kecanduan nikotin. Ketergantungan fisik menyebabkan gejala penarikan yang tidak menyenangkan ketika Anda mencoba untuk berhenti. Ketergantungan emosional dan mental membuat sulit untuk menjauh dari nikotin setelah berhenti.

Penelitian retrospektif di Indonesia menunjukkan hubungan antara perilaku merokok dan risiko mengarah ke penyakit kardiovaskuler (termasuk stroke), penyakit pernapasan dan kanker. Pada tahun 2007 mengungkapkan bahwa stroke adalah penyebab utama kematian (15,4% dari total kematian), diikuti oleh neoplasma (5,7%) dan penyakit jantung koroner (5.1%). Tak hanya berisiko menyebabkan penyakit berbahaya, rokok juga merupakan pintu menuju penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Penelitian yang pernah dilakukan BNN (Badan Narkotik Nasional) menemukan bahwa 90% orang yang kecanduan narkoba berawal dari kebiasaan merokok.

Aktivitas Fisik

Senin, Juli 7th, 2014

Oleh : dr. Astri Mulyantini

Mengenal Olahraga Sederhana Untuk Rutinitas Sehari-hari

Olahraga bukan saja sudah menjadi kebutuhan khusus bagi masyarakat, melainkan sudah menjadi gaya hidup atau trend masa kini. Hal ini merupakan hal yang positif, berarti tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan sudah jauh meningkat. Mudah-mudahan hal ini bukan hanya bersifat sesaat atau euforia semata. Namun olahraga seperti apakah yang dikatakan baik? Atau olahraga seperti apakah yang disarankan sesuai kebutuhan individu?

Pengertian olahraga

Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Sementara bugar adalah kegiatan kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang berlebihan.