PERI Research (Prodia Education and Research Intitute)

Kamis, Juli 6th, 2017

PERI’s Research Grant Tahun 2017 ini adalah hibah riset yang diberikan oleh Prodia Education and Research Institute kepada pemohon yang berasal dari lembaga penelitian mandiri, universitas, ataupun jenjang pendidikan tinggi lainnya. PERI’s Research Grant ini mencakup semua biaya untuk pekerjaan laboratorium dan publikasi dengan jumlah maksimal sebesar Rp. 100.000.000. Topik riset yang akan dilakukan harus dalam ruang lingkup laboratorium klinik, kesehatan okupasi, sel punca, ataupun ilmu biomedik.

Promo Bulan Peduli Kesehatan Serviks

Senin, Januari 2nd, 2017

PROMOOOO…

Memperingati bulan peduli kesehatan serviks, Prodia OHI mengadakan promo keringanan biaya 15% berlaku di Prodia OHC Jakarta dan Cikarang. Ayo bagi para perempuan yang peduli akan kesehatan kewanitaan langsung datang ke klinik Prodia OHC, promo terbatas sampai 31 Januari 2017

Apa Yang Dunia Usaha Bisa Lakukan Untuk Membantu Kesejahteraan Mental Pekerja?

Kamis, November 3rd, 2016

By dr. Laila Aidi

 

gambar diambil dari website ccoh.ca

Di awal pekan bulan September, “The Conference Board of Canada” merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa produktivitas yang hilang karena pekerja yang mengalami depresi dan kecemasan menelan biaya ekonomi hampir $ 50 miliar Canada per tahun. Kerugian ini tidak hanya disebabkan jumlah absensi, namun juga abstinensia: pekerja,yang ketika mereka hadir di tempat kerja, tetapi dengan produktivitas yang menurun.

Wakil Presiden lembaga tersebut menyebutkan, laporan ini seharusnya menjadi sebuah wake-up call  bagi para pengusaha, pemilik bisnis dan asuransi untuk perlu bertindak lebih strategis tentang isu kesehatan mental. Saat ini, pemerintah masih menjadi satu-satunya agen yang fokus berurusan dengan masalah kesehatan mental, sementara perhatian tidak biasanya diberikan oleh dunia usaha.

Penyakit mental dan kecemasan memang tidak seharusnya menjadi tanggung jawab penuh pengusaha. Akan tetapi, jika lebih pengusaha akan mengambil waktu untuk benar-benar berpikir tentang bagaimana berINVESTASI terhadap karyawan mereka melalui kesehatan mental maka tentu return of investment (ROI) yang didapat bisa sangat besar.

Mitra untuk Kesehatan Mental (Partner for Mental Health) meluncurkan kampanye “Not My Self” beberapa tahun yang lalu. Sejak diluncurkan, mereka telah memiliki lebih dari 320 perusahaan dan organisasi yang mengambil bagian dalam kampanye ini.

Sementara itu The Mental Health Commission of Canada (MHCC) membuat sebuah program yang disebut ‘The Working Mind” sebuah program edukasi yang dirancang untuk mempromosikan dan menghilangkan stigma terhadap kesejahteraan mental di tempat kerja.

Lembaga dan usaha ini patut dipikirkan hadir di Indonesia dengan tujuan dapat mendukung kesehatan dan kesejahteraan mental pekerja, mendorong produktivitas penuh pekerja, memastikan tempat bekerja adalah sebuah tempat yang aman dengan suasana saling menghargai termasuk terhadap pekerja yang mengalami permasalahan mental, serta mendukung agar pekerja mencari pertolongan untuk mengatasi permasalahn mental dan penyakit mental.

Mari melihat pada kampanye ini atau bahkan mungkin menjadi tuan rumah sebuah acara di kantor anda. Satu pertemuan sederhana mungkin saja bisa mengubah tidak hanya satu kehidupan karyawan, tetapi bisnis anda juga. Rencanakan program promosi kesehatan mental. Lakukan Mental Health Screening dengan provider kesehatan kerja yang Anda percayai. Bicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan mental, Bullying, misalnya.  Jika anda seorang pemilik bisnis, luangkan waktu untuk berpikir tentang karyawan anda dan bagaimana organisasi anda mungkin dapat meningkatkan kesehatan mental mereka.

Jika Anda sudah mengambil langkah-langkah ke arah itu dan memiliki cara yang unik atau inovatif melakukannya, tulislah di komentar di bawah ini.

Laik Kerja Apakah Itu?

Senin, September 26th, 2016

Tujuan utama dari pemeriksaan kesehatan kerja adalah memastikan bahwa seorang calon pekerja / pekerja cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukannya, dengan kata lain laik kerja untuk pekerjaan tertentu. Untuk tujuan ini, perusahaan bertanggung jawab dalam memahami detil tuntutan / kebutuhan pekerjaan tersebut sehingga dapat menetapkan kriteria kelaikan kerja untuk pekerjaan tertentu. Dalam mencapai tujuan tersebut, perusahaan dapat menunjuk dokter perusahaan untuk melakukan asesmen kelaikan kerja atau menunjuk penyedia jasa pemeriksaan kesehatan yang berkompeten di bidang okupasi.

Penyedia jasa pemeriksaan kesehatan bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang sahih, memberikan rekomendasi awal status kelaikan kerja dan rekomendasi pemeriksaan lanjutan bila diperlukan. Istilah rekomendasi awal merujuk pada kondisi bahwa seringkali penyedia jasa kesehatan tidak mengetahui dengan detail tuntutan/ kebutuhan pekerjaan dan kondisi lingkungan kerja dari seorang pekerja sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Dasar Pertimbangan Dalam Penentuan Kelaikan Kerja

Prinsip dasar dari penetapan status kelaikan kerja adalah bahwa asesmen yang dilakukan hanya berlaku untuk 1 jenis pekerjaan tertentu atau sekelompok pekerjaan dengan konteks dan kebutuhan kerja yang serupa. Faktor pekerjaan yang mempengaruhi dan dijadikan dasar pertimbangan dalam menentukan kelaikan kerja diantaranya adalah:

  • Tingkat keterampilan, kapasitas fisik, mental, ketajaman sensoris dan ketelitian yang dibutuhkan
  • Potensi dampak negatif pekerjaan atau lingkungan pekerjaan terhadap kesehatan pekerja
  • Potensi dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan bagi pekerja lain dan atau masyarakat
  • Apakah pekerjaan menuntut kesiapan untuk keadaan darurat sehingga membutuhkan tingkat kebugaran yang lebih tinggi

Dikenal ada 2 pendekatan yang harus dilakukan dalam melakukan asesmen kelaikan kerja, yaitu pendekatan klinis dan pendekatan okupasi yaitu kebutuhan / tuntutan pekerjaan / kondisi di tempat kerjanya dengan mempertimbangkan kebutuhan dan risiko pekerjaan serta aspek medikolegal dalam pelaksanaan, pencatatan dan pelaporannya. Pendekatan klinis digunakan untuk menilai status kesehatannya, sedangkan pendekatan okupasi diperlukan untuk menilai apakah seorang pekerja dengan status kesehatan demikian dapat cocok dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Oleh karenanya kedua pendekatan ini harus objektif dan terukur yang ditunjukkan dengan adanya kriteria batas putus (cut-off) sesuai dengan standar-standar yang berlaku atau berbasiskan bukti yang sahih.

Pada dasarnya hasil asesmen kelaikan kerja akan terbagi dalam 4 kategori di bawah ini yaitu:

1. Laik kerja

Pekerja dianggap memenuhi syarat kesehatan untuk melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan, yakni mampu melakukan tanggung jawab pekerjaan mereka tanpa pembatasan apapun.

2. Laik kerja dengan catatan

Secara keseluruhan didapatkan adanya kelainan medis minor dengan tingkat risiko rendah – sedang yang membutuhkan pengelolaan, namun pekerja dapat dianggap cakap dan mampu memenuhi kebutuhan pekerjaannya.

3. Tidak laik kerja untuk sementara waktu

Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan adanya kelainan medis yang membutuhkan tindak lanjut segera karena berpotensi membahayakan jiwa, menimbulkan komplikasi berat dan atau kecacatan lanjut, membahayakan pekerja lain atau asset perusahaan, dan diharapkan kondisi ini dapat pulih atau positive progress? dalam kurun waktu 8 minggu

4. Tidak laik kerja

Karena kondisinya, pekerja tidak laik kerja secara permanen untuk satu jenis pekerjaan tertentu, namun masih mungkin dapat bekerja dengan baik untuk jenis pekerjaan lainnya.

One of the most critical aspects of the fitness screening process is ensuring that the medical examiner or health assessor understands the context and critical job requirements that may be required of the individual (See, 2003)

This is not a “one size fits all” approach

dr. Liem Jen Fuk MKK Sp. Ok adalah Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi. Selain beraktivitas sebagai Business Development Manager di Prodia Occupational Health Instite (OHI) International beliau juga mengajar  di Fakultas Kedokteran UKRIDA dan Universitas Indonesia serta aktif di organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (PERDOKI). Dr. Liem Jen Fuk dapat di kontak di liem.jf@prodiaohi.co.id

foto “Analyzing Paper Work” by pakorn diambil dari FreeDigitalPhotos.net

artikel ini telah dimuat di Majalah Katiga edisi 60/th.VIII/2016

Jantung anda, Hidup Anda

Selasa, Agustus 23rd, 2016

Oleh : dr. Laila Aidi

Waspada!!

Nyeri dada, cepat lelah, sesak nafas disertai jantung berdebar-debar merupakan gejala penyakit jantung

Mengapa Perlu Check-Up?

Seorang wanita berusia 34 tahun sedang berada di kantor saat ia mengeluh nyeri dada dan kehilangan kesadaran tidka lama setelahnya. Ia pun harus dirawat karena serangan jantung. Rekan kerja, atasan dan keluarga terheran heran mengapa usia muda bisa terkena serangan jantung. Akhirnya ia harus menjalani kateterisasi yang membutuhkan biaya besar dan absen dari kantor untuk sementara waktu.

Seorang pria berusia 40 tahun terkena stroke dan kejang setelah pulang dari kantor. Beruntung Ia ditemukan segera dan cepat mendapat pertolongan di Unit Stroke di rumah sakit. Pasien ini kembali pulih namun harus terus menjalani fisioterapi hingga fungsi motoriknya kembali.

llustrasi di atas adalah gambaran bahwa siapa saja bisa terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, tanpa memandang : usia, janis kelamin, apakah sering berolah raga, yang tampaknya disiplin dengan pola hidupnya, yang belia, yang tidak gemuk, yang tidak pernah merasa ada gangguan apapun dalam hidupnya, bahkan terheran-heran rasanya, tidak mungkin, dan sebagainya. Banyak yang harus menerima kenyataan tersebut pada usia yang muda, saat kariernya cemerlang, saat menjadi tulang punggung keluarga, tulang punggung roda usahanya, ternyata harus istirahat panjang di rumah sakit, hilang kesempatan berkarier, dan harus minum obat banyak terus menerus padahal dia sangat sibuk. Bahkan sekarang malah menjadi beban bagi keluarganya.

Faktor risiko

Hal di atas dapat terjadi karena kita tidak menyadari faklor-faklor risiko yang ada pada diri kita, dan akhirnya faktor risiko tersebut menyebabkan timbulnya penyakit. Apa saja faktor risiko yang dikenal? Di antaranya adalah

  • Usia di atas  35 tahun
  • Jenis kelamin
  • Riwayat penyakit hipertensi, diabetes, kolesterol, trigliserida, asam urat
  • Kebiasaan merokok & Alkohol
  • Pola hidup yang kurang baik, sering tidur larut malam/kurang istirahat, stress
  • Kurang olah raga
  • Kegemukan atau obesitas
  • Riwayat keluarga atau genetik
  • Kelainan darah/pembuluh darah

Faktor risiko tersebut ada yang bisa dimodifikas/diperbaiki dan ada yang tidak bisa dimodifikas/diperbaiki. Hal-hal seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetik, tentu saja tidak dapat dimodifikasi.

Oleh sebab itu sebaiknya kita waspada dengan antisipasi untuk menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan dini untuk menghindari munculnya penyakit.

Pemeriksaan dini juga bermanfaat untuk mengenali lebih dini hal hal seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, trigliserida, asam urat, pola hidup, dll. Hal hal yang tidak baik terhadap tubuh seperti merokok dan pola kebiasaan merokok & alkohol pola hidup yang kurang baik, sering tidur larut malam/kurang istirahat, stress, kurang olah raga, kegemukan atau obesitas juga sebaiknya dihindari.

Sering kita tidak menyadari faktor tersebut sudah bersemayam di dalam tubuh, karena tidak semua membuat gejala yang tampak. Serangan jantung dan penyakit jantung tidak salalu disertai gejala. Berbeda dengan pilek, batuk yang langsung memberikan gejala, faklor risiko di atas sering tidak memberikan gejala, jadi kita tidak menyadarinya, merasa sehat-sehat saja, tetapi sebenarnya di dalam tubuh sudah banyak faklor risiko yang berkembang.

Medical Check-Up untuk Jantung

Itulah pentingnya kita melakukan pemeriksaan dini atau Medical Check-up, agar dapat mengetahui faktor risiko apa saja yang ada di tubuh kita, agar cepat dapat diketahui dan ditangani. Medical Check-Up juga dapat membantu mengenali lebih dini penyakit yang tidak memberikan gejala, sehingga dapat di intervensi sedini mungkin. Intervensi dini bermanfaat selain mencegh keparahan, juga berbiaya lebih murah, tidak menyebabkan habis waktu yang lama untuk pengobatan.

Dengan melaksanakan Medical Check Up secara berkala, minimal satu tahun sekali, kesehatan kita akan dapat termonitor dengan baik. Dengan kesehatan yang baik, semua kesibukan dan acara penting yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya, akan dapat berlangsung dengan sukses.

Jadi, sebaiknya jangan tunda untuk melakukan check-up, sayangi hidup dan karier Anda. Hanya kita yang dapat menjaga diri kita sendiri.

Prodia OHI International

Di Prodia Occupational Health Institute (OHI) International, berbagai jenis pelayanan untuk pemeriksaan kesehatan yang sangat lengkap sesuai kebutuhan perusahaan dan pekerja anda, telah kami siapkan. Klien kami diperiksa oleh Tim medis yang terdiri dari Dokter Ahli di bidang kesehatan kerja (Occupational Health) dan Dokter-Dokter Ahli lain yang ditunjang dengan peralatan- peralatan laboratorium dan diagnostik yang mutakhir.

Untuk mengadakan pelayanan kesehatan karyawan yang lebih mudah, dengan besar biaya yang terjangkau, dan dengan tetap memperhatikan mutu pelayanan, kami akan memberikan pelayanan yang komprehensif, terintegrasi dan holistik sesuai dengan kebutuhan anda dan perusahaan anda.

Dunia kerja adalah tempat dimana anda menghambiskan hampir sepertiga waktu anda setiap hari. Itulah sebabnya kami mengajak anda semua untuk peduli dan menyayangi jantung anda sebagai sebuah bagian tak terpisahkan. Prodia Occupational health Institute: “For Holistic and Comprehensive Occupational Health Solution” adalah solusi tepat dan kami siap melayani Anda.

VIRUS ZIKA PADA PEKERJA

Jumat, Maret 4th, 2016

Dr. Nia Widyanti

 

Pendahuluan

Pada tanggal 3 Februari 2016, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menngeluarkan travel advisory dalam rangka melindungi masyarakat Indonesia terhadap kemungkinan tertular penyakit yang bersumber dari virus Zika. Langkah yang dilakukan untuk mencegah kemungkinan masuknya virus dari luar negeri dilakukan dengan cara meningkatkan kewaspadaan jalur masuk negara melalui intensitas lalu lintas barang dan manusia lintas negara Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh bandara dan pelabuhan di Indonesia.  Upaya lainnya adalah dengan meningkatkan pelayanan bidang di fasilitas-fasilitas Kesehatan.

Negara-negara yang mengalami KLB(Kejadian Luar Biasa) virus Zika, yaitu Brazil, Cape Verde, Colombia, El Savador, Honduras, Martinique, Panama, dan Suriname. Sedangkan negara-negara yang memiliki status transmisi aktif, yaitu: Barbados, Bolivia, Curacao, The Dominican Republic, Ecuador, Fiji, French Guiana, Guadalope, Guatemala, Guyana, Haiti, Meksiko, New Caledonia, Nicaragua, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Samoa, Tonga, US Virgin Islands, dan Venezuela.

Pada tanggal 1 Februari 2016, WHO (World Health Organization)  mengumumkan status Public Health Emergency of International Concern mengingat penyebaran virus Zika ini sudah lintas negara.

Hingga saat ini lembaga Eijkman mencatat ada lima kasus Virus Zika di Indonesia, yaitu:

  1. Tahun 1981 dilaporkan ada satu pasien di Rumah Sakit Tegalyoso Klaten;
  2. Tahun 1983 dilaporkan ada enam dari 71 sampel di Lombok NTB;
  3. Tahun 2013 dilaporkan ada seorang turis perempuan dari Australia positif terinfeksi virus Zika setelah sembilan hari tinggal di Jakarta;
  4. Tahun 2015 dilaporkan ada seorang turis dari Australia terinfeksi virus Zika setelah digigit monyet di Bali
  5. Tahun 2015-2016 Lembaga Eijkman melaporkan seorang pasien di Provinsi Jambi positif terinfeksi virus Zika. Isolasi virus pertama kali dilakukan di Indonesia. Pemeriksaan ini diawali dengan tingginya kasus penyakit DBD di Jambi sehingga dilakukan pemeriksaan terhadap 103 sampel darah pasien DBD pada salah satu rumah sakit swasta di Jambi.

Epidemiologi

Virus Zika pertama kali ditemukan pada tubuh monyet di Hutan Zika, Uganda pada tahun 1947 dan pada tahun 1952 ditemukan pada tubuh manusia. Virus Zika merupakan spesies virus dari familia flaviviridae genus flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang juga dikenal sebagai vektor DBD, Chikungunya  dan Yellow Fever menggigit pada pagi dan sore/malam. Nyamuk tersebut hidup di genangan air bersih di wilayah tropis  dan sub tropis.

Penularan

Infeksi virus ini berawal dari seseorang yang  telah terjangkit virus Zika. Kemudian nyamuk menghisap darah dan membawa virus zika. Nyamuk yang sudah membawa virus Zika tersebut menularkan pada orang lainnya dengan cara menggigit orang yang belum terinfeksi virus Zika. Nyamuk merupakan vektorr perantara terbanyak, namun penularan juga dimungkinkan terjadi melalui transfusi darah, dari ibu hamil ke janin, hubungan seksual bahkan melalui cairan tubuh seperti air mani, air liur dan urin.  Masa inkubasi virus Zika sampai saat ini masih belum jelas.

Faktor Risiko dan Komplikasi Virus Zika

Selama wabah besar di Polinesia Perancis dan Brasil dilaporkan adanya potensi komplikasi neurologis dan penyakit auto-imun. Di Brazil baru-baru ini telah mengamati adanya peningkatan sindrom Guillain-Barré yang bertepatan dengan infeksi virus Zika pada masyarakat umum dan juga ditemukan peningkatan bayi yang lahir dengan mikrosefalia dengan kelainan yang tampak adalah penurunan kognisi atau kecerdasan dan kelemahan seluruh otot tubuh. Akibatnya, anggota gerak akan lumpuh, kaku, dan sulit digerakkan. Meskipun hingga saat ini belum didukung oleh penelitian yang akurat. Faktor risiko infeksi virus zika adalah ibu hamil dikarenakan rentan melahirkan janin dengan kondisi mikrosefalia.

Gejala

Tanda dan gejala yang sering dikeluhkan oleh penderita adalah demam, sakit kepala, ruam pada kulit , konjungtivitis, nyeri otot, nyeri sendi, malaise, dan sakit kepala. Gejala-gejala ini biasanya ringan dan berlangsung selama 2-7 hari.

Infeksi virus Zika dapat diduga berdasarkan gejala dan riwayat (misalnya tinggal atau perjalanan ke suatu daerah yang terdapat virus Zika).

Diagnosis

Diagnosis virus Zika hanya dapat dipastikan dengan tes laboratorium RNA virus Zika dalam darah atau cairan tubuh lainnya, seperti air seni atau air liur. Virus Zika terdeteksi pada cairan sperma setelah virus tersebut tidak lagi terdeteksi pada darah.

Dalam mendiagnosis adanya penyakit ini, maka penting diketahui riwayat perjalanan pada daerah yang terdapat virus zika, transfusi darah, penularan dari ibu hamil ke janin, hubungan seksual, melalui cairan tubuh seperti air liur dan urin.

Tatalaksana

Penyakit virus Zika biasanya relatif ringan dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Orang yang menderita  virus Zika harus banyak beristirahat, minum cukup cairan, dan mengobati rasa sakit dan demam dengan obat-obatan umum. Jika gejala memburuk, mereka harus mencari perawatan medis.  Sampai saat ini tidak ada vaksin yang tersedia.

Pencegahan
Tempat perkembang biakan nyamuk menimbulkan faktor risiko yang signifikan untuk infeksi virus Zika. Pencegahan dan pengendalian mengandalkan mengurangi nyamuk melalui pengurangan sumber dengan cara  Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu:

  1. Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain
  2. Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan sebagainya
  3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular virus Zika.

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan, seperti:

  • Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan
  • Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk
  • Menggunakan kelambu saat tidur
  • Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Sebagai tambahan :

  • Mengenakan pakaian (sebaiknya berwarna terang) yang mencakup sebanyak tubuh bila memungkinkan (baju dengan lengan panjang dan celana atau rok panjang, sepatu boot dan juga kaos kaki)
  • Menggunakan penghalang fisik seperti layar jendela
  • Pintu tertutup dan jendela
  • Tidur di ruangan ber AC
  • Jika diperlukan perlindungan pribadi tambahan, seperti tidur di bawah kelambu di siang hari.
  • Obat anti nyamuk harus mengandung DEET (N, N-dietil-3-methylbenzamide), IR3535 (3- [N-asetil-N-butil] acid -aminopropionic etil ester) atau picaridin (1-piperidinecarboxylic asam, 2- (2-hidroksietil) -1-methylpropyl ester) dengan petunjuk label produk harus diperhatikan. Perhatian khusus dan bantuan harus diberikan kepada mereka yang mungkin tidak dapat melindungi diri mereka sendiri secara memadai, seperti anak-anak, orang sakit atau tua.
  • Disarankan untuk  penyemprotan insektisida pada lingkungan.
  • Pengunjung pada daerah yang terdapat virus Zika sebaiknya memproteksi diri dengan tindakan pencegahan dasar untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Virus Zika pada pekerja

Beberapa kebijakan  perusahaan yang ditujukan kepada pekerja menghindari virus zika adalah :

  • Komunikasi / Edukasi karyawan. Edukasi karyawan tentang risiko dari perjalanan ke daerah yang dilaporkan terjadi penyebaran virus zika, gejala kemungkinan Zika (demam, ruam, nyeri sendi, dan mata merah), cara penularan (nyamuk, transfusi darah, dan kontak seksual), dan tindakan pencegahan yang tepat untuk menghindari infeksi virus tsb.
  • Para karyawan / pekerja yang berkunjung pada daerah yang terdapat virus zika agar dapat memproteksi diri dengan tindakan memakai pakaian tertutup (baju lengan panjang, celana panjang, sepatu boot juga kaos kaki). Usahakan tidur dengan kelambu dan ruangan ber AC, memakai obat anti nyamuk (dapat dioles pada kulit, juga dapat disemprot pada ruangan).
  • Pada ibu hamil sebaiknya menghindari daerah yang telah ditemukan virus zika.
  • Indonesia merupakan daerah tropis yang  banyak ditemukan nyamuk Aedes Aegypty, oleh karena itu lakukan gerakan pencegahan sesuai dengan pedoman umum diatas.
  • Untuk penyemprotan dan penanggulangan penyebaran nyamuk dan jentik dapat berkoordinasi dengan puskesmas setempat.

 

Sumber :

  1. WHO (2016) . “Zika Virus” WHO (World Health Organization). Di akses melalui situs http://www.who.int/mediacentre/factsheets/zika/en/
  2. Yuningsih,R (2016). “Mewaspadai Ancaman Virus Zika”. Diakses melalui situs http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info%20Singkat-VIII-3-I-P3DI-Februari-2016-82.pdf
  3. Monash University (2016). “ Zika Virus Outbreaks” . Diakses melalui situs https://www.monash.edu/ohs/news-and-health-alerts/health-alert/zika-virus-outbreaks.
  4. Young, N(2016). “Zika Virus: Appropriate Workplace Responses” Diakses melalui situs https://www.employmentmattersblog.com/2016/02/zika-virus-appropriate-workplace-responses/

DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA

Jumat, Maret 4th, 2016

Oleh : dr. Nia Widyanti

 

Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah suatu penyakit atau keadaan kesehatan yang diakibatkan oleh rutinitas pekerjaan atau lingkungan kerja. PAK dapat ditimbulkan dari berbagai faktor contohnya dari faktor pekerjaan itu sendiri, proses kerja, alat kerja yang dipakai, lingkungan kerja dan juga bahan yang dipakai untuk bekerja.

 

Dalam mendiagnosa PAK harus dilakukan 7 langkah diagnosis yang menjadi pedoman. Langkah langkah tersebut adalah :

Menentukan diagnosis klinis

Dalam mendiagnosis suatu penyakit harus melalui beberapa tahapan yaitu:

  • Anamnesis, yang terdiri dari keluhan utama, riwayat perjalanan penyakit saat ini, riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat reproduksi wanita ditanyakan kepada pasien secara lengkap dan mendetail. Suatu anamnesis dapat dilakukan secara autoanamnesis (secara langsung pada pasien) atau pada keluarga, teman kerja dll (alloanamnesis).
  • Pemeriksaan fisik, dilakukan untuk menentukan kelainan suatu sistem atau organ tubuh dengan menggunakan 4 cara yaitu inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk) dan auskultasi ( mendengar menggunakan alat stetoskop). Pemeriksaan fisik khusus juga dilakukan  pemeriksaan tanda vital seperti nadi, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, status gizi dan tingkat kesadaran juga diperiksa secara detail.
  • Pemeriksaan penunjang, juga dilakuakn untuk memperkuat diagnosis yang dihasilkan dari pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan laboratorium (darah, urin, feses dll) spirometri, audiometri, rontgen, USG, EKG dll.

Menentukan Pajanan

Merupakan faktor risiko atau bahaya yang ada di tempat kerja. Bahaya potensial yang dapat menyebabkan PAK dibagi menjadi :

Faktor Fisik

  • Kebisingan (>85db)
  • Suhu panas
  • Suhu dingin
  • Radiasi bukan pengion yang termasuk didalamnya adalah gelombang mikro, infra red, medan listrik , dll
  • Getaran lokal
  • Getaran seluruh tubuh
  • Ketinggian

Faktor Kimia

  • Debu anorganik (contoh debu silika, debu semen, dll)
  • Debu organik seperti kapas, textil, gandum
  • Asap
  • Bahan kimia berbahaya seperti logam berta, pelarut organik, iritan asam/basa, pestisida, uap logam, dan cairan pembersih seperti amonia, klor, kaporit dll.

Faktor Biologi

  • Bakteri / virus/ jamur/ parasit
  • Darah dan cairan tubuh lain
  • Nyamuk / serangga lainnya
  • Limbah / kotoran manusia atau hewan

Faktor Ergonomi

  • Gerakan berulang dengan tangan
  • Angkat / angkut berat
  • Duduk lama > 4 jam terus menerus
  • Berdiri lama > 4 jam terus menerus
  • Posisi tubuh tidak ergonomis
  • Pencahayaan tidak sesuai
  • Bekerja dengan layar/ monitor 4 jam / lebih dalam sehari

Faktor Psikososial

  • Beban kerja yang tidak sesuai dengan waktu dan jumlah pekerjaan
  • Pekerjaan tidak sesuai dengan penegtahuan dan keterampilan
  • Ketidakjelasan tugas
  • Hambatan jenajang karir
  • Bekerja gilir (shift)
  • Konflik dengan teman sekerja
  • Konflik dalam keluarga

Menentukan hubungan antara pajanan dengan penyakit

Menentukan hubungan antara pajanan dengan penyakit dapat dilakukan berdasarkan evidence based  dan ditunjang dengan bukti yang ada.

Menentukan besarnya pajanan

Penentuan besarnya pajanan dapat dilakukan secara kuantitatif dengan melihat data pengukuran lingkungan dan masa kerja atau secara kualitatif dengan mengamati cara kerja pekerja.

Menentukan faktor peranan individu

Peranan individu yang dimaksud adalah faktor yang mempercepat terjadinya penyakit akibat kerja atau juga menurunkan kemungkinan penyakit akibat hubungan kerja yang seperti genetik atau juga kurang tertib dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Menentukan faktor lain diluar pekerjaan

Faktor lain yang dimaksud adakah pajanan selain di tempat kerja, faktor gaya hidup yang dapat menunjang terjadinya penyakit dll.

Menentukan diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Melalui beberapa tahapan diatas dapat dibuktikan bahwa minimal ada satu faktor pekerjaan yang berperan sebagai penyebab penyakit yang termasuk kategori PAK.

Tanpa 7 langkah diagnosis diatas, Penyakit Akibat Kerja tidak dapat ditegakkan. Sehingga pemeriksaan dari segala aspek lingkungan, penderita dan pajanan dapat saling berhubungan hingga dapat didiagnosis sebagai penyakit akibat kerja (PAK).

 

Sumber :

  1. Soemarko, DS. Pedoman Status Okupasi. Universitas Indonesia.
  2. Johnston, RT. Principles of diagnosing occupational diseases- special considerations to avoid “creating” an entity. Calif Med. 1958 Aug; 89(2): 117–120. Diakses melalui http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1512317/.
  3. Buchari. 2007. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja.   Diakses melalui http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf

Ergonomi Perkantoran

Selasa, Agustus 25th, 2015

Oleh :

dr. Indah

Ergonomi berasal dari kata Yunani, Ergos berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan. Jadi ergonomi adalah suatu aturan atau norma yang terdapat dalam sistem kerja. Ergonomi diperlukan karena setiap aktivitas atau pekerjaan yang tidak dilakukan secara ergonomi akan berakibat tidak nyaman, biaya operasional tinggi, kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meningkat. Akibatnya perfomansi  kerja menurun sehingga menyebabkan penurunan efisiensi dan daya kerja.

Manajemen ergonomi dapat diterapkan pada perkantoran untuk mencegah terjadinya berbagai keluhan kesehatan. Keluhan-keluhan yang sering muncul berkaitan dengan posisi kerja di kantor yang tidak ergonomi antara lain :

  1. Sakit kepala
  2. Mata kering dan terasa pegal (Dry eyes, asthenopia)
  3. Nyeri leher, neck stiffnes
  4. Spasme otot bahu, frozen shoulder
  5. Carpal Tunnel Syndrome; kesemutan, baal atau nyeri pada pergelangan tangan sampai dengan jari-jari tangan
  6. Sakit pinggang dan punggung bawah; Low back pain

Panduan bekerja di kantor secara ergonomi:
a. Posisi ergonomi menggunakan keyboard

Pekerja kantor yang menggunakan keyboard harus menjaga pergelangan tangan pada posisi yang benar, yaitu, antara tangan dengan bahu harus lurus. Tangan boleh lebih rendah daripada bahu, pergelangan tangan tidak boleh menggantung, keyboard harus diletakkan lebih rendah, serta tangan dijaga supaya lebih rendah dari siku. Lebih baik mempergunakan penyangga pergelangan tangan untuk menopang pergelangan tangan.

 

Gambar Posisi tangan yang benar pada keyboard

  • Beristirahat secara teratur setiap 15-20 menit dengan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan
  • Gunakan penyangga mouse dan atau keyboard untuk kenyamanan pergelangan tangan
  • Jangan menempatkan keyboard pada posisi lebih tinggi atau lebih rendah daripada siku tangan
  • Duduklah dengan tegak
  • Jagalah agar tangan selalu hangat

b. Ergonomi tubuh yang tepat dalam mengoperasikan komputer

Cara duduk yang benar dan baik serta posisi tangan pada saat menggunakan keyboard atau mouse harus sesuai.

  • Jarak Pandang antara mata dengan komputer minimal 60 cm
  • Pandangan antara mata ke monitor harus mengarah sedikit ke bawah atau sekitar 5-15° lebih rendah dari posisi horizontal pandangan mata
  • Usahakan menghindari pantulan lampu atau cahaya yang masuk ke monitor

  • Posisi tangan di atas keyboard harus membentuk sudut 90 derajat begitu juga kaki
  • Atur bangku sehingga posisi tangan menjadi sejajar dengan meja ketika menggunakan keyboard
  • Jangan menggunakan komputer tanpa henti lebih dari 2 jam. Usahakan untuk berdiri, dan melakukan peregangan pada bagian leher, bahu, tangan dan punggung. Berjalanlah sebentar secara periodik sebelum melanjutkan pekerjaan
  • Gunakan penyangga kaki bila diperlukan
  • Gunakan kursi yang dapat menyangga posisi punggung
  • Luangkan waktu setiap 20 menit untuk mengalihkan pandangan dari monitor dan melihat jauh, bisa melihat pepohonan atau lingkungan luar, atau beranjak dari tempat anda menggunakan komputer

NAPZA

Jumat, Juni 12th, 2015

Oleh :

dr.Yupi Gunawan

Pengertian

NAPZA merupakan akronim dari Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya yang merupakan jenis obat-obatan yang dapat mempengaruhi gangguan kesehatan dan kejiwaan.

NAPZA secara umum merupakan zat-zat kimiawi yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh baik secara oral (diminum, dihisap dan dihirup) maupun disuntik dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menimbulkan gangguan keadaan sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian yang panjang dan pemakaian yang berlebihan.

Jenis-jenis NAPZA

Menurut UU No. 22 Tahun 1997 tentang narkotika, narkotika dikelompokkan kedalam tiga golongan yaitu:

Narkotika, merupakan suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang menyebabkan penurunan dan perubahan kesadaran, menurangi dan menghilangkan rasa nyeri serta dapat menimbulkan ketergantungan secara fisik maupun psikologik.

Narkotika terbagi menjadi tiga golongan:

  • Narkotika golongan I adalah narkotika yang dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: heroin, kokain, ganja.
  • Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan, digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: morfin, petidin, turunan garam dalam golongan tertentu.
  • Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat dalam pengobatan yang banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan menyebabkan ketergantungan. Misalkan: kodein, garam-garam narkotika dalam golongan tertentu.

Carpal Tunnel Syndrome (Sindroma Terowongan Karpal)

Jumat, Juni 12th, 2015

Oleh:

dr. Jonathan Manuel , MKK

Kadang-kadang kita merasakan nyeri pada pergelangan tangan atau tangan bila digerakkan, kebas, kesemutan pada jari-jari kita. Hal ini disebabkan salah satunya oleh terjepitnya saraf di daerah pergelangan tangan. Di pergelangan tangan kita terdapat suatu terowongan kecil yang didalamnya dilalui oleh saraf medianus, saraf ini mempersarafi ujung ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan separuh sisi luar jari manis.

Keluhan ini dapat dialami oleh siapapun tidak memandang jenis kelamin dan pekerjaan, namun lebih banyak dialami oleh kaum perempuan, khususnya perempuan hamil karena secara anatomis terowongan tersebut lebih sempit pada perempuan, dan akan lebih sempit lagi pada perempuan hamil.

Sekarang ini dengan banyaknya jenis pekerjaan yang kita lakukan dengan menggunakan tangan (genggaman), banyaknya penggunaan motor, seringnya kita mengangkut belanjaan dalam kantung plastik misalnya dan banyak hal lainnya, menambah banyak faktor resiko kita terkena kelainan ini. Kita perlu menghindari posisi tangan yang aneh dan tidak ergonomis ini dalam waktu yang lama untuk menghindari terjadinya kelainan ini.

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terjadi pada waktu saraf medianus, tertekan atau tergencet di pergelangan tangan kita. Terowongan karpal merupakan suatu terowongan yang dibentuk oleh ligamen dan tulang serta otot. Kadangkala, penebalan atau pembengkakan dari otot di daerah itu menyebabkan terowongan mengecil dan akhirnya menjepit saraf medianus. Hasilnya adalah nyeri, rasa lemas, atau kebas di tangan dan pergelangan tangan yang menjalar ke lengan. CTS merupakan kelainan saraf terjepit yang umum terjadi.